Menjadi pencari kerja bukanlah ptofesi yang membanggakan. Apalagi dengan tambahan gelar sarjana di belakangnya. Pengangguran berijazah. Sudah berapa perusahaan yang aku layangkan surat lamaran. Mulai dari perusahaan yang sesuai dengan jurusan sampai yang perusahaan yang bidang pekerjaan nya aku tidak pahami. Semua bertepuk sebelah tangan. Ibarat sudah jatuh cinta namun ternyata perasaan itu tidak digubris. Entah apa yang salah. Apa aku yang memang terlalu tidak kompeten atau memang belum rejeki?

Sempat iri dengan mereka yang kehidupan karier nya berjalan dengan baik. Tamat kuliah, melamar hanya beberapa kali kemudian status nya berubah dari jobseeker menjadi karyawan. Kenapa mereka bisa secepat itu ya? Apa doa-doa ku selama ini hanya sampai langit-langit kamar saja?

Advertisement

Surat-surat lamaran itu mulai membuatku lelah. Bayangkan saja aku sudah mengirimkan puluhan bahkan mungkin suda ratusan surat lamaran pekerjaan beberapa tahun ini. Aku tidak tau berakhir seperti apa sura-surat lamaran ku itu. Baiklah,mungkin kurang menarik. Revisiku mulai. Tampilan surat lamaran pekerjaan itu kubuat lebih singkat namun lebih detail tentang aku dan prestasi yang pernah kuraih. Hasilnya  masih juga sama. Masih tetap bertepuk sebelah tangan.

Namun ternyata tanpa aku sadari,rejeki Tuhan titipkan di banyak tempat dengan berbagai cara. Selama ini aku hanya fokus bahwa seorang sarjana harus mencari rejekinya lewat perusahaan-perusahaan dengan menjadi bagian dari mereka. Sarjana harus berpenampilan menarik tiap pagi sampai sore. Pakai name tag ke mana-mana lalu sering upload foto dengan caption "work" atau #atoffice.

Rejeki bukan hanya buat mereka yang bekerja di kantoran. Aku akhirnya sadar bahwa aku sudah punya modal yang Tuhan titipkan dari awal sekali untuk mencapai suksesku. Kreatifitas. Aku suka bekerja menghasilkan benda-benda yang punya nilai jual dari hasil tanganku sendiri. Aku suka berkarya lewat lembaran-lembaran kain dan pita, memadupadankan renda dan kancing, membuat hiasan-hiasan lucu yang menarik. Aku suka kerajinan tangan. Di titik ini aku memutuskan untuk berhenti mengirimkan surat-surat cinta tak berbalas itu. Aku memilih mencintai apa yang tanganku bisa kerjakan saat ini.

Advertisement

Kali ini "cintaku" berbalas. Beberapa orang mulai melihat hasil karyaku. Walaupun belum bisa dikatakan profesional, tapi aku senang. Hobi yang menghasilkan. Bukan hanya materi tapi kepuasan hati dan jiwa. Bahwa ternyata aku tidak perlu memenuhi diriku dengan rasa iri dan energi negatif lainnya. Bahwa ternyata Tuhan sudah siapkan ladang lain yang siap aku garap dan tuai. Bahwa ternyata Tuhan sudah sedari awal memberikan yang terbaik namun karena kurangnya rasa syukur membuatku tak menyadari talenta ini.

Sekarang aku bersyukur karena surat lamaran pekerjaanku dulu bertepuk sebelah tangan. Pendapatanku memang tidak besar tapi aku menikmati setiap prosesnya. Bertepuk sebelah tangan tidak terlalu buruk. Tergantung bagaimana caramu melihat dunia dan segalanya dengan lebih baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya