Memang sudah garis alam Pekalongan adalah wilayah yang letak nya berada paling utara di pesisir jawa. Pekalongan berbatasan langsung dengan Pantai. Tadi nya aku suka pantai, yaa.. aku suka jalan jalan sore ke pantai, melihat deburan ombak di bawah langit berlatar jingga saat matahari mulai terbenam, bagiku pemandangan sore di pantai adalah saat dimana aku dapat menyaksikan satu lukisan Tuhan yang sangat menakjubkan. tapi sekarang tidak.

saat ini sebagian wilayah Pekalongan yang berada di dataran rendah hampir sama seperti Laut. Rob atau banjir air laut sudah seperti nasi megono ( makanan khas orang pekalongan) , Air Rob hadir setiap hari, pagi – siang – malam di sepanjang hari.

Advertisement

Aku sudah tidak pernah ke Pantai sekarang, Semua ini karena kau, kau… gelombang pasang air laut yang beberapa bulan ini singgah ke daratan, kau tak kunjung surut dan pergi? Rasanya bosan setiap pagi aku harus melihat genangan mu yang tak kunjung surut. Semenjak ada kau, Melihat jalan depan rumah ku saja sudah seperti berada di pinggir pantai.

Sungguh kehadiranmu membawa banyak musibah. Dimana Rumah yang menjadi satu-satu tempat tinggal, sekarang terasa sudah tidak nyaman lagi untuk ditempati, kau telah merendam ribuan rumah yang ada disini, kau menggenangi beberapa desa dan kecamatan, bahkan genangan mu di desa ujung utara sana mencapai ketinggian hampir satu pinggang orang dewasa.

Kayu kayu bangunan rumah mulai keropos termakan oleh air mu, berbagai perabotan rumah pun menjadi tak berharga karena mereka menjadi rusak tergenang olehmu. kau juga telah memenuhi semua jalanan, aspal jalanan semuanya penuh lumut, akses keluar rumah menjadi susah, kau membuat ku sulit berjalan, membuat semua orang malas untuk melangkah keluar.

Advertisement

Dan bayangkan dengan kondisi rumah – rumah mereka yang dalam nya juga tergenang oleh mu? Kau membuat mereka merasa kedinginan di dalam rumahnya sendiri, kau pembawa berbagai macam bibit penyakit, bukan tidak mungkin mereka juga terkena beberapa penyakit karena berbulan bulan harus terendam oleh mu.

Badai saja pasti berlalu, ini hanya banjir, banjir yang air nya tidak jatuh dari langit, banjir di musim kemarau, banjir yang air nya sangat banyak dan tidak pernah surut. Banjir yang terjadi berbulan bulan tidak pernah habis.

Langit memang tidak hujan, tapi banjir ada dimana – dimana, sejalan dengan pemanasan suhu dunia, pemanasan Global atau entahlah, mungkin juga karena es di kutub utara sudah mencair. Genangan rob bukan nya surut, justru ketinggiannya semakin bertambah parah.

Hampir Tiga bulan Kau meluber kemana-mana meluas ke beberapa titik, menggenangi masjid, puskesmas, perkantoran, sekolah – sekolah. Anak-anak sekolah juga banyak yang tidak menggunakan sepatu dan harus berjalan melintasi genangan air. Karena kau, kaki mereka mengalami gatal-gatal. Karena kau, baju seragam mereka juga harus basah.

Semakin hari warna mu semakin keruh,

Hah … sudah lah. Tidak ada gunanya aku menyalahkan kehadiran mu. Kau tidak akan mengerti, Kau mungkin tidak akan pergi dari sini sebelum lautan memutuskan untuk berhenti mengirim mu kesini.

Beberapa desa berlomba – lomba meninggikan jalan. Memang benar, luapan air rob dari gorong gorong tidak bisa lagi menggenangi jalan yang telah di tinggikan, namun dia akan pindah ke tempat lain, dia akan mencari daratan yang lebih rendah dan akan mengalir disana. Bukankah itu hanya sekedar pindah tempat saja?

Teruntuk Bapak Bupati dan Bapak walikota beserta jajaran nya, teruntuk para pejabat di DPR, DPRD dan teman teman nya, kami memberikan apresiasi yang tinggi tanpa mengurangi rasa hormat kami pada kalian semua dengan ucapan terimakasih. terimakasih banyak atas kunjungan kalian, terimakasih juga atas bantuan berupa mie instan dan barang sembako lain nya.

Tetapi banjir yang sedang kami alami ini bukan banjir karena musim penghujan yang setelahnya bisa langsung surut. Air rob yang melimpah ruwah ini telah datang dan singgah sejak 3 bulan yang lalu, dan sampai sekarang belum juga surut, bukan tidak mungkin tempat tinggal kami akan menjadi lautan, bukan tidak mungkin dia akan menetap lama disini jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Daerah kami seperti terisolir, lingkungan kami menjadi kumuh, rumah kami entah masih layak untuk di huni atau tidak, kami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dan air bersih, sawah dan ladang kami juga gagal panen, anak – anak kami terpaksa harus berangkat sekolah dengan melewati genangan banjir setiap hari. Mungkin nasib kami memang sedang tidak baik, tapi kami butuh pertolongan kalian.

Tak banyak permintaan dari kami, kami hanya ingin hati kalian terketuk untuk bergerak menolong kami, kami tidak begitu paham dengan segala mekanisme yang ada di atas, Kami hanya bisa meminta pertolongan, uang kami tidak cukup banyak untuk membuat tanggul, kami butuh penangganan bencana ini dilakukan dengan segera.

Semoga disegerakan membangun tanggul tanggul yang kokoh, semoga disegerakan memperbaiki pintu pintu air yang selama ini tidak berfungsi, dan semoga dengan begitu gelombang pasang dari air laut tidak meluber ke dataran lagi, semoga banjir Rob ini segera berakhir, hempas dan pergi. Semoga Allah SWT mengamini doa – doa kami yang merindukan daratan kemarin, Amiin……..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya