Sungguh, Kamu dan Dia Tidak Akan Pernah Bahagia. Tuhan Akan Menghukum Kecurangan Kalian!

Hampir lama menjalani kesendirian, Adyl berkutat pada kesungguhannya menuntut ilmu. Ia tak terpikir untuk mengakhiri masa lajangnya, padahal banyak wanita seusia Adyl yang telah dimantapkan dan memantapkan pilihan dalam bahtera rumah tangga.

Adyl tak pernah risau akan kesendiriannya karena ia selalu menjalani hari-hari dengan kesibukan yang bermanfaat, Ia selalu menyebarkan kegembiraan untuk siapa saja yang menghiasi hidupnya. Siapa pun tak ada yang bisa menyangka jalan Tuhan, saat itu Adyl lah yang mendapat giliran dari Tuhan untuk dititipkan sebuah amanah. Muncul lah seorang pria yang akhirnya mampu melebarkan senyum dan merenyahkan suara tawa dari Adyl sejak kesendiriannya dua tahun lalu, pria itu adalah Reza.

Advertisement

Komunikasi semakin rutin dan pembicaraan juga semakin cair. Reza dan Adyl mampu menjalankan perannya dengan baik untuk mengenal pribadi masing-masing. Reza sosok pria yang penuh dengan keriangan dalam pengakuan bahwa ia seorang yang pendiam sebenarnya. Adyl pun mulai terbiasa mengikuti alur yang sedikit demi sedikit terus terbentuk.

Seminggu setelah perkenalan, Reza menawarkan waktu kosongnya untuk bertemu dengan Adyl setelah waktu cuti kantornya, karena ia harus pulang ke daerah asal di mana ia dilahirkan untuk mengikuti prosesi pernikahan si adik perempuan.

"Dyl, pekan depan setelah acara nikahan adikku di Semarang kita ketemu ya" Ajak Reza dengan spontan.

Advertisement

"Boleh. Kita ketemu di mana?" Respon Adyl.

"Jemput aku di stasiun ya, aku tiba di Jakarta pukul 10:00 pagi" Balas Reza.

"Okey kita ketemu di stasiun". Jawab Adyl.

Perkenalan mereka semakin manis setelah pertemuan itu, ditandai dengan hubungan yang mereka jalin. Hari demi hari dijalani dengan penuh tawa, minggu ke minggu mereka lalui dengan kebersamaan. Namun memasuki bulan ke-3 hubungan mereka mulai goyang. Tak lain dan tak bukan, ternyata salah satu dari mereka belum sepunuhnya cinta.

Jum'at sore Reza menemui Adyl yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya untuk memberi ucapan selamat dan melengkapi kebahagiaan Adyl. Di sela-sela perbincangan, Reza menjelaskan bahwa minggu malam ia akan pulang ke Semarang karena teman dekatnya akan menikah.

"Sayang, permohonan cutiku udah ACC. Minggu malem aku pulang ke Semarang untuk acara nikahan teman baikku. Sebenernya acara puncaknya di Padang pekan depannya lagi, tapi kayaknya kejauhan kalo harus ke Padang, jadi aku ikut acara yang di Semarang aja" Jelas Reza.

"Berapa lama kamu di Semarang? Okay, kabarin aja nanti selama di sana ya. Baik-baik kamunya, hati-hati. Yuk kita pulang, nanti kemaleman". Jawab Adyl.

Selepas makan, Reza mengantar pulang Adyl sampai rumah.

Minggu malam Reza berpamitan dengan mengirim pesan singkat untuk Adyl.

"Sayang, aku sudah sampe stasiun pasar senin ya. Lagi nunggu keretanya nih. Kamu jangan sampe nggak makan malem" Reza mengabari.

"Iya yaaaaang, kamu tiati di jalan ya, Bilang sama pak masinisnya! Kabarin aku kalau sudah sampe rumah besok pagi. Aku bobo duluan ya, besok harus bangun pagi buat urus dokumen di kampus". Balas Adyl.

Pukul 08:00 pagi Reza pun memberi kabar kepada Adyl.

"Sayaaaaang aku sudah sampe rumah. Lagi sarapan nasi pecel kesukaanmu nih, mau? Sini aku suapin" Reza mengusili Adyl.

"Alhamdulillah kamu udah sampe. Waaaahh curang pagi-pagi gini ditawarin nasi pecel, kamu mah jagonya bikin ngiler emang *ngences*" Jawab Adyl.

"Ahahah, sengaja mengen-mengenin kamu. Usilin kamu pagi-pagi, biar denger bawelnya kamu" Balas Reza. "Hari ini jadwalnya kemana sayang? Jalan-jalan ya? Seruuuu ih. Mau ikuuuutt. *manyun*" Adyl merengek.

"Aku nanti sore mau nemenin mamah yang" Balas Reza. "Oh, mau anterin mamah beli perlengkapan dedek bayi ya? *karena keponakan Reza dari kakak perempuan tertuanya baru lahir beberapa hari yang lalu*

"Iya mau anter mamah" Jawab Reza. "Okay, kamu tiati. Kabarin kalo udah mau berangkat".

Pesan terakhir Adyl pukul 15:00 tidak dibalas oleh Reza, hanya ada tanda ceklis.

Pukul 20:05 ketika Adyl masih di sebuah kafe dengan teman-temannya, Adyl pun memeriksa WhatsApp yang dikirim siang tadi untuk Reza, dan belum bertanda ceklis dua juga. Adyl pun mengirim SMS namun reportnya juga tidak ada, Ady mengirim pesan yang isinya:

"Kok anteng aja ya"? WA dan SMS yang sama untuk Reza.

"Kok feelingku nggak enak ya? WA terakhir nggak ceklis, ini SMS juga kok nggak received. Biasanya juga ngabarin kalo sudah berangkat, terus pesen hati-hati kalo aku berangkat kemana-mana. Ada yang nggak beres kayaknya nih". Adyl menerka.

Adyl pun berinisiatif bertanya pada adik Reza yang sudah berteman di social media.

"Liliiiiii.. Aku mau tanya, mas Reza kemana ya? Kok aku WA ceklis aja. Ada hal penting yang mau aku sampein nih" Adyl bertanya.

"Kata mamah sih dia bilangnya tadi mau ke rumah temennya". Lili membalas pesan Adyl di Instagram.

"Oh, ke rumah temennya ya? Ok deh lilii, makasih banyak ya sayang". *Tuh kan bener ada yang gak beres, Reza bohong sama gua*. Respon Adyl sambil menggerutu melihat jawaban dari Lili.

"Tadi pas aku sampe rumah juga udah nggak ada mas Rezanya, iya Mbak sama-sama". Lili menutup percakapan mereka.

Selang 45 menit Reza pun memberi kabar kepada Adyl.

"Sayaaaaaang aku baru aja sampe rumah, hpku lowbatt dari tadi" Reza memberi kabar.

"Dari mana kamunya emang?" Adyl bertanya pura-pura lupa. "Lha kan aku anterin mamah" Reza berbohong.

"Bo'ong!" Balas Adyl.

"Beneeeeerrrrraaann sayang, aku antar mamah tadi ke department store deket kampusku" Reza tetap berkilah.

"Bo'ong. Udah jujur aja, nggak usah bo'ong. Aku block ya kamu kalo tetep bohong!" Adyl sinis membalas.

"Emang apa yang kamu lihat? Kamu lihat aku jalan sama siapa?" Reza bertanya karena mulai khawatir indra ke-6 Adyl sepertinya berfungsi dan mengendus kebohongannya.

"Jujur nggak, atau kita sampe sini aja!" Adyl membalas.

"Maaf yang" Balas Reza.

"Bohong kan kamu?" Tegas Adyl.

"Iya yang" Reza menjawab singkat. "Nemuin siapa? Cewek? cowok? Jujur aja". Adyl bertanya.

"Cewek. Teman lamaku" Balas Reza.

"Kenapa harus bohong, kenapa nggak jujur sih? Ada apaan kamu sampe bela-belain bohong ke aku buat nemuin itu cewek?" Adyl menyecar.

"Cuma temen yang, nggak ada apa-apa aku sama dia. Temen aja" Reza balas meyakinkan.

"Siapa? Punya nama kan dia? Kamu tuh selalu bilang temen, temen tapi nggak pernah nyebut nama. Aku kalo kemana-mana izin dan bilang sama siapa, temenku jelas. Kamu pulang ke Semarang buat ketemu cewek itu?" Adyl memarahi Reza.

"Vita namanya. Nggak yang, temen deketku emang nikahan, sekalian ketemu Vita juga. Aku minta maaf" balas Reza singkat. "Siapa yang ngajak ketemuan?" Tanya Adyl.

"Dia duluan yang ngajak". Jawab Reza.

Reza pun meminta maaf atas kejadian tersebut, dan Adyl pun coba memaafkan Reza. Namun berhari-hari setelah kejadian tersebut, perasaan Adyl tetap tidak menentu, ia mulai meragukan Reza.

"Aku nggak tenang. Kepikiran kejadian kemarin" Adyl tiba-tiba mengirim pesan kepada Reza

"Ya Allah, yaaaang aku minta maaf. Maafin aku. Aku janji nggak akan kayak gitu lagi. Aku janji bakal terbuka sama kamu, kayak kamu ke aku. Kita ketemu ya pas aku sampe Jakarta, kita bahas ini. Biar lega kamunya". Reza menenangkan.

"Aku udah mikir beberapa hari ini, aku nggak apa-apa kok kalo kamu mau sama dia. Kamu sayang kan sama Vita?" Balas Adyl dengan Murung.

"Apaan sih kamunya yang, kok gitu sih ngomongnya? Nggak, aku cuma temen aja sama dia. Nggak ada apa-apa". Panik Reza.

"Tolong jujur, aku tau kamu sayang sama dia. Kalo emang iya aku nggak apa-apa. Aku bakal titip kamu ke dia, kalo emang kalian saling sayang. Boleh aku ngomong ke Vita? Karena kalo cuma temen, kamu nggak mungkin bohong sama aku" Adyl pasrah.

"Please jangan gitu ngomongnya yang. Nggak, buat apa kamu kontek Vita, Kamu mau ngomong apa ke Vita? Aku sayangnya cuma sama kamu, aku lebih siap kehilangan dia dari pada kehilangan kamu. Aku nggak ada apa-apa. Aku cuma temenan" Jawab Reza.

"Dulu kita juga gitu kan? Cuma temen. Apa bedanya dia sama aku? Tolong jujur, jangan ada yang diumpetin lagi. Aku cuma mau nitip kamu ke dia, aku mau ngomong itu" Pinta Adyl dengan sabar.

"Jujur, aku udah mulai suka sama Vita. Aku minta maaf yang. Tapi please jangan begini. Aku nggak siap kehilangan kamu". Reza menjelaskan rasanya.

"Hmmm.. Aku nggak apa-apa. Kamu baik-baik ya. Salam buat Vita".

"Yaaaang, kamu jangan gini dong. Kita bahas nanti ya pas akunya udah di Jakarta aja. Aku tahu kamu begini karena lagi panas. Tenangin diri dulu kamunya, jangan gegabah mutusin sesuatu. Aku janji ini bakal clear. Aku benar-benar minta maaf" Reza menenangkan Adyl yang ternyata rela jika harus berpisah dengannya.

"Iya, aku harap akan ada jalan keluar terbaik buat kita nantinya" Ady merespon dengan datar.

Reza kembali ke Jakarta dan menemui Adyl untuk menyelesaikan masalah mereka. Singgah lah mereka di sebuah rumah makan.

"Kamu mau makan apa yang? Pesen gih! "Reza membuka pembicaraan.

"Pesen ayam goreng kremes aja deh yang" Saut Adyl dengan datar.

"Makan yang banyak ya kamu" Jawab Reza sambil melihat Adyl yang nampaknya masih memendam kekesalan dari kejadian tempo hari.

"Aku lagi nggak mau makan banyak, nggak nafsu" Jawab Adyl agak ketus.

"Hmm.. Kamu masih marah karena kelakuanku kemarin?" Reza memberanikan diri untuk membahas masalah yang ia buat

"Bukan marah, kecewa lebih tepanya. Kamu udah bohongin aku, kamu pake momen pulang ke Semarang untuk ngopi-ngopi cantik sama perempuan yang namanya Vita. Kalau aku di posisimu apa iya kamu gak marah? Bahkan bisa aja lebih parah, bisa aja kamu langsung mutusin aku karena nggak terima dengan kelakuan kayak gitu" Terang Adyl dengan kesal.

"Maafin aku yang, aku nyesel banget. Aku salah udah ngerusak kepercayaanmu, padahal dari awal kita kenal aku tahu kamu amat sangat nggak suka kalau punya pasangan yang nggak bisa jaga kepercayaan yang udah dikasih". Kamu maunya gimana? Sesal Reza.

"Aku mau ngomong sama Vita, mau titip kamu. Boleh aku minta kontaknya?" Jawab Adyl.

"Dia cuma temen yang, kamu nggak perlu ngelakuin hal itu. Aku bisa perbaikin kondisi ini, aku janji" Jawab Reza.

"Nggak, aku cuma mau ngomong sama Vita. Mana, aku mau lihat kayak gimana orangnya, kalo kamu emang nggak ada apa-apa sama dia, beneran cuma temen, kamu bakal nunjukin seperti apa dia, kalo nggak berarti kamu emang udah macam-macam di belakangku" Adyl terus memaksa.

"Ini yang" Reza menyodorkan HP-nya dan menunjukkan sosok Vita dalam kontak Line nya".

Ternyata Adyl menghafalkan nama lengkap Vita di Line yang Reza tunjukkan, seperti niatan Adyl yang akan mengontaknya untuk mengikhlaskan Reza buat Vita. Adyl membuka HPnya, dan mencari nama Vita pada ID Search Line. Dan ternyata terdaftar. dikirimkannya friend request pada Vita.

Tidak lama accepted, Adyl lagsung mengirimi Vita pesan. Adyl melakukan hal tersebut saat perjalanan pulang untuk melipir sebentar di masjid karena shalat maghrib akan segera tiba. Adyl sangat terlihat tidak tenang saat di atas motor.

"Halo, kamu Vita ya? Kenalin aku Adyl. Boleh aku tanya sesuatu? Kamu kenal dengan Reza? Apa hubungan kalian, sejak kapan kalian kenal? Maaf sebelumnya kalau mengganggu" Pesan Adyl kepada Vita.

"Yang pegangan, jangan grasah-grusuh. Nanti jatoh. Simpen dulu HP-nya" Reza menasehati.

"Hu'um" Adyl cuma mengangguk karena harap-harap cemas menunggu kejelasan dari Vita.

Setelah shalat maghrib Adyl pun mendapat balasan dari Vita.

"Betul mbak dengan saya Vita. Reza mana ya mbak?" Balas Vita

"Reza Ardiansyah" Balas Adyl tidak sabar.

"Oh iya mbak kenal. Kalau boleh tahu ada apa ya mbak?" Jawab Vita

"Tolong jawab pertanyaan saya sebelumnya" Adyl mengingatkan Vita pada topik sebelumnya

"Mbak siapanya Reza ya? Balas Vita

"Saya pacarnya Reza. Tolong jawab pertanyaan saya tadi Vita"

Adyl membalas "Saya temannya Reza mbak. Kenal Reza lewat media sosial". Balas Vita

"Sejak kapan kamu kenal dia? Karena beberapa hari yang lalu Reza berani bohong sama kaya karena ketemuan sama kamu" Balas Adyl

"Saya kenal dengan Reza kira-kira udah sebulanan ini mbak. Ya Allah mbak, mohon maaf sebelumnya. Saya tidak tahu kalo Reza sudah punya pacar. Dia bilangnya single" Balas Vita

"Kenapa kamu ngajak Reza ketemuan padahal kenalnya cuma lewat media sosial doang" Tanya Adyl

"Wah mbak, aku nggak pernah ngajak Reza ketemuan duluan. Peretemuan kita kemarin justru karena ajakan Reza. Mohon maaf sebelumnya aku nggak ada apa-apa sama Reza, cuma teman mbak, meskipun dia sering ngeyakinin kalo dia sayang aku, aku nggak akan sampai hati punya hubungan sama dia kalau caranya seperti itu mbak, aku minta maaf mbak" Balas Vita.

Melihat balasan tersebut Adyl pun geram, karena lagi-lagi ternyata Reza berbohong. Adyl bersiap mencecar Reza dengan pertanyaan-pertanyaan soal kebohongannya yang lagi-lagi terjawab. Reza bilang bahwa Vita adalah teman lamanya, padahal mereka baru kenal selama sebulan, Reza juga berbohong bahwa pertemuan tersebut karena ajakan Vita, padahal Reza lah yang minta bertemu dengan Vita.

"Yuk pulang yang" Ajak Reza yang baru kelar shalat maghrib sambil merapihkan rambutnya.

"Kamu bisa jelasin ini dulu sebelum kita pulang?" Adyl menyodorkan HP yang berisi chattingan-nya dengan Vita.

"Kita kan udah baikan yang, aku sayangnya cuma sama kamu. Dia bohong, jelas-jelas dia yang minta ketemuan" Reza menenangkan Adyl sambil tetap berkilah tidak mengakui kebohongannya.

"Jelas-jelas kamu sudah ketauan bohong, udah ada buktinya. Jujur lah, nggak usah berkilah. Kalo kamu emang nggak sayang sama aku, silahkan pergi sama Vita, nggak gini caranya Za. Cukup sekali kamu kecewakan aku dengan kejadian kemarin, jangan kamu tambah lagi dengan kenyataan yang kamu tutup-tutupi. Kita selesai sampai sini. Semoga kamu bahagia sama dia". Respon Adyl mengakhiri perbuatan Reza yang telah mengkhianatinya dalam hubungan tersebut.

Belum sebulan kisah mereka berakhir, diketahui Reza dan Vita telah berpacaran. Sesuatu yang sudah tidak diherankan lagi oleh Adyl, karena Adyl tahu bahwa Vita juga seorang pembohong, Adyl tahu bahwa Vita tidak jujur dengan penjelasannya saat ditanya oleh Adyl waktu itu. Bagi Adyl kebahagiaan yang mereka rasakan dengan keputusan untuk saling bersama adalah awal kehancuran yang akan mereka dapatkan sebagai ganjaran dari perbuatan mereka.

Adyl tidak pernah menyesal dengan keputusan yang telah ia buat, karena baginya seorang penipu memang layak bersanding dengan pecundang. Adyl percaya siapa pun tidak akan pernah bahagia jika dalam mewujudkannya menggunakan cara-cara yang curang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya