Mungkin memang telah tiba masanya, akun Instagram “baper” bertebaran, ajakan menikah, khususnya menikah muda berserakan, foto-foto mesra setelah menikah berceceran, dan hasilnya membuat si jomblo kelabakan (termasuk aku sendiri).

Well, sebagai perempuan yang udah begitu lama ngejomblo, bohong banget kalau aku nggak iri dengan itu. Siapa sih yang nggak mau punya pasangan? Punya teman hidup untuk melangkah? Punya telinga untuk berbagi keluh kesah? Punya bahu untuk menyandarkan kepala saat lelah? Punya tangan untuk digenggam saat goyah? Aku juga pengen! Banget malah! Tapi pertanyaannya, apa iya menikah memang selalu seindah kaya foto-foto yang selama ini berserakan di Instagram?

Maka dari itu, katanya memantaskan diri mutlak adanya. Yang pernah aku denger sih, lelaki baik untuk perempuan baik. Jadi kalau mau dapat pasangan yang baik, ya kamu harus perbaiki dirimu dulu! Harus, kudu, wajib, fardhu ain pokoknya! Aku nggak menyalahkan statement itu, bahkan aku setuju banget. Cuma yang aku sayangkan, apa iya memantaskan diri sebatas perihal jodoh?

Gini, aku pernah ikut training motivasi gitu waktu SMA, dan satu kalimat dari sang trainer (aku lupa waktu itu siapa namanya) yang sampai detik ini aku inget adalah pantaskan dirimu untuk semua yang kamu dapatkan. Apapun itu, saat kamu dapat A, B, C, D, sampai Z, maka memang kamu pantas untuk dapat itu. Kadang nih ya, kita sering ngerasa nggak pantes dapet sesuatu, atau sebaliknya ngerasa kecewa karena nggak dapet apa yang kita mau. Padahal itu memang udah jatah kita, artinya ya memang seukuran itulah yang pantas kita dapatkan. Kalau bahasa sainsnya, terkuantifikasi, terjatahkan.

Jadi menurut kaca mataku (meski sejujurnya aku nggak pakai kaca mata), terlalu sempit kalau kita maknai “memantaskan diri” sebatas perihal jodoh. Memantaskan diri adalah perihal apapun! Perihal semuanya yang mau atau udah kita dapat! Kalau kamu dapat nilai C di KRS, maka memang nilai itu yang paling pantes untukmu. Usaha yang kamu kerahkan memang sampainya di titik C, belum B, terlebih A.

Advertisement

Kalau kamu punya target cumlaude, ya kamu wajib memantaskan dirimu untuk di posisi itu. Terserah gimana caranya, yang pasti kamu harus berhasil meyakinkan Tuhan kalau kamu pantes untuk semua target yang udah kamu tulis. Sebenernya simpel kok, kalau kamu yakin sama Tuhan, terus berprasangka baik meski sering gagal, maka Tuhan akan kasih yang kamu mau, bahkan sering dilebihin. Tapi kalau kamu berprasangka jelek sama Tuhan, ya jangan salahin Tuhan kalau hidup kamu justru makin nggak karuan. Sesederhana itu kok!


Jadi intinya, jangan terlalu sempit memaknai kata “memantaskan diri”. Karena memantaskan diri nggak pernah sesempit itu! Mari melihat lebih luas, berpikir lebih lepas, sebab semesta tidak terbatas.