Dear Om, bolehkah aku ikut memanggilmu dengan sebutan yang sama seperti putri kecilmu? Memanggilmu Ayah?

Boleh yaa? Oh oke, maaf Om. Mungkin belum saatnya untuk memanggil sebutan itu. Tapi, akankah sebutan itu berpihak untuk ku? Apa Om mengizinkannya? Aku memang bukan siapa – siapa, aku juga tidak sepenuhnya mengenalmu, tapi aku sedang memperhatikan putri kecil mu, Om. Beri aku waktu sedikit untuk menceritakan siapa putri mu sebenarnya.

Advertisement

Om.. Aku tidak menyangka, ternyata putri mu adalah seorang penipu ulung. Sering kali aku melihatnya begitu kuat bekerja, bahkan begitu semangatnya memfokuskan diri untuk melakukan tanggung jawab, tidak pernah sekalipun aku mendengarkan keluhannya. Bahkan dikala itu, sedikit yang aku tau, begitu banyak beban yang menjadi keseharusan dipikulnya. Kesana kemari dengan sosok gagah mandiri nya, berjalan bahkan sudah tidak lagi memperhatikan kondisi fisiknya. Pernah ku ajak beristirahat sebentar saja, tapi dia menolak dan terus tersenyum. Maaf Om, aku pernah melihatnya menangis dan bercerita sendiri dengan boneka kecilnya. Ternyata dia masih anak kecil yang manja, telah menjadikan boneka adalah teman hidupnya.

Om.. Ternyata putri mu adalah seorang psikolog palsu. Tidak heran, kalau banyak teman yang mempercayai nya, tidak heran pula kalau banyak teman yang menjadikan dia tempat sandaran berkeluh kesah. Ntah apa yang putri mu berikan ke mereka, sampai mereka merasa bangkit dari motivasi hasil curhatannya. Tapi Om, aku sering melihat putrimu murung dan seakan sedang di landa masalah. Ketika di tanya "Are you oke?", seketika putrimu langsung sumringah untuk tersenyum lagi.

Om.. Ternyata putri mu adalah seorang penghibur bertopeng. Sering kali aku melihat putri mu tertawa lepas dengan teman – temannya, bercerita dan begitu memamerkan keadaannya yang bahagia. Selalu menumbuhkan unsur tawa yang dapat menghibur. Bahkan, tidak pernah sekalipun aku melihat putri mu bersedih di depan teman – temannya. Tapi om, putri mu adalah seorang yang bertopeng. Aku pernah melihat dia menangis dikala sendiri.

Advertisement

Om.. Ternyata putri mu adalah pemberani yang penakut. Mungkin pernyataan ku barusan membingung kan, tapi itulah kenyataan. Suatu ketika, sedang terjadi kericuhan dari kelompok sebelah, putri mu maju untuk melindungi teman – temannya. Aku melihatnya dengan tangan gemetar tapi dia berkata "hadapi dengan tenang yah teman".

Om.. Kenapa putri mu adalah seorang yang berpura – pura? Kenapa putri mu sering kali berbohong? Aku ikut berdoa, semoga saja putrimu mendapat kasih yang terindah melalui Imamnya nanti. Bolehkah itu aku, Om? Dibalik batu nisan ini adalah sepenggal kenangan yang sudah diberikan untuk putri kecilmu, agar dia menjadi seseorang yang tangguh. Batu nisan yang terukir jelas nama tampan Om. Aku tidak sesempurna kasih Om dan tidak ingin menggantikan posisi Om diwaktu itu, tapi izinkan aku menjadi penyambung pundak ketika putri kecilmu lelah. Aku ingin menggelarkan sajadah di depan putri kecilmu atau memberi semangat di sepertiga malam-Nya, agar dia selalu mencintaimu dalam pelukan Sang Maha Cipta.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya