Mas, saya boleh cerita? Sudah 3 tahun saya diam saja, hanya memberi kode buta. Entah kamu peka atau tidak.

Saya jatuh cinta dengan kamu saat kelas 10 SMA. Tapi saya diam. Saya tidak mengira bisa setahan ini dengan perasaan yang gila itu. Saya mencintai kamu dengan kata marah. Saya membenci sikapmu, tapi sifatmu membuat saya luluh.

Advertisement

Kelas 11 SMA saya mengenal orang lain, saya berharap dia bisa membuat saya melupakanmu. Sayangnya tidak bisa. Kamu terlalu luar biasa untuk dilupakan.

Kelas 12 SMA saya tahu kamu punya pacar baru. Tapi saya tetap diam, memendam sendiri dan berkata saya baik-baik saja. Ada yang sedang mengetuk hati saya, namun saya belum siap membukanya. Masih ada kamu didalamnya.

Kini saya pergi, melanjutkan hidup di kota perantauan. Perlahan melupakan kamu, tapi masih terasa sulit. Ada banyak kegiatan untuk melupakanmu, tapi sistem otak saya seolah menolak untuk lupa denganmu. Kuliah saya baik-baik saja, tugas tetap menumpuk, rapat masih berlanjut, hangout kapanpun berangkat, dan kamu selalu nyempil dalam pikiran saya bagaimanapun kegiatannya.

Advertisement

Mas saya hanya ingin tanya, bagaimana bisa kamu nyangkut di hati dan otak saya? Maaf setelah sekian lama saya hanya berani bicara gak jelas seperti ini. Saya nggak minta apapun dari kamu, cukup kamu tahu dan jangan menjauh, karena kita sudah terpisah ratusan kilometer. Nggak perlu kamu atau aku menjauh kita juga udah jauh mas. Terima kasih sudah menjadi warna dalam hidup saya. Biarkan perasaan itu tetap ada untuk menjadi bagian cerita dalam hidup saya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya