Hari ini, empat belas tahun lalu merupakan hari yang tidak akan pernah terlupakan dalam ingatan. Hari itu, orang yang saya kasihi di dunia ini, orang pertama yang membuat saya jatuh cinta, orang pertama yang mengajari saya tentang hidup, tentang perjuangan, dan tentunya orang pertama yang mengajari saya betapa pilunya sebuh kehilangan.

 

Advertisement

Pada suatu siang di pertengahan desember, orang itu–Papa saya–menghembuskan nafas terakhir di rumah kerabat kami. Siang itu, 18 Desember 2004, menjadi salah satu siang tersendu sepanjang ingatan saya. 

 

Saya masih sekolah kala itu, kelas satu sekolah dasar, berseragam pramuka. Saya tidak ingat persis kronologis peristiwanya, mungkin karena saat itu saya hanyalah anak kecil berumur enam tahun yang memiliki ingatan terbatas. Yang saya ingat hanyalah ketika saya tiba di rumah itu, rumah itu telah menjadi rumah duka, terutama bagi keluarga kami.

Advertisement

 

Pa, Papa tahu, ada satu hal yang saya sesalkan hingga sekarang, yang membuat saya selalu ingin memutar waktu kembali ke siang itu. Saya, Pa, anak sulung Papa tidak dapat melihat deru nafas terakhir Papa. Saat saya tiba di rumah itu, orang-orang sudah ramai. Suara tangisan mama terdengar bahkan sebelum saya melewati pintu depan. Tubuh Papa sudah terbujur kaku dengan orang-orang di sekitar yang mengelilingi papa dengan air mata yang berlinang.

 

Saya berdiri kaku disitu, melihat, mengamati, dan mencoba mengerti, meski tidak sepenuhnya. Apalah yang diharapkan dapat dipahami oleh seorang anak berumur enam tahun. Yang saya tahu, semua orang tampak sedih, tampak hancur, tampak putus asa. 

 

Papa tahu bagaimana reaksi saya saat itu? Saya diam saja, bahkan saya tidak mampu untuk mengeluarkan air mata, karena perasaaan yang mendominasi saat itu adalah bingung. Bingung dengan keadaan yang didominasi kesedihan itu.

 

Pa, empat belas tahun sudah siang kelabu itu terjadi. Siang yang saya harap tidak akan pernah terjadi lagi dalam hidup saya. 

 

Hari berlalu dengan enggan, Pa. Hari-hari setelah papa tidak lagi berada di sisi kami. Kami merasa kehilangan Pa, tentu. Mama menjadi mudah menangis dan menjadi lebih sensitif, lalu nenek menangis mengaung pada malam hari, sementara anak bungsu Papa menangis terus. Saya? Saya tidak menangis Pa, bahkan ketika melihat Papa untuk terakhir kalinya. Kami mungkin mengekspresikan luka karena kehilangan orang yang kami dengan cara yang berbeda, tapi yang jelas, kami semua memiliki kesamaan yaitu sama-sama mengalami duka yang teramat dalam.

 

Pa, meskipun saya tidak menangis, saya mengekspresikan kehilangan dengan cara yang sayangnya kurang baik, yaitu menjadi pemarah. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah itu, saya kerap kali memancing emosi Mama, saya membanting kursi yang Papa belikan bertahun-tahun sebelumnya, saya masih ingat betul ketika kaki kursi itu patah berhamburan di lantai. 

 

Ternyata saya serapuh itu ketika Papa pergi, jika dibanding adik-adik. Papa tahu kenapa? Karena mungkin saya merasa bahwa Saya-lah anak Papa yang saat itu cukup mengerti bahwa kami telah ditinggalkan seorang Ayah. Dua orang adik saya masih kecil-kecil, empat tahun dan delapan belas bulan. Mereka, mungkin saat itu tidak mengerti apa-apa. Saya yang memiliki ingatan paling jelas tentang figur Ayah yang telah meninggalkan kami.

 

Figur Ayah yang mengajarkan saya tentang berhitung menggunakan korek api, yang mungkin melatar belakangi saya mencintai matematika dan memilih untuk bergelut dengan bidang itu hingga sekarang. Figur yang mengajak saya bermain layang-layang dekat lapangan depan rumah kami, figur yang mengajak saya berkeliling menggunakan motor krypton kesayangan beliau, iya Pa, Saya masih ingat semua itu, meskipun ratusan bahkan ribuan purnama telah berlalu.

 

Karena itulah saya berusaha sebisa mungkin tidak melupakan secuil pun ingatan tentang Papa dalam benak saya, karena hanya itulah, hanya ingatan itulah yang tetap hidup dalam diri saya, sampai kapanpun.  Ingatan yang membuktikan bahwa Papa pernah hidup di bumi, bahwa Papa pernah sangat menyayangi kami, anak-anaknya, dan juga Mama.

 

Kini semua itu sudah berlalu, Pa. Anak sulung Papa yang Papa tinggalkan ketika berumur enam tahun itu sudah berumur dua puluh tahun. Empat belas tahun berlalu, dan tak sedetik pun selama Saya hidup Saya ga merindukan Papa, The real hero in my whole life:’)  The Real Spiderman for me, terima kasih untuk kasih sayangnya selama enam tahun saya hidup. Dan untuk waktu delapan tahun yang Papa habiskan bersama Mama untuk menunggu kehadiran seorang anak, yaitu Saya.

 

Sampai nanti, Pa. Entah dikehidupan selanjutnya, atau di mimpi Saya malam ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya