Baru kemarin, tubuh yang masih saling bersandar kini saling berbalik arah karna mengarah pada mata angin berbeda. Kau menunggu datangnya malam saat ku menanti fajar, begitulah lirik lagu yang berjudul Pamit milik penyanyi Tulus. Situasi yang terekam dalam lantunan lirik lagu inilah yang kini sedang aku alami. Rasanya begitu berat. Aku mengalami hal yang demikian, dalam kisah yang aku pilih untuk dimulai bersama.


Hai kamu yang jauh di sana, apa kabar? Masihkah kau sibuk menatap ponsel sembari membaca percakapan lama kita? Ataukah semua potret diriku masih kau simpan?.

Advertisement

Aku masih belum mampu melupakanmu. Semua tentangmu masih segar di memori ini. Maaf, sekali lagi maafkan aku.


Di tiga tahun yang lalu,

Aku mengenalnya lewat sebuah aplikasi chatting. Dia orang yang sangat sederhana. Baiklah, harus kukatakan bahwa karna dirinyalah kini aku lebih mencintai seorang pria karena pribadinya. Sejatinya, dulu sebelum mengenalnya aku masih beranggapan bahwa penampilan adalah yang sangat menyegarkan mata. Dia bukan pria setampan dan seromantis Adam Levine, dia hanyalah seorang pria berkulit hitam, dengan tinggi badan yang menjulang ke atas dan berparas biasa saja. Tapi itu berhasil membuatku terpesona! Ya, sangat terpesona. Dia menyebutku, seorang anak kecil. Sedang aku memanggilnya pria paling sabar di alam semesta.

Advertisement

Kami berkenalan hingga perasaan nyaman berkecamuk di hati masing-masing. Dia dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia begitu menyukaiku, sedang aku dengan malu-malu menolak pengakuannya. Bukan karna aku tak suka, justru sebaliknya. Aku sungguh membutuhkan pengakuan darinya. Pengakuan yang sangat istimewa. Jutaan kali dia mengatakan dia mencintaiku. Namun aku masih penuh dengan segerombol arogansi yang sulit dihilangkan, hingga aku secara tak langsung menuntut tuk dia mengumbar kata cinta terus-menerus.

Jarak antara kami adalah berjuta-juta kilometer. Aku yang tinggal di sebelah tenggara benua Asia, sedang dia yang tinggal di sebelah selatan benua Asia tak melunturkan komunikasi kami. Bahkan komunikasi yang terjalin semakin bertumbuh hingga kami semakin terikat. Tak jarang, kata rindu terlontar dari mulut kami masing-masing ketika renggangnya komunikasi kami mulai tercipta. Perbedaan keyakinan dan tradisi diantara kami pun, bukan penghalang. Semuanya dapat kami atasi, berbekal pengetahuan dan sikap saling menghormati. Aku yang beribadah di hari Minggu dengan berbagai aktifitas gerejawi, tak jarang pun selalu melupakan bahkan mengabaikan sapaan-sapaannya untuk aku mengawali hari. Sedang dia yang aku pun tak tahu, jelasnya kapan dia beribadah. Katanya, dia pun ke Kuil di hari Minggu supaya kami beribadah di hari yang sama.

Mulanya, aku tak pernah menggubris apapun yang dikatakannya. Hingga dia meminta nama akun FB-ku pun, aku tak pernah memberi. Pikirku, untuk apa memberi pada orang asing? Dia tak pernah menyerah menghubungiku, hingga akhirnya aku pun memberikannya. Entah sihir apa yang dimilikinya, aku pun menjadi semakin akrab dengannya hingga percakapan kami berpindah ke Whatsapp. Di sana, kami bercerita semakin dan semakin banyak hal. Dia berkata padaku, ''kau satu-satunya wanita yang membuatku berbicara sebanyak ini''. Aku hanya tertawa, sebagai tanggapanku atas pengakuannya.

Sebaliknya, dia pun pria pertama yang membuatku jatuh hati karena caranya memperlakukanku. Pengakuannnya itu pun, sungguh membuatku bahagia sebab belum pernah kutemui seseorang sejujur dirinya yang begitu menenangkanku. Ribuan bahkan jutaan pengakuan yang keluar dari bibirnya mengejutkan hati, menyejukkan hati dan menenangkan hati. Semuanya terdengar begitu menyenangkan darinya. Angin syurgaaa, jadinya.

Dalam sekejap, dia pun bercerita mengenai pribadinya. Seketika aku pun tahu, bahwa dia adalah pria pemalu yang jarang sekali bicara dengan banyak orang apalagi orang asing. Pengalaman cintanya pun menyisakkan traumatis yang sulit disembuhkan. Pekerjaannya yang menyebabkan dia menjadi orang sibuk, hingga sikap mengalah yang selalu dimilikinya. Seketika juga, ia pun tahu bahwa aku adalah seorang gadis yang walaupun selalu berusaha berpikir positif namun sikap kekanak-kanakanku lebih dominan. Aku pula orang yang tak tetap memiliki mood yang bagus alias moody. Aku bisa tertawa berhari-hari, tapi juga dapat marah berminggu-minggu. Kami pun saling terbuka mengenai pribadi kami masing-masing, dengan harapan bahwa pertemanan ini dapat terjalin selamanya.

Aku pun bercerita padanya, bahwa pengalaman cintaku mengajarkanku bahwa mencintai dengan tulus adalah dengan ikhlas melepaskan orang yang dicintai menemukan kebahagiaannya. Itulah yang selalu aku katakan ketika dia berkisah mengenai cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Secuil kata “hai” yang membuka “pertemanan berasa hubungan cinta” kami ini, seketika mampu mengobati luka cinta yang sempat merobek rasa percaya kami akan cinta. Semua yang telah terobek di hati kami masing-masing, seketika mendapatkan kesembuhan tanpa kami sadari.

Aku merasa bahwa aku kembali percaya dan memberikan kesempatan pada dia, orang yang istimewa. Harus aku katakan bahwa, dia satu-satunya pria sampai saat ini yang mampu melumpuhkan arogansiku yang usianya menahun. Entah bagaimana ketika aku marah, kata maaf darinya mampu pecahkan kerasnya dendamku. Amarahku yang memuncak di ujung kepala yang menyebabkan aku berbicara dengan suara lantang pun, hanya dibalas dengan suara lembutnya yang pelan dan perlahan. Bahkan ketika aku telah menyerah dengan kisah kami, dia hanya mengatakan ''kau butuh istirahat. Jangan lupa berdoa, tidurlah dan berpikir dengan jernih. Jika besok aku mengabari, tolong responi.''

Begitulah yang selalu dia katakan padaku. Nyawa dalam kalimatnya itu pun, mengisyaratkan bahwa dia sedang mengalah. Bukan hanya sedang mengalah, tapi dia memang selalu mengalah. Dan dalam tiga tahun hubungan kami, tak tahu berapa banyak kali dia mengucapkan kalimat yang sama. Bahkan ketika kami berdua telah menyerah dengan keadaan dan telah saling mengucapkan selamat tinggal, di hari setelah kami mengucapkan selamat tinggal, dia masih tetap meminta maaf dan meminta diberi kesempatan lagi. Tak tahu lagi, keadaan apa yang aku alami saat itu. Entahlah. Banyak yang mengatakan bahwa aku beruntung, banyak yang mengatakan bahwa aku harus berhenti sebelum cintaku semakin besar padanya, juga berhenti karna perbedaan agama yang kami anut. Bagaimana denganku? Aku bingung. Aku rasa, aku pun memiliki pemikiran yang demikian pula. Namun semua itu kutepis, berbekal rasa nyaman yang kuperoleh ketika bersamanya.

Awalnya hubungan kami tak pernah pantas disebut sebagai hubungan cinta, namun nyatanya cinta telah bertumbuh di hati masing-masing hingga kami merasa saling memiliki. Hubungan yang terjalin selama tiga tahun itu, tak pernah ada kata “maukah kau menjadi kekasihku?”. Tak pernah sedikit pun, kata itu terlempar dari mulutnya. Aku pun dibuat bingung dengan hubungan kami, pada awalnya. Hingga saat ini, tak pernah kudengar bahkan kalimat di atas tersampaikan padaku. Sekalipun tidak, tapi aku sungguh menikmati hubungan ini.


Kami mendasari hubungan kami, dengan berkata bahwa rasa saling-nyamanlah yang membuat kami awet dalam saling berkabar. Aku lupa bercerita bahwa, kami berteman dengan berjarak layar ponsel dan berhubungan lewat pesan singkat bahkan panggilan video.


Ya, seperti pertemanan fana bersama dengan beberapa orang palsu dari jagad maya. Hingga akhirnya aku pun menyadari bahwa dia bukan orang palsu, tetapi adalah orang nyata dengan kisah dan kasih yang nyata. Hingga waktulah yang meresmikan pertemanan ini berlanjut terus-menerus. Berlanjut dalam wujud yang tak semestinya karna dibumbui “perasaan cinta” yang berakar semakin dalam dan keras. Ibarat pepohonan, akar cinta kami berjenis akar tunggang yang tak bisa dicabut. Awalnya kupikir bisa berakar serabut pada cintaku tapi aku salah. Cinta itu setiap hari aku tanam, aku rawat, aku airi hingga akhirnya berakar semakin dalam dan kuat.


Surat cintaku, untuknya. Sebelum mengenalnya, hatiku gersang dan kering. Tanahnya terkelupas karna sinar mentari yang dengan jahatnya menghantam tanah yang memang tidak mau ditumbuhi itu. Karena kejadian pahit yang menghampiri hidupku di masa lalu. Pahitnya pengalaman itu, mampu memporak-porandakkan hatiku yang sehat bahkan pengalaman itu telah menguliti dinding-dinding kebahagiaan yang sejatinya dulu sempat bersemayam lama di hatiku. Tanpa aku sadari, tiba-tiba hujan menghampiri. Hujan itu mengantarkan kebahagiaan yang sejatinya berbeda dari sebelumnya. Hujan itu seperti hujan pada umumnya. Rintikan hujan yang menetes mengantarkan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan itu terlaksana ketika mendengar dengungannya, mendengar tawanya, melihat rupanya, mendengar renyahnya suaranya. Rintik-tintik itu awalnya kutolak dengan berbagai cara. Sejatinya, kutolak sebab kuenggani luka kembali menghampiri. Namun entah bagaimana, hujan itu datang terus. Seperti musim hujan yang terus menghampiri pada masanya. Baiklah, aku coba mengakrabi hujan itu. Rintikan demi rintikan hujan itu kemudian membuat segar hatiku. Hatiku yang tadinya memiliki tanah yang mengelupas tiba-tiba menjadi hijau. Tumbuhan hijau mulai merumput dan memenuhi seluruh tanah hatiku. Lama-kelamaan tumbuhan yang merumput itu menjadi bertumbuh dengan tinggi. Hingga akarnya menjadi gemuk dan mengeluarkan pucuk-pucuk daunnya yang indah. Pucuk-pucuk itu tak pernah kupetik. Ku biarkan menjadi tinggi hingga angin datang menghampiri. Namun, karena tunggangnya akar tumbuhan “cinta” itu, angin pun tak mampu melumpuhkannya. Angin pun tak mampu menjinakkannya. Angin pun tak mampu mematahkan dedaunnya, bahkan angin pun tak mampu menerbangkan daun-daunnya yang sudah usang dimakan usia. Daun-daun itu, seketika berubah warna menjadi lebih muda hingga akhirnya aku sadar bahwa itu pertanda cinta itu tumbuh menjadi baru terus-menerus. Hujan itu adalah kau, sedang cinta itu adalah sikapmu yang menyikapi tegangnya hatiku.


Untuk meresmikan pertemanan menyenangkan yang kami jalin, katanya dia akan memberikan kejutan padaku. Aku tak pernah bertanya mengenai jenis kejutan yang akan diberikannya padaku. Aku hanya berkata bahwa aku menantikan kejutannya, jika tiba waktunya. Hingga tepat di usiaku yang ke 23, dia datang menemuiku. Aku pun berkilah dengan berbagai alasan supaya pertemuan kami dibatalkan. Tapi pada akhirnya, aku sadar bahwa itu adalah bagian dari kesempatan indah dalam “pertemanan rasa pacaran” kami. Dia pun tak serta merta mengatakan bahwa kejutan itu adalah datang untuk menemuiku, akan tetapi katanya dia hanya datang tuk berkunjung sepaket dengan berlibur. Baiklah, awalnya aku hanya mengangguk mendengar pengakuannya.

Tapi aku sadar, bahwa dia pun telah dengan sangat berani meninggalkan kehidupan, keluarga bahkan pekerjaannya hanya untuk saat ini yaitu menemuiku. Walaupun sesungguhnya aku juga sangat bahagia. Singkatnya, kami bertemu di hari ulang tahunku yang ke-23. Dia datang dengan sejuta pesona, walaupun penampilannya tak seperti model. Suaranya pun bagiku sangat merdu, walaupun dia bukan seorang penyanyi. Kata-katanya pun sangat puitis, walaupun dia bukan seorang penyair. Semua tentangnya adalah indah.


Hingga kejadian yang tak kusangka pun terjadi di saat itu. Di tengah ramainya jalanan dengan nyaring dan bisingnya suara kendaraan, dia berbisik “maukah kau menjadi istriku?”.


Aku hanya tertawa pelan, mendengarnya. Sekilas, mirip dengan candaan pernyataannya kala itu. Sebab walaupun dia bukan seorang pelawak, apapun yang dikatakannya adalah lucu. Aku tertawa, kami pun tertawa bersama. Sangat menyenangkan. Di mataku, tak ada kode kejujuran dari pertanyaanya itu makanya kutepis dengan tawa yang biasanya melekat dalam obrolan kami. Namun akhirnya dia berteriak di depanku dan mengulurkan tangannya, tanda dia meminta dan menantikan jawaban. Aku pun tak tahan menahan malu, hingga akhirnya aku hanya tersenyum dan mengangguk malu.

Seketika di tengah ramainya jalanan dengan suara kendaraan yang bising, bagiku berubah menjadi jalanan yang menyenangkan bersama dengan merdunya suara kendaraan. Sungguh membahagiakan. Setelah saat itu, status kami dari berteman berubah menjadi bertunangan. Aku adalah miliknya dan sebaliknya. Aku pun memanggilnya dengan sebutan bai (kakak laki-laki dalam bahasa india) sedang dia memanggilku babies, karna sikapku yang kekanak-kanakkan.

Kami menghabiskan waktu bersama dan dia menemaniku beribadah di gereja, sedang aku mengantarnya ke Pura untuk dia bersembahyang. Dia mengikuti ibadah di Gereja bersamaku dan dia mengatakan bahwa akan menyenangkan jika kita menikah dan beribadah bersama-sama di Gereja. Aku pun senang mendengarnya, akan tetapi penghalanganya adalah mengenai agama. Aku tak bisa menjadi sepertinya (agamanya), juga sebaliknya. Kami takut meyakinkan orangtua kami, pada awalnya. Ada batas transparan dalam hubungan kami, yang bagi kami telah sampai di tahap serius dengan harapan dapat menua bersama. Dia kembali ke negaranya dan aku melanjutkan hidupku seperti biasanya. Di hari keberangkatannya, dia bertanya padaku "kapan kau bisa kunikahi?" Aku menjawab "akan sulit jika secepatnya kau datang ke orang tuaku. Agama kita pun berbeda. Aku harus meyakinkan mereka dulu."

Dia bertanya mengenai berapa lama? Aku hanya menggeleng. Aku tak bisa memastikan dengan pasti kapan. Dia pun bertanya "tiga tahun? Haruskah tiga tahun, kau kutunggu?" Aku hanya mengangguk. Cintaku padanya bertumbuh semakin besar. Tak terdefenisikan lagi, cintaku ini berupa seperti apa. Yang jelas semua dalam hatiku adalah mengenai dirinya. Setiap “hari jadi” hubungan kita di bulan Desember, dia selalu bertanya “maukah kau menjadi istriku?, selalu mampu kujawab hanya dengan tawa. Selama tiga tahun hubungan kita, di tiap bulan Desember tahun berjalan dia selalu menanyakan hal yang sama.

Aku mencintainya. Ya, aku mencintainya dengan seluruh hatiku. Seluruh hatiku yang adalah miliknya. Seluruh hatiku yang selalu mengumandangkan namanya. Seluruh hatiku yang selalu terbang bebas di birunya langit ketika mendengar suaranya, hingga aku tak kuasa menahan bahagia. Lagipula pikirku, dialah tempat yang tepat kulabuhkan hati. Persinggahan-persinggahan yang lain pun akan kutinggalkan. Aku mencintainya. Bahkan ketika aku ingin menyerah pada jarak dan agama yang adalah batas transparan bagi kami. Ketika dia menenangkanku, aku akan tetap kembali padanya.

Di tahun ketiga ini, aku rasa bahwa hidupku dipenuhi ketakutan. Ada beban berat yang ada di pundak. Beban yang tak kuat lagi kupikul sendiri. Beban yang selalu dan senantiasa membuatku sulit berdiri. Beban itu tak kuasa lagi kupikul. Aku tahu bahwa dia di sana juga sedang menanggung beban yang sama. Beban yang tak kuasa dipikulnya sendirian. Di malam penghujung tahun, kami bercakap dalam sebuah percakapan yang berat. Percakapan yang mengantarkan kami pada pilihan masing-masing. Aku ingat malam itu aku mengatakan bahwa kisah kita harus berakhir. Dia terus meyakinkanku. Tapi kali ini, aku rasa bahwa ada sesuatu yang memang tak bisa lagi diperpanjang. Apalagi kalau bukan hubungan ini?

Aku tahu bahwa yang bersalah di sini adalah aku. Hanya aku seorang, yang sangat bersalah. Aku dengan percaya dirinya menerima pinangannya tuk menjadikanku pelabuhan cintanya, tapi akhirnya akulah yang menyudahi pilihannya. Aku bahkan menyuruhnya berlayar lagi untuk mencari pelabuhan yang tepat. Aku juga yang terlalu terpesona dengan keyakinan bahwa masalah agama adalah hal sepele. Awalnya kusangka bahwa jarak adalah musuh terbesar. Padahal jarak telah sama-sama kami taklukkan hingga pada akhirnya jarak tunduk pada kami, bahkan jarak mengagumi hubungan kami. Sampai-sampai jarak membuat cinta kami semakin kuat, hingga pada akhirnya jarak merestui kami. Tak kusangka bahwa agamalah yang menjadi masalah terbesar. Setiap agama mengajarkan tuk saling mengasihi.


Namun mengapa begitu sulit tuk menyatukan dua insan yang saling mencintai namun mengenal Tuhan dengan cara yang berbeda? Bukankah Tuhan itu satu, namun hadir dalam rupa yang berbeda-beda?


Akhirnya aku yang menyerah, kupilih agamaku. Kumantapkan hati tuk menentukan, memastikan dan meresmikan pilihanku. Dia, di sana pun begitu kecewa. Begitu pula aku. Di sini, air mata adalah sahabatku. Dia tahu perasaanku. Dia tahu bagaimana aku melewati hari. Di sana, dia juga menagis. Menangisi keputusanku dan menangisi pilihanku.

Dua minggu yang lalu.

Tak ku sangka, dia datang berkunjung. Ketika kami bertemu, dia menyanyikan sebuah lagu yang sukses membuatku menangis sejadinya. Padahal, tadinya telah mampu aku sembunyikan air mata yang selalu bersemayam di ujung mata. Aku menghalau semuanya dengan senyumanku. Senyuman yang hadir berkali-kali ketika matanya diarahkan padaku. Ya, aku hanya mampu tersenyum. Karna aku tak mampu berucap dan tak mampu berpikir apapun, karna kesedihanlah yang menyelimutiku saat ini.


All I ask is if, this is my last night with you.

Hold me like I’m more than just a friend, give me a memory I can use.

Take me by the hand, what we do what lovers do, it matter how this ends.

Cause what if I never love again.


Setelah dia menyanyikan lagu itu, aku tak kuasa menahan tangis. Aku menangis sekerasnya. Air mata yang selama ini tertahan. Air mata yang selama ini, kuenggani menghampiri pipiku. Akhirnya, air mataku menghujani pipiku dan pertemuan kita. Melalui air mata itu, tak ada lagi yang tertutupi di hadapannya. Dia pun memelukku dengan eratnya. Dia hanya meminta supaya aku tak pergi dari hidupnya, setidaknya menjadi teman terbaiknya sepanjang hayat hidupnya.

Ya, kami berpelukkan. Di pelukan itu, kami saling menangis. Memang hanya berupa tangisan, kami ekspresikan kesedihan hati. Setidaknya salam perpisahan ini, mengajarkan kami untuk tak saling mengucapkan selamat tinggal yang menyedihkan. Kami sadar bahwa tak bisa bersama sebagai pasangan, kami masih bisa menjadi pasangan teman dekat. Sungguh, aku masih tak sanggup menyudahi hubungan cinta ini yang mengajarkanku banyak hal. Namun kusadari, bahwa ketulusan hati dalam mencintai adalah ketika melihat orang yang dicintai bahagia ketika menentukan pilihannya. Dan itu aku lihat ada dalam dirinya.


Terakhir, aku sangat mencintaimu. Yang berubah hanya status kita, tapi aku tetap ada untukmu dan menjadi sahabatmu. Sampai saat ini, sulit bagiku hanya menganggapmu sebagai temanku. Sulit bagiku untuk mengakui keadaan ini. Sulit untuk aku tahu bahwa suatu ketika, kau akan memiliki pasangan. Tapi sebisa mungkin, aku berusaha menghilangkannya. Jika kau membaca kisah kita di sini, aku mencintaimu. Aku harap kau bahagia di sana, menemukan pelabuhan cintamu secepat mungkin dan tetap mencintaiku sebagai sahabatmu. Kaulah satu-satunya yang mampu melemaskan egoku dengan kedewasaanmu. Terima kasih, telah mampir dalam kisahku.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya