Don’t grow too fast”


Entah berapa kali aku mengulang doa ini setiap anak-anakku berulang tahun. Aku bahkan memohon lebih keras saat mereka sudah memasuki bangku kuliah. Perlahan namun pasti, genggaman yang dulu begitu erat mulai merenggang semakin jauh dan jauh. Entah waktu, kesibukan, atau duniaku dan dunia anakku yang telah berbeda mungkin tepatnya terpisah.

Advertisement

Aku pernah menyuapi mereka makanan, lalu kini mereka bahkan seharian tak makan di rumah. Aku pernah mengangkat mereka saat terjatuh, namun kini ceritanya lebih perih mendengar mereka jatuh dalam bidang pendidikan pun hati. Aku pernah mengantar mereka sekolah, tetapi kini aku berharap sebulan sekali mereka bisa mengantarku berbelanja. Aku pernah menguasai segala hal dalam kehidupan mereka. Ketergantungan mereka padaku membuatku lelah, namun kini aku sangat merindukan mereka mencari baju seragamnya yang hilang padaku.

Aku merelakan mereka pergi karena tahu, hidup sesungguhnya tidak akan mengajarkan apa-apa jika terus berada di zona nyaman denganku, walau saat ini aku menatap makanan yang kumasak dingin dan tak ada lahapan kelaparan dari anak-anakku. Kursi meja makan mungkin bisa rapuh jika aku tidak bergiliran menggunakannya setiap hari.

Aku menangis saat mereka melambaikan tangan padaku, bukan karena aku bersedih, aku sebenarnya tak rela buah hatiku kesulitan di negeri perantauan tanpaku. Sedikit egois dengan memikirkan diriku yang pada akhirnya harus menikmati sore sendirian di teras rumah. Apalagi hujan yang dingin, sering menusuk hingga tubuhku kedinginan dan besoknya jatuh sakit. Aku tahu mereka sangat ingin kembali ke rumah saat jatuh sakit di negeri perantauan agar dapat kurawat, tapi tahukah mereka aku takut hariku-hariku berakhir tiba-tiba tanpa meilhat mereka.

Advertisement

Aku tahu sejak anak-anakku lahir, suatu saat ini akan terjadi. Kuharap tahap dewasa membuat kalian tidak pergi begitu lama hingga melupakan rumah dan isinya. Bukan kalian saja yang memilki kenangan indah tentang rumah yang akan selalu kalian rindukan untuk pulang, tetapi aku (mama) juga.

Berharap kalian masih mengingat pulang saat suaraku tak mampu lagi meminta untuk kalian kembali, atau kakiku tak mampu lagi untuk mengejar jejak kalian, bahkan tanganku yang tak mampu menarik kalian lagi masuk ke dalam pelukan hangat. Peluk rinduku untukmu yang sedang berjuang keras untuk duniamu. Kuharap masa-masa indah bersama kita tak sebatas kenangan saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya