Surat Terbuka Untuk Diri Sendiri: Berhenti Menyalahkan Dirimu, Hidup Memang Seperti Ini. Jangan Terluka Lagi.

Aku hanya perlu melewati beberapa langkah lagi secara perlahan hingga akhirnya aku sampai ke atas.

November 2021,

Advertisement

Aku sedang menyiapkan diriku menuju langkah yang seharusnya tidak pernah aku pilih. Aku terlalu fomo mengikuti trend Aku capek, pengen nikah aja ! .

Januari 2022,

Lagi-lagi aku menuju pintu yang salah.

Advertisement

Mei 2023,

Aku ingin mengakhiri hidup. Apakah ini lagi-lagi pilihan yang salah?

Advertisement

Waktu itu aku sangat piawai dalam dunia kerjaku, banyak yang bilang hidupku sangat di dambakan banyak orang. Ketika aku sibuk mengutukki diriku, banyak temanku malah sibuk memakiku karena kurang bersyukur. Tak banyak yang tahu hidupku sangat berantakan hanya saja aku lebih sering menghabiskan waktu tertawa di siang hari dan meratap di dini hari. Orang-orang yang ku jumpai selalu menganggapku manusia kuat, seseorang yang pantang menyerah dan mental baja, pada kenyataannya aku hanya memilih bertahan.

Aku bingung setiap kali aku ingin mencurahkan perasaanku kepada seseorang yang ku namai teman, yang ku dapatkan hanyalah kata Kamu itu kurang bersyukur saja! , Masih banyak yang ingin jadi kamu . Aku tertawa.

Sepanjang perjalanan pulang, aku mengendarai mobil dengan sesegukkan. Masih banyak yang ingin jadi aku? Benarkah? Apa mereka yakin ingin menjadi aku? Tidak kah mereka tertarik dengan diriku yang terluka? Mereka hanya menginginkan versi diriku yang punya karir cemerlang, tidak dengan lukaku.

Badanku gemetar , aku mengigit bibirku. Aku sibuk meminta pikiranku untuk tenang tapi mereka terlalu sibuk mengamuk di otakku. Aku mual. Aku muak. Aku memaki diriku. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi di hidupku?

Setiap kali aku merasa sesak, aku segera menuju seseorang untuk mendengar kekalutanku hanya saja setibanya disana aku cuman mendapati diriku menjadi telinga bagi yang sedang kesesakkan. Aku lupa tidak semua orang di dunia ini memahami kita sebenarnya, bahkan mereka tidak terlalu tertarik dengan kita. Kadang kala kita lupa bahwa yang paling memahami kita adalah Tuhan. Kita hanya perlu lebih dekat lagi pada-Nya melalui doa.

Kita seharusnya tidak perlu menjelaskan sesulit apa usaha kita bahkan sekeras apa usaha kita. Kita hanya perlu menyiapkan senyum di ujung bibir, tampilkan pada dunia bahwa kita baik-baik saja.

Aku hanya akan mendapatkan diriku memeluk diriku erat. Meringkuk dalam gelap lalu meluapkan amarah lewat tangisan. Esoknya, aku hanya kembali ke rutinitas seperti sedia kala , bekerja, makan, lalu tidur. Aku melewatkan 3 tahun yang berat kali ini. Semua berawal dari langkah yang kupilih. Hingga karir yang cemerlang terbuang sia-sia, aku juga kehilangan banyak uang hanya karena berusaha menjaga nama baikku. Sayangnya, namaku tetap saja tercoreng. Benar kata seseorang, Jika kau memilih karir jangan pernah tinggalkan hatimu untuk seseorang maka kau akan terus menanjak. Sebaliknya jika kau memilih memberikan hatimu bersiaplah untuk kehancuran karirmu.

Bagaimana aku menjelaskan lukaku? Aku kehilangan sosok Ayah di kala semua anak seusiaku membutuhkan. Tidak, Ayahku tidak meninggal. Hanya saja dia pergi meninggalkan. Disaat usiaku masih butuh gizi cukup, aku harus menelan perasaan dan membayangkan nasi campur air gula adalah lauk paling lezat sepanjang sejarah. Rumahku utuh, tapi saat pintunya di buka, kau akan lihat banyak pecahan barang di dalamnya. Benar-benar berantakan. Karena kurangnya cinta , aku tertipu dengan cinta yang palsu. Cinta yang hanya menghabiskan hartaku lalu melenggang tanpa rasa bersalah. Hahaha

Hidupku porak-poranda akhir-akhir ini , aku kehilangan karirku, hartaku, bahkan rasa percaya pada diriku sendiri. Aku penuh kebimbangan saat ingin melangkah. Aku penuh ketakutan saat akan memilih tempat kerja yang baru. Kali ini apa? Kadang kala, di otakku selalu saja berpikir akan mendapat masalah lagi. Saat aku kehilangan semuanya, teman-temanku pun satu demi satu menghilang. Beberapa yang tertinggal menjadikan diriku mengerti arti kata sahabat.

Apakah ini karma buruk? Karma keturunan? Bagaimana bisa dalam keluarga telur busuknya hanya aku? Kepahitan menjalar dalam diriku, aku mulai membandingkan diriku dengan saudara-saudariku, hidup mereka tampak kemilau di tengah keterpurukanku. Aku terlalu malu untuk menampakkan diri kepada keluargaku. Aku memilih menyelamatkan perasaanku dengan pergi menjauh.

Namun, semakin jauhnya diriku malah membuatku semakin terpuruk. Hidup memang begini bukan? Bukankah kata orang hidup itu seperti roda berputar, kadang kala di bawah kadang kala di atas. Aku hanya perlu melewatinya lagi, agar rodaku kembali ke atas. Tetapi, sudah beberapa tahun ini aku malah semakin terpuruk. Aku takut hal ini membuatku semakin ingin pulang tanpa di jemput sang pemilik kehidupan. Aku semakin merasa kesepian dan melihat orang-orang tertawa saja membuat nafasku tersenggal.

Tak pernah sekalipun aku membayangkan hal ini akan terulang masa kecil yang sulit kini aku alami lagi saat dewasa. Kini aku mulai menghitung setiap kali ingin memutuskan membeli sesuatu, bahkan kali ini aku memilih berjalan kaki jika jarak tempuh ku rasa tidak terlalu jauh hanya agar membuat keuanganku tidak berkurang sepeserpun. Aku sampai di titik rendah (lagi). Aku rela panas-panasan lagi dengan memilih naik motor ketimbang mobil hanya karena harganya selisih dua ribu rupiah. Lucunya, aku sampai seteliti itu dalam menghemat uangku.

Setiap bulan yang ku lalui akhir-akhir ini penuh dengan kekalutan, aku memiliki banyak tangunggan dan tidak pernah membayangkan kehilangan segalanya hanya dengan sekejap mata. Benar lagi-lagi kata orang Pentingnya dana darurat! . Aku sama sekali tak punya persiapan. Hancurnya hatiku seturut dengan kehancuran hidupku.  Badanku menyusut karena tak lagi menikmati makan , wajahku mulai kusam karena tak lagi perawatan wajah,kulitku semakin gelap karena tak lagi mengunjungi klinik kecantikan. Hidup itu penuh kejutan, maka berhati-hatilah dalam memilih langkah.

Aku memutuskan untuk bangkit, meminta semesta mendukungku kembali. Kali ini , aku ingin berdamai dengan diriku dahulu. Dengan tidak lagi menyesali langkah yang ku pilih, tidak lagi menyalahkan diriku atas semua keputusan yang ku ambil. Dengan tidak lagi berjuang sendiri sebagai manusia, karena manusia kuat sekalipun tetap butuh Tuhan sebagai terang di lorong yang gelap. Sebagai manusia, perlu papan petunjuk dari Tuhan untuk menentukan arah yang di tuju. Dan menjadi manusia selayaknya patut dengan segala kehendak Tuhannya.

Tubuhku yang memar, hatiku yang lubang, lukaku yang tak kunjung kering. Aku mulai menerima keadaanku. Sesekali berbicara pada Tuhan tanpa menyalahkan Tuhan. Dibandingkan dulu, kini aku jauh lebih tenang, amarahku tidak lagi mengalahkan akalku. Aku jauh lebih sehat mendapatkan diriku masih menumpang dengan orang demi bersembunyi dari dunia.Aku tidak lagi merasa diriku tidak layak .Kali ini aku percaya rancangan Tuhan selalu baik.Jika belum indah, maka hidupku belum berakhir.

Istirahatlah sejenak dan minumlah. Jika hidup tidak begini maka artinya kamu sudah mati.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswi Fakultas Teknik Elektro Universitas Haluoleo, sangat gemar galau, sangat suka membaca, dan sangat senang menulis. sekarang sedang memantaskan diri untuk mendapatkan hadiah terbaik dari Tuhan.

CLOSE