Pada awal tahun 2018 lalu, saya pergi ke Shibuya, Tokyo. Sebelum pergi, tour guide saya berkata pada semua anggota tur dengan aksen melayunya. “Kita akan ke pergi ke tempat penyebrangan tersibuk di dunia. Banyak turis mancanegara pergi ke tempat tu, banyak tempat shopping la buat ibu-ibu, ada patung hachiko juga disana, tau kan patung hachiko? Karena tempat itu sangat famous, tempat itu jadi salah satu icon dan objek wisata di Jepang yang wajib dikunjungi. Belum datang ke Tokyo kalau belum pernah ke Shibuya.”


Maklum, saya orang awam, bingung dan berpikir, “Segitunya banget ya? Emang apa yang bikin beda dan spesial sampai orang-orang berpikir seperti itu?”


Advertisement

Sesampainya disana, saya terkejut dan terpesona dengan melihat begitu banyaknya orang yang berkumpul hanya di satu tempat. Well, tempat penyebrangan lebih tepatnya. Saat itu, tanggal 2 Januari 2018, yang berarti masih merupakan tanggal liburan sehingga menjadikan tempat tersebut sangat ramai. Saya pun melakukan research di Google tentang tempat ini.

Ternyata, menurut cityclock.org, pada jam-jam sibuk, sebanyak 2.500 orang pejalan kaki melintas di persimpangan Shibuya setiap kali tanda lampu berubah. Dan setiap tiga puluh menit, jumlah orang yang melintasi persimpangan tersebut dapat mengisi penuh stadion sepakbola dengan kapasitas untuk 45.000 orang. Gila bukan?

Di luar itu semua, Shibuya merupakan tempat berkumpulnya anak muda Jepang. Oleh karena itu Shibuya dianggap sebagai pusat acara yang berorientasi pada kepemudaan dan tempat lahirnya budaya fashion terbaru. Hal tersebut menjadikan Shibuya menjadi tempat yang unik. Pada saat di sana, saya melihat dua orang perempuan remaja berdiri menunggu di tengah alun-alun dekat Stasiun Shibuya, dengan membaca karton bertuliskan free hugs (pelukan gratis). Saya yang tidak pernah melihat hal seperti itu langsung menghampirinya dan memberinya pelukan. Saya bersama adik saya memintanya untuk berfoto sebagai kenang-kenangan.

Advertisement

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat pertunjukan kecil yang dikerumuni orang banyak. Saya penasaran dengan apa yang dilihat orang-orang. Awalnya, saya tidak mengerti apa yang mereka katakan karena semuanya memakai bahasa jepang. Maka dari itu, saya meminta tour guide saya untuk menerjemahkan apa yang mereka katakan. Ternyata, dalam pertunjukan tersebut terdapat tantangan kepada orang-orang yang menonton untuk menjadi lawan dalam arena dorong-dorongan.

Peraturannya, si penantang dan yang ditantang hanya boleh mendorong dengan mengangkat sebelah kaki. Hebatnya, pada saat saya menonton, tidak ada satupun orang yang mampu mendorong orang tersebut sampai jatuh. Alih-alih menjatuhkan si penantang, malah penontonnya yang jatuh akibat tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya yang hanya ditopang sebelah kaki.


Menurut cerita, Shibuya merupakan lokasi sebuah kastil tempat keluarga Shibuya tinggal dari abad 11 yang melalui zaman Edo (tripjepang, 2018). Pada tahun 1885, di Shibuya mulai dibangun stasiun kereta api untuk daerah Tokyo Barat


Daya yang selanjutnya menjadi pusat utama komersial dan hiburan, setelah pembukaan jalur Yamanote. Pada tahun 1909, Shibuya bergabung dengan kota tetangganya yakni Sendagaya dan Yoyohata membentuk Shibuya Ward dan menjadi bagian dari Kota Tokyo pada tahun 1932. Selama pendudukan Jepang, salah satu taman terbesar di Tokyo, yakni Taman Yoyogi, digunakan sebgai tempat tinggal personil AS yang dikenal sebagai Washington Heights. Pada tahun 1964, sebagian besar taman tersebut dipindahkan sebagai tempat Olimpiade Musim Panas tahun itu.

Sejak tahun 1980-an, Shibuya sudah populer di kalangan remaja. Sudah ada beberapa toko yang didirikan, salah satunya adalah Shibuya 109, yang merupakan pusat perbelanjaan utama di dekat Stasiun Shibuya, yang terkenal dengan asal mula subkultur Kogal. Di akhir 1990-an, Shibuya dikenal sebagai pusat industri Teknologi Informasi di Jepang yang dikenal dengan sebutan Bit Valley yang merupakan terjemahan harfiah dari Shibuya.


Di sebelah kiri gerbang keluar stasiun Shibuya, terdapat patung Hachiko.


Pastinya, anda pernah mendengar kisah mengharukan anjing yang bernama Hachiko setidaknya satu kali bukan? Jika belum, Hachiko merupakan seekor anjing akita yang lahir di perkebunan dekat kota Odate, Jepang. Ia terkenal akan kesetiaannya yang menunggu majikannya pulang selama lebih dari sepuluh tahun. Nerdomads.com menceritakan kisah Hachiko dari awal ia lahir sampai dijadikan patung untung mengenangnya.

Awal kisahnya dimulai ketika salah seorang profesor ilmu pertanian di Universitas Tokyo, Eizaburo Ueno, yang sangat menginginkan seekor anjing akita asli Jepang. Dia sudah lama mencari seekor anjing akita yang tepat untuk dipelihara. Sampai suatu hari, salah satu muridnya menyarankan untuk mengadopsi anjing bernama Hachiko tersebut. Singkat cerita, mereka menjadi sangat dekat dan tidak terpisahkan.

Saat Hachiko tumbuh, dia setiap hari mengantar majikannya ke Stasiun Kereta Shibuya untuk bekerja dan menjemputnya lagi pada sore hari ketika ia kembali dari tempat kerjanya. Pada satu sore, dua tahun setelah kelahirannya, Hachiko seperti biasa duduk menunggu majikannya di gerbang keluar Stasiun Kereta Shibuya. Akan tetapi, majikan yang senantiasa ditunggunya tidak pernah muncul. Ternyata, Eizaburo menderita pendarahan otak dan meninggal mendadak saat sedang bekerja. Setelah itu, Hachiko pun pindah ke mantan tukang kebun keluarga Ueno.


Namun, ia tetap pergi ke Stasiun Shibuya setiap pagi dan sore tepat pada waktunya, menunggu majikannya, yang tidak akan pernah kembali.


Pada tahun 1932, salah satu surat kabar ternama di Jepang mengangkat dan menerbitkan kisah Hachiko, yang membuat Hachiko menjadi selebriti di seantero Jepang. Kisahnya mendapat banyak perhatian di media nasional dan menginspirasi banyak orang dari seluruh dunia untuk mengunjungi Hachiko di Stasiun Shibuya untuk memberinya makanan.

Pada tahun 1934, diresmikan patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya–tempat dimana Hachiko menunggu majikannya–untuk mengenang rasa ketulusan dan sifat pantang menyerahnya. Hachiko pun mati dengan tenang di jalan dekat Stasiun Shibuya pada 8 Maret 1935. Sekarang, Hachiko menjadi salah satu benda hiasan di National Science Museum di Ueno, Tokyo. Sayangnya, waktu itu saya tidak sempat kesana karena alasan waktu. Kisah hidup Hachiko juga diangkat menjadi film Hollywood pada tahun 2009 berjudul “Hachi: A Dog’s Tale” yang diperankan oleh Richard Gere.

Sekarang, patung perunggu Hachiko menjadi salah satu objek wisata terkenal yang sering dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Untungnya, saya sempat melihat dan berfoto dengan patung perunggu Hachiko diluar Stasiun Shibuya. Banyak orang dari mancanegara mengantri untuk foto dengan patung anjing setia tersebut.

Pada saat saya mengantri untuk berfoto, bapak saya berkata “Ini patung jadi terkenal gara-gara filmnya yang dimainkan perannya oleh Richard Gere. Padahal faktanya tidak sedramatis dalam film. Hanya karena kisahnya diangkat oleh produser film Hollywood dan diperankan Richard Gere, makanya jadi terkenal”, tapi saya biarkan saja. Namun, ia tetap saja mengantri untuk berfoto, dengan alasan ‘demi anak-anak’. Lalu, setelah berfoto, kami pergi ke sebuah restoran untuk makan siang dan kemudian pergi ke bandara untuk pulang ke tempat asal, Jakarta.

Walaupun saya hanya menghabiskan beberapa jam di Shibuya, saya merasa puas dan senang. Bahkan, saya orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian, sangat menikmati Shibuya karena tempatnya yang unik dan aneh. Walau Shibuya terkenal dengan keramaian di tempat penyebrangannya, masyarakat sekitar tetap tertib pada aturan, dan tidak ada orang yang berebutan, yang membuat tempat tersebut terlihat rapih.

Hal tersebut mengingatkan saya pada Jakarta. Entah mengapa, saya jadi berpikir “Kalau Jepang yang populasinya termasuk sangat padat dengan lahan tanahnya yang tidak terlalu besar, mengapa Indonesia tidak bisa serapih Jepang?” Namun satu hal yang saya yakin, pengalaman perjalanan saya ke negeri orang, Jepang, pastinya tidak akan terlupakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya