[CERPEN] Suddenly, Keajaiban yang Tidak Aku Inginkan

Siapa yang tidak menginginkan keajaiban? Tapi ada satu keajaiban yang paling tidak aku inginkan, Untuk saat ini.

Marsha menoyor kepalaku setelah mengambil handphone yang sebelumnya ada digenggamanku, aku langsung merubah posisi menjadi berbaring. Aku hanya menatap kosong langit-langit kamar yang sengaja ku beri warna biru muda, sedangkan Marsha masih asik menggulirkan layar handphoneku tanpa suara. Tak lama kemudian Marsha menoleh kearahku dengan tatapan yang sinis beberapa detik.

Advertisement

“Kan sudah aku beri tau, dia gak akan datang lagi!”. Sambarnya cepat dengan nada yang lebih tinggi.

Marsha melempar handphone-ku ke sisi tempat tidur yang kosong, posisinya yang tengkurap kini berubah posisinya menjadi berbaring sama sepertiku. Menatap langit kamar adalah kebiasaanku beberapa bulan belakangan ini setelah satu hal terjadi dalam hidupku, menatap kehampaan jadi pelarianku. Sebenarnya aku tidak mau mengakui hal ini namun rasanya aku tidak mau berpura-pura lagi.

“Arum, kamu masih punya perasaan sama dia?”. Kini nada Marsha berubah drastis dan menatap wajahku dengan ragu.

Advertisement

Percayalah Marsha sahabatku, aku juga ragu dengan perasaanku sendiri.

7 tahun yang lalu tepatnya pada saat aku menginjak kelas 2 SMP. Tahun di mana aku bertemu dengannya, disebuah kelas yang sepi karena  masih sangat pagi. Pada ajaran baru setiap kelas mendapat teman kelas yang baru, dari sana aku mengenalnya. Dengan tubuh tinggi, rambut yang keriting dan warna kulit yang kecoklatan memang membuatnya sedikit kumal. Tapi, sejak saat itu aku berpikir kita mulai membangun sebuah persahabatan.

Advertisement

Pada saat jam istirahat kita tidak memilih untuk keluar dari kelas, dan aku juga sedikit benci keramaian tapi aku tidak tau sama sekali alasanmu. Karena menurutku kamu adalah orang yang paling tidak bisa aku tebak sama sekali, seperti hari itu, kamu memilih menemaniku di kelas yang hampir semua pelajarnya pergi mencari sumber makanan. Topik pembicaraan yang tiba-tiba saja kita bahas adalah soal hantu.

“Dulu, aku pernah tidur sama pocong!”. Nada suaranya sedikit meninggi dan matanya terbelalak lebar.

“Terus?” Tanyaku menunggu kelanjutan ceritanya.

“Dia menyamar menjadi guling, jadi kamu kalau tidur harus hati-hati” Kali ini nadanya seperti memperingatkan.

“Apaan sih” Karena sedikit merasa takut aku mencubit lengannya.

Aku masih saja diam, memilih mendengar kehampaan ketimbang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Marsha. Aku mulai mengingat kembali kenangan-kenangan yang pernah terjadi, kenangan yang sempat pudar dalam ingatan tapi dengan mudahnya muncul kembali setelah tenpa sengaja melihat postingannya yang muncul di News Feed milikku. Entah mengapa jemariku malah menekan namanya istagramnya yang langsung mengantarkanku pada gallery yang berisi semua aktivitasnya, aku sedikit mengerti kenapa dirinya sulit dilupakan.

“Selama ini, kamu masih punya perasaan sama dia? Sudah lama berlalu loh, Rum!”. Marsha mencoba menasehati.

Tahun ajaran sudah berakhir, dan tak terasa ini waktunya berpisah. Dirinya melanjutkan hidupnya yang baru dan aku juga harus melanjutkan hidupku, tapi ada hal yang sempat membuatku ingin waktu kembali kebelakang disaat aku bertemu dengannya.

“Aku suka sama kamu dari awal kita ketemu” Dia mengungkapkannya sebelum kita berpisah, sebelum kita sama-sama mencari jalan masing-masing.

Jujur aku pun sangat mencintainya pada saat itu, bahkan dia adalah laki-laki yang paling aku dambakan. Namun sayangnya keadaan malah membuat kita berpisah, alasan yang masih membuatku bingung dan keheranan karena aku yang memutuskannya. Mungkin aku sekarang bisa mengerti bahwa saat itu emosiku masih belum stabil. Lalu kita berpisah, dipisahkan sekolah yang berbeda dan harapan yang berbeda.

Namun pada suatu ketika dirinya menghubungiku, jangan tanya perasaanku seperti apa. Kita dekat kembali walau tak saling mengisi, tapi usahaku tak berhenti masih kucoba untuk memperbaiki apa yang salah dengan diri ini. Tapi semuanya tidak semudah itu, tapi semuanya malah menjadi cinta yang ku pendam sendiri.

“Sudah 4 tahun yang lalu sejak terakhir kali aku melihatnya, sebenarnya aku sangat menunggu kapan pertemuan itu akan terjadi lagi. Tapi, setelah diingat-ingat dia pernah memposting perempuan yang dia rangkul…”. Aku berhenti sejenak, terasa makin sepi perasaan yang sudah sepi.

Dirinya adalah laki-laki pertama yang datang kerumah, laki-laki pertama yang mengajakku makan di luar dan laki-laki pertama yang membuatku suka dengan Jepang. Dirinya juga yang memberitahukanku tentang 2 buah lagu Jepang yang sampai sekarang masih sering aku dengar; One Ok Rock dengan Wherever You Are dan Aqua Timez dengan Sen no Yoru wo Koete. Dan satu hal lagi, saat ulang tahunku yang ke 17 dia memberikanku sebuah kado boneka yang diwakilkan oleh temannya, yang kata temannya kamu tidak bisa memberikan karena berada diluar kota.

“Aku gak mau menunggu lagi, terutama menunggu seseorang yang sudah melanjutkan hidupnya. Mungkin sampai  disini saja, aku harus benar-benar hilangkan rasa ini”.

Handphoneku berdering, sontak aku langsung mencari sumber suaranya. Nomor yang tidak dikenal itu membuatku ragu untuk mengangkatnya, setelah beberapa detik berpikir aku pilih untuk tetap mengangkatnya.

“Hallo! benarkan ini Arum Melinda” Ucapnya dengan suara yang berat.

“Iya benar, ini siapa?”

“Ini teman lamamu, Rum. Eh nanti ada reuni, kamu mau datang?” Ajaknya.

“Tapi ini siapa ya?”

“Ini Zen..”

Jantungku berhenti berdetak saat sesorang yang baru saja aku pikirkan tiba-tiba saja hadir dengan tiba-tiba. Apakah ini adalah jawaban dari penantian, haruskah aku hadir pada acara itu yang bisa saja menumbuhkan kembali perasaanku yang sempat ku kubur dalam-dalam.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

This is me, with a random thought!

CLOSE