Stigma Perempuan Merokok dari Kacamata Sosial

Peristiwa tulisan ini bermula, ketika pertemuan tidak sengaja saya dengan seorang wanita di sebuah warung makan tenda kaki lima dekat mal di kota Bogor. Kejadian ini terjadi satu bulan yang lalu, saya seorang mahasiswi yang sedang makan di tempat tersebut. Saya diperlihatkan dengan kondisi dua seorang perempuan merokok di tempat umum, jika dilihat perawakan dari perempuan itu tidak jauh berbeda dengan usia saya. T

Advertisement

erlihat satu perempuan berhijab, dan teman satu tidak berhijab. Peristiwa ini mungkin di kota besar sudah menjadi hal yang banyak ditemukan di tempat publik.Perilaku merokok yang dilakukan oleh perempuan tersebut membuat saya bertanya-tanya  dalam benak saya.

Apakah indikator merokok itu sebagai suatu hal yang membuat stigma merokok bagi perempuan itu disebut perempuan nakal? Di sini saya bukan perokok, namun saya mencoba melihat dari sudut pandang lain soal merokok bagi perempuan. Bermula dari rasa penasaran, saya beranikan diri untuk sedikit mengajukan pertanyaan dan analisa dengan tujuan untuk sedikit kepo terkait motif tentang kebiasaan merokok bagi perempuan. 

Berdasarkan hasil pertanyaan yang saya ajukan, fenomena perubahan sosial ini terjadi karena berbagai macam faktor, yakni faktor lingkungan dan faktor dari dalam diri mereka sendiri (perempuan perokok). Perempuan yang saya ajak bicara awalnya tidak pernah memiliki kebiasaan merokok, namun hal tersebut adanya pengaruh yang sudah saya sebutkan diatas.

Advertisement

Alasan perempuan yang saya ajukan pertanyaan, mengatakan bahwa ia merokok salah satu cara untuk pengalihan dari masalah yang sedang ia alami. Menurut pengakuannya, ia merasa lebih lega ketika merokok. Setelah saya cari tahu menurut sumber dari jurnal rasa tenang ini dihasilkan oleh peningkatan dopamin yang berlebihan, efeknya dapat memberikan rasa tenang, bahagia, dan senang saat menghisap rokok.

Selain itu, saya dibuat sedikit tercengang dengan teman perempuan berhijab tak mau kalah ia sibuk menghisap rokok yang sedang ia pegang. kondisi ini saya tidak bisa membayangkan adanya stigma buruk dari masyarakat tentang perempuan perokok berhijab, dan terkadang perempuan perokok terkadang mendapatkan diskriminasi oleh lingkungan sekitarnya.

Advertisement

Setelah saya mengajukan pertanyaan, saya dan kedua perempuan tersebut berpisah, dan saya melanjutkan untuk melaksanakan salat yang kebetulan memang warung kaki lima tersebut bersebelahan dengan masjid, dan tidak disangka saya bertemu dengan kedua perempuan perokok yang baru saja saya temui di warung tenda kaki lima.

Saya bertemu dengan kedua perempuan perokok tersebut ditempat wudhu perempuan. fenomena ini membuat saya sadar apapun yang orang lain lakukan walaupun itu negatif sekalipun dimata banyak orang, belum tentu mencerminkan sisi negatif yang ada pada dirinya.

Saya juga percaya perihal merokok bagi perempuan pasti banyak pro dan kontra, namun saya juga akan marah dengan seorang yang melakukan kegiatan merokok di depan ibu hamil, di depan bayi, atau merokok di tempat yang jelas memang tidak layak untuk merokok contohnya ruangan ber-AC. hal tersebut jelas melanggar aturan perokok, baik laki-laki ataupun perempuan. 

Penjelasan tersebut membuat pandangan baru bahwa sejatinnya alasan perempuan merokok tidak melulu karena ingin dipandang keren, atau gaya. Namun, lebih kepada kenyamanan mereka dan cara mereka mengalihkan permasalahan yang sedang mereka hadapi. oleh karena itu, kita tidak bisa langsung menyalahkan atau mendiskreditkan perempuan  perokok itu nakal, karena kita tidak memahami apa yang sebenarnya mereka alami dan alasan dibalik mereka melakukan itu. 

Bogor, 21/07/2022

#coretannnovi

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Biarkan rasa ini tersampaikan melalui karya, semoga kau membacanya

Editor

Penikmat buku dan perjalanan

CLOSE