Pada waktu yang selalu saja kusalahkan, harusnya aku tidak menyalahkan waktu yang tidak setuju jika aku dan kamu bersatu. Aku tidak perlu menyalahakan perasaanku yang masih saja tumbuh karena sebuah harapan yang kubuat sendiri, perasaan yang masih saja tumbuh walau tak ada yang merawatnya.

Perasaan yang tumbuh dengan mudahnya hanya dengan melihat senyummu, tawamu dan semua tentangmu. Getaran perasaan yang terkadang tak mampu aku tahan membuatku bingung harus berbuat apa.

Advertisement

Pada rasa yang tumbuh sendirian ini, selalu membayangkan dirimu disini mengisi hati yang sudah siap kau isi namun sayangnya kau tak berniat mengisinya; entah apa sebabnya. Pada tiap hembusan nafas yang seolah semakin berat ini membuatku terkadang sadar bahwa rasa ini membuatku sedikit kesulitan untuk bernafas, dan mataku semakin sulit melihat kenyataan yang ada. Aku ingin kamu tapi kamu tak ingin aku; rasa yang sebenarnya tak kuinginkan juga.

Jika perasaan ini dapat tiba-tiba mengisi relungku, apa perasaan ini pun bisa tiba-tiba mengisi relung milikmu? Biar perasaan ini dapat terbalaskan, biar perasaan ini punya tempat masing-masing dan biar perasaan cinta ini tumbuh sebagaimana mestinya. Sungguh, hatimu sudah ada padaku, tapi hatiku tak pernah ada di hatimu. Sungguh, aku seperti hanya bermimpi jika dapat memilikimu; memiliki perasaan yang sama.

Aku tak bisa melupakan rasa ini secepat aku mencintaimu, aku tak bisa membencimu hanya untuk melenyapkan rasa ini, dan aku tak bisa mengenyahkan bayanganmu semudah aku merindukanmu. Maka biarkan rasa ini tetap ada, walau hanya aku yang punya karena kelak aku tahu dan aku mengerti akan sebuah rasa yang bisa mati jika tak dilengkapi.

Advertisement

Biarkan rasa ini tetap ada walau menyakiti, karena sulit mencari pengganti yang mampu menandingimu saat ini. Aku hanya dapat memperhatikanmu dari jauh, melihat senyuman dan tawamu karena aku sadar semakin dekat aku semakin tak mampu menahan rasa terikat akan dirimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya