Aku sudah lelah diam demi ketentraman hati dan sudah lelah berdebat dengan denganmu, oleh karena itu aku diam, aku tidak ingin memberikan kata – kata yang pada akhirnya timbul perdebatan yang tiada habisnya.

Ku tuliskan surat terakhir ini lewat hipwee mewakili diamku selama ini. Bagaimana semua ini bisa terjadi seperti ini? kau bertanya padaku mengapa aku pergi? dan ketika aku ingin menjelaskannya tentang kepergianku malah kau tuduh bahwa aku hanya ingin mengumpulkan semua keburukanmu, lalu ketika aku diam kau juga menghantamku lewat tulisan yang kau bagi dengan ribuan orang di dunia mayamu.

Advertisement

Izinkan aku di surat terakhir ini menuliskan "cenat cenutku" selama ini, maaf bila kau anggap ini hanya sebagai "pembelaan diri" maka anggaplah demikian. Toh ini surat terakhir yang akan aku tulis. Aku berterima kasih atas semua perjuanganmu yang telah kau ukir dalam hidupku, masih aku ingat dengan rambut sebahumu dan asap rokok yang menggumpal saat pertama bertemu membuatku takut sedemikian rupa sehingga dengan "susah payah" kau mencoba untuk membuka ruang dihatiku tapi tak juga bisa karena aku menutup semua pintu pada saat itu. Tahun pun berganti, dan aku tahu tidak dengan "rasamu" sampai suatu ketika kau lulus dalam permainan "hitam putih" yang aku ciptakan, namun peristiwa itu tidak mengubah apapun bahkan tentang hatiku, aku hanya memberikan "penghargaan" atas "dunia hitam putih" itu dan sekaligus membuatku sedikit "mengenal dirimu".

Hari demi hari kujalani seperti biasanya dan tiba suatu masa kau datang lagi disaat aku memerlukan bantuan tentang pilihan hidup yang akan aku ambil. Yah kau membantuku pada saat itu dengan segala usahamu, padahal jelas itu "sakit" membantu orang yang kau cintai demi pilihan hidupnya. Dari peristiwa itu, aku sedikit tergugah dengan "cinta" yang bersemayam di hatinya dari dulu sampai sekarang. Aku merasakan betapa tulusnya cinta. Hari pun makin berlanjut, dan singkatnya kami pun semakin terbuai dengan interaksi dunia maya dan interaksi dunia nyata. Interaksi yang berkepanjangan tersebut mulai berasa "nyaman" dan terlarut dalam canda tawa yang memang "tidak dibuat buat".

"Peristiwa malam itu pun terjadi", pertikaian yang membuat batinku terguncang pada saat itu, lebih tepatnya dua dua (aku dan kau) terguncang. Emosi yang semakin memuncak diantara keduanya sama2 membuat kita terhempas. Memang ini bukan pertikaian yang pertama namun pertikaian malam itu sudah sampai dititik puncak sehingga aku harus mengeluarkan statement bahwa aku dan dia memang tidak diciptakan untuk bersama. Aku tahu dia sudah "menjelaskan" ribuan kali tentang "amarahnya" saat itu dan ribuan kali meminta maaf. Sempat pada saat itu aku ingin "memaafkannya". Tapi ternyata dia mulai mengatakan kata – kata "kasar" di media sosialnya. Memang awalnya aku menuduhkan status yang dia tulis? memang penyebab amarahnya karena aku, tapi apa pantas "perkataan bertubi tubi" atas tuduhannya itu dia tulis untuk seorang wanita?

Advertisement

Tiada kata yg bisa aku sampaikan lagi padanya, aku memilih pergi bukan karena atas dasar "amarahmu" pada malam itu saja, tapi sadarkah kamu ketika masa "tenggang" itu apa kau berkata santun padaku?, namun ketika aku mencoba menjelaskannya, kau malah berkata aku hanya ingin mengumpulkan semua kejelekanmu dan membuangmu seperti "sampah". Aku harus apa? mengapa kau tidak mengerti tentang apa yang kau perbuat pada diriku. Kau ajarkan aku bagaimana cara "mencintai" dan kau juga yang mengajarkan aku caranya "menyakiti".

Tentang "sampah", sebenarnya kau menganggap dirimu sampah? atau kau yang menganggapku "sampah"?. Jika memang aku membuangmu seperti "sampah" mungkin aku sudah mengikuti semua orang yang menyuruhku untuk memblokir semua akun media sosialmu. Tapi apa yang kau lakukan padaku? kau memperlakukan aku seperti sampah. Kau permalukanku dengan tulisan media sosialmu. Sakit ketika membaca apa yang kau tulis, sakit ketika orang yang aku kira mengenalku dengan "baik" nyatanya menuduhku dengan sebutan kasar. Sakit rasanya ketika orang yang kupercayai malah "tidak mempercayai" orang yang mencintainya. Sakit rasanya yang sulit aku deskripsikan dengan kata kata.

Jadi sebenarnya siapa yang "kecewa" kau atau aku? kau kecewa karena aku memilih pergi yang katamu "tidak masuk akal". Padahal ini adalah alasan yang masuk akal, aku pergi untuk melindungi agar kita tidak terluka dan saling "membunuh" seperti sekarang. Kata-kata yang selalu kau gadangkan adalah " kau kecewa karena aku pergi tanpa mau menemanimu untuk berbenah". Sekarang aku bertanya di masa "tenggang" ini apa ini yang disebut "berbenah"? kau "membantingku","membunuhku","menyayatku" dihadapan semua media online dengan kata yang menurutku "sangat kejam".

Cinta seperti apa yang kau tawarkan padaku? kau membuatku "melambung" sekaligus "mati" karena cinta yang kau tawarkan. Telah kujelaskan padamu tentang "ketidaknyamanan", tentang "ketidakadaan lagi restu" namun kau masih bergelak dengan kata "coba lagi". Dan ketika aku memakai kata "bahwa takdir mungkin sudah digariskan seperti ini" dan kau dengan membantahnya jangan jadikan "takdir sebagai pembenaran" dan kita masih punya "pilihan". Aku bertanya padamu, jika takdir itu memang benar dan jalan ini terbaik lantas kamu mau bagaimana? melawan takdir? aku telah menetapkan pilihanku untuk pergi tak bisakah kau hargai itu? toh nyatanya jodoh itu tidak akan pernah tertukar, sekalipun kau berjuang sampai mati sesuatu yang ditakdirkan bukan untukmu maka itu tidak akan pernah jadi milikmu, dan sesuatu yang tidak kau perjuangkan bila itu menjadi milikmu maka itu "pasti" akan menjadi milikmu.

Kau tahu semua tentang teori semesta bukan? kau tau semua tentang ayat dan hadis tentang takdir, tapi kenapa kau tidak bisa menerima keputusanku. Aku tidak pernah merasa "membuangmu" justru aku yang merasa 'sampah' atas perlakuan "pembunuhan" lewat kata kata yang sangat "kejam". Aku tidak pernah mengumpulkan semua kejelekanmu hanya untuk demikian pergi, karena kalo itu aku lakukan ketika engkau memilih pergi aku tidak akan menahannya, atau ketika kau bercerita tentang keluargamu atau tentang perihal masa lalumu tanpa basa basi aku akan pergi. Tapi apa aku pergi pada saat itu? "tidak", aku memilih pergi ketika "hatiku" dan pinta "orang banyak" untuk mencukupkanmu dalam "kenangan". Dan keputusanku semakin yakin dengan kata-kata yang semakin hari kau lontarkan semakin "pedas" . Semua orang memang bisa berubah, aku tahu kau dan aku juga bisa berubah. Tapi apa yang kau perlihatkan di masa "tenggang" itu sudah memperlihatkan padaku bahwa berubah itu perlu waktu, dan yang kau perlihatkan padaku bukan suatu "perubahan", nyatanya terlihat "sadis" lebih "sadis" dari kata "pergi".

Maaf, aku harus mengatakan kau memperlakukan wanita dengan sangat "kejam", ini bukan tentang "amarahmu" pada malam itu, tapi ini mengenai perihal "mempermalukan" orang yang dicintai di media sosial. Tak pernahkah kau berfikir rasanya seperti apa? kau mempunyai 2 adik perempuan, tanyalah kepada mereka bagaimana' rasanya ketika orang yang mereka percayai, orang yang sudah membuka celah hatinya namun orang itu "membunuhmu" lewat kiasan kata-kata yang dibagikan kepada orang ramai. atau sederhananya ketika adikmu diperlakukan demikian apakah kau akan terima? Coba kau jelaskan padaku mengapa kau ajarkan aku cara "membenci" dan "mencinta" disaat yang bersamaan? cinta seperti apa itu? Coba kau katakan "pencitraan" seperti apa yang aku buat hingga membuatmu "semurka" itu. Katakan kesalahanku selain aku memilih "pergi" sehingga kau menanamkan "perang" dengan kata "mautmu" itu. Lantas sekarang aku mengulangi pertanyaanku, aku atau kau yang kecewa?

Bertahun-tahun kau mencoba untuk mengibarkan cintamu dengan segala perjuanganmu, dan kuakui tak seorangpun dari yang mendekat segigih kau berjuang demi cinta. Kuakui jua bahwa perhatian yang kau berikan sangat menyangjungku. 24 Jam bahkan kau sedia ada untukku bahkan saat aku tidak memerlukan bantuanmu kau malah dengan senyum lebar itu menawariku bantuanmu. Kalau saja waktu itu bisa diulang, aku mungkin tidak akan pernah membiarkanmu membantuku apapun bentuknya jika itu hanya membuat luka krena ketidakiklasanmu. Tuduhanmu serasa seperti aku memanfaatkanmu sungguh menyakitkan. Rasa ikhlas yang kau sanjungkan dulu ternyata kini tidak bisa kau penuhi. Barang barangmu masih terjaga dengan baik, jika kau merasa aku memanfaatkanmu, maka ambillah semua yang kau beri. Perjuangan yang kau torehkan sebegitu hebat ternyata mengukir kekecewaan yang begitu dalam juga karena ketidakikhlasanmu dalam melakukan perjuangan itu sendiri. Seandainya kau ikhlas mungkin kau tidak akan "menghantamku" bertubi tubi dengan kata mautmu.

Aku sadar aku bukan orang yang sempurna begitu juga kau, dan aku juga sadar kita bukan orang yang bisa menyempurnakan satu sama lain. Kau akan menemukan kesempurnaan di diri orang yang lain yang bisa mengubahmu menjadi lebih baik, karena nyatanya aku gagal mengubahmu dan itu berarti aku bukan orang yang tepat. Begitu juga dengan aku, kau juga tidak bisa mengubahku tapi paling tidak kehadiranmu memberikan aku satu pembelajaran bahwa terkadang "perjuangan" itu bukan harga mati dalam sebuah komitmen. Perlakuan lewat doa dan tutur kata serta sikap juga menjadi hal yang penting untuk bertahan.

Maaf, rasa sakit ini atas "penghinaanmu" sudah membuatku berfikir bahwa sekedar "berteman saja" mungkin sudah tidak bisa aku diplomasikan lagi. Sakit ini sudah menyebar ke segala sendi, penghinaanmu sudah cukup bagiku. Ku cukupkan kau menjadi kenangan dan kuharap kau juga mencukupkanku menjadi kenangan atau jika aku tidak pantas menjadi kenangan maka buanglah semua seperti kertas putih tak bertinta. Paling tidak aku berterima kasih atas kenangan terbaik yang kau berikan.

"Terima kasih atas kenangan akan "makanan korea" yang kau dapatkan dengan bahasa gilamu hanya untukku"

"Terima kasih atas kenangan tentang "funbike" dimana kau rela meminjam sepedamu hanya untuk menemaniku bersepeda"

"Terima Kasih atas kenangan tentang "indrapuri" yang begitu luar biasa yang gak akan mungkin aku lupakan saat itu"

"Terima Kasih atas bunga mawar yang kau petik dirumahmu walau akhirnya layu, tapi aku tetap mengambilnya"

"Terima kasih atas pertemuan dengan nuansa kopi yang begitu banyak kenangan, terlebih disetiap tisu yang kau ambil untuk diletakkan dibawah gelas agar tidak basah".

Terima kasih atas kenangan yang tidak mungkin aku sebutkan satu persatu di hipwee ini.

Aku tidak tahu bagaimana reaksimu ketika membaca ini, apakah akan "murka" dan bermain dengan kata mautmu lagi atau tidak. Dan aku tidak menyuruhmu mempercayai apa yang aku tulis, kau mau menganggap ini hanya sekedar "pencitraan","pembelaan diri" itu terserah padamu. Maaf kalo ini isinya hanya "pembelaan diri", tapi setidaknya ini sudah mewakili diamku dan ini adalah surat terakhir untukmu. Ketika suatu hari ketika aku memblokir smua aksesmu itu adalah hari dimana "titik pertahananku" melihat semua "kata mautmu" sudah tidak bisa hatiku terima.

Sekarang lanjutkan hidupmu, sejatinya jika memang aku "sebangsat itu", kau pasti akan menemukan orang yang lebih baik dari aku dan itu bukan aku. Temukan kebahagiaanmu di luar sana dan aku pasti akan menemukan bahagiaku dengan caraku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya