Surat untuk Ayah, dari Perempuan Kecilnya yang Kini Beranjak Dewasa

Terima kasih sudah membagi banyak perihal kehidupan kepada kami.

Hari ini sedang ramai tentang hari kasih sayang kepada ayah atau hari ayah. Berbagai media sosial dan teman-teman lainnya sedang berusaha berlomba melambungkan ribuan munajat kepada sang ayah. Seketika ingatanku pulih tentang ayah dan semangatnya. Semasa aku masih sangat kecil, masih memakai seragam biru lengan pendek disertai topi bulat dan sepatu hitam mungil kesukaanku. Ayah tidak pernah luput untuk memasangkannya padaku. Sebelum berangkat sekolah, satu hari pun tak pernah lupa untuk menciumku. Kataku "yah aku berangkat ya.." sambil mencium tangan dan mengucap salam bergegas meninggalkannya.

Advertisement

Perempuan kecil itu aku. Aku masih sangat ingat betul raut muka bahagia ketika ayah menyayangiku sebegitu dalamnya. Ia memang tidak selalu mengantarku ke sekolah, tapi ia selalu membuatku bersemangat ketika meninggalkannya. Ayah tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang apa yang telah dikerjakannya seharian, yang aku tau ia selalu memastikan bahwa anak-anaknya berangkat sekolah dengan tidak membawa satu kekurangan apapun.

Hari berganti hari, waktuku pada jenjang taman kanak-kanak telah usai. Aku sudah diharuskan keluar dari sekolah, aku diwisuda dan lagi, ayah yang mengenakanku jubah hitam besar sebelum acara pelepasan itu dimulai. Sampai waktu yang tidak ditentukan, ingatan itu masih sangat membekas. Aku hanya takut, apakah perlakuan ayah akan sama ketika nanti perempuannya telah menginjak remaja?

Ayah memang kepala keluarga, hidupnya tidak sedetikpun melupakan istri dan anaknya tapi satu hal yang belum semua mengetahuinya bahwa ayah juga memiliki kasih sayang yang sama dengan seorang ibu. Tidak ada yang menginginkan untuk menghadirkan jarak ketika sudah dengan mereka, namun sayangnya kewajiban ayah memisahkan kami dengannya. Demi sebuah pekerjaan, mengharuskan aku bertemu dengan ayah hanya di hari sabtu dan minggu, selebihnya kami saling mendoakan tanpa bertatap muka.

Advertisement

Rasanya jika Tuhan mengizinkan, aku ingin satu minggu hanya dua hari saja. Aku belum cukup sanggup untuk menabung rindu dengan ayah.


Nak, ayah besok pulang, dijemput kan ya? 

Advertisement

Bersama ibu dan adikmu..


Pesan singkat itu selalu dinantikan oleh perempuan kecil atas kepulangan seorang ayah. Semangat ayah yang luar biasa mengajarkanku, bahwa sejauh apapun jaraknya jika sudah menjadi tanggungjawab harus dilakukan dengan ikhlas. Sebab akan selalu ada Allah didalamnya.

Kini anak perempuan ayah sudah menginjak remaja, ayah selalu diam-diam memperhatikan tingkah laku perkembangan anaknya. Setiap bulan sekalipun ayah tidak ada dirumah, ayah selalu bertanya apakah ada yang belum ayah penuhi untuk kalian. Ayah memastikan kebutuhan aku dan adikku terpenuhi, tentu ia tidak ingin anaknya merasa ada yang kurang.

Saat aku dan adikku sudah mulai dewasa, ayah semakin menua. Ayah tidak lagi diberi amanat oleh Tuhan untuk mencari nafkah diluar sana. Ayah bekerja di kota bersama ibu dan kami berdua. Kami akan memiliki waktu yang banyak untuk bertemu, tidak perlu menunggu sabtu atau minggu terlebih dahulu. Meskipun demikian, ayah telah banyak berkorban untukku dan adikku. Ayah yang selalu memastikan bahwa anaknya selalu tercukupi, ayah yang mengajarkan kami bagaimana caranya bersabar dengan rindu, ayah yang mengajarkan kami bagaimana cara menunaikan tanggungjawab, dan ayah yang telah menyayangi kami sehebat itu.

Ayah sudah tidak lagi muda, jadi izinkan kami berdua untuk membalas peluh lelahmu dengan sempurna. Menjadi anak perempuan setangguh ayah, menjadi anak perempuan yang tak kenal payah, apalagi menyerah hanya karena sebuah amarah. Terima kasih ayah, engkau menyempurnakan kehidupan rumah tangga kecilmu bersama bunda. Sekalipun kami masih belajar, perempuan dan jagoanmu berjanji tidak akan membuat kalian terluka.

Untukmu ayah


Selalu menjadi penguat dan peredam bagi kami di rumah. Kami tau kau sedang beramarah, hanya saja kau selalu kau menutupi. Terima kasih sudah membagi banyak perihal kehidupan kepada kami


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat Kajian Ustad Hanan Attaki

CLOSE