Tak Semua Hal Bisa Kita Kendalikan, Cukup Berfokus dengan Hal yang Mampu Kita Kendalikan

Belajar mengendalikan pikiran memang sulit

Banyak psikolog yang mengatakan ini saat sesi konseling, kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan dan lakukan terhadap kita, yang bisa kita lakukan hanyalah mengontrol reaksi kita terhadapnya. Terkait tentang pengendalian diri ini, ada sebuah cerita menarik dari Frederick Douglass yang merupakan salah satu tokoh kulit hitam berpengaruh di abad ke-19 yang dituliskan dibukunya Hendry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras.

Advertisement

Saat pergi dengan menaiki kereta, beliau mengalami diskriminasi karena kulit hitamnya. Beliau harus duduk di gerbong bagasi walaupun membayar dengan nilai yang sama dengan orang-orang kulit putih. Orang-orang kulit putih tersebut berujar mengasihani Douglass dan salah seorang dari mereka berkata, "saya turut menyesal Tuan Douglass, anda direndahkan seperti ini", dan saat itu Douglass justru berujar,


"Tidak, aku tidak direndahkan, tidak ada seseorang pun yang bisa merendahkan jiwa yang ada didalam diri saya. Sesungguhnya bukan sayalah yang direndahkan atas kejadian ini tapi justru orang-orang tersebut, yang melakukan hal ini pada saya"


Cerita di atas sungguh menarik, karena setelah diresapi, memang benar tidak ada seorang pun yang bisa merendahkan kita. Orang-orang yang justru merendahkan kitalah yang sebenarnya rendah dengan memiliki pola pikir seperti itu. Jika kita bereaksi atas sikap mereka hanya akan mengakibatkan kita seajajar dan sama dengan mereka. Karena lagi-lagi kita tidak bisa mengendalikan perbuatan, sikap, atau tindakan seseorang terhadap kita tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana tindakan kita untuk menyikapinya. Daripada marah atas sikap mereka, lebih baik kita merasa kasihan atas mereka yang bersikap seperti itu pada kita. Daripada marah yang seringkali dibarengi dengan tindakan merusak dan seringkali tidak ada efek baiknya kecuali menyakiti orang lain, lebih baik bersikap tenang dan tidak mudah tersulut api amarah. Orang-orang seperti mereka yang merasa perlu merendahkan atau mendiskriminasi orang lain berdasarkan ras, suku atau warna kulit justru harus kita kasihani.

Advertisement

Ada beberapa hal yang saya amati selama tinggal di Eropa mengenai diskriminasi, ada beberapa teman yang mengatakan kalau mereka mengalami diskriminasi. Seperti teman saya yang pernah bercerita, dia dan teman-temannya yang merupakan mahasiswa asing diminta untuk pergi dari meja dan kursi di open area space di perpustakaan karena mereka mau menggunakannya untuk seminar, sedangkan para mahasiswa lokal tidak disuruh pergi. Di pikiran saya, itu mungkin saja karena posisi meja mereka memang paling dekat dengan ruangan seminar karena itu mereka yang diminta pergi dan bagi saya tidak masalah karena masih banyak tempat untuk belajar, bukan hal yang harus dipermasalahkan, apalagi mengaitkan dengan diskriminasi. Lalu, ada teman dari negara lain bercerita mengenai kesulitan mencari orang yang bersedia menyewakan apartment karena dia berhijab, sejujurnya ini sempat saya rasakan tapi rasa-rasanya memang karena ketidakcocokan harga, kontrak atau tempat saja, bukan karena hijab.

Selain mengendalikan reaksi, hal yang juga harus dilakukan adalah mengendalikan pikiran. Bisa saja mereka tidak ada maksud untuk mendiskriminasi atau merendahkan tetapi kita yang berpikiran seperti itu. Misal saja beberapa kali saya naik bis dan bangku disebelah saya kerap kosong atau tidak ada yang mengisi, bahkan disaat penuh sekalipun, sempat saya berpikir apakah karena hijab yang saya kenakan ini?, tetapi setelahnya saya malah merasa itu baik karena saya bisa memiliki kursi bis untuk diri saya seorang dan berusaha berpikir positif mungkin memang mereka lebih ingin berdiri ketimbang duduk.

Advertisement

Belajar mengendalikan pikiran memang sulit karena nyatanya kerapkali kita lebih dihantui dengan pikiran-pikiran negatif ketimbang positif. Tetapi begitu kamu bisa lebih mengendalikan pikiranmu sendiri, akan lebih mudah bagimu untuk mengendalikan reaksimu. Karena kadang saat pikiranmu dipenuhi dengan pikiran negatif, emosi akan ikut bergeser ke arah negatif, begitu juga dengan reaksi dan tindakan yang terpengaruh dari keduanya.

Semakin dewasa saya juga semakin belajar untuk lebih menerima, lebih mengontrol diri dan belajar lebih ikhlas. Karena manusia punya traits yg berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Jadi mari mencoba lebih melihat sisi yang baik ketimbang yang buruk, mari mencoba lebih menerima ketimbang menuntut, mari mencoba lebih memahami ketimbang memaksa, mari mencoba lebih belajar mendengarkan ketimbang meminta didengarkan. Mari mencoba lebih belajar untuk mengalah demi ketenangan kehidupan, demi meminimalisir drama-drama kehidupan yang tidak perlu. Mari mencoba lebih bersabar dan mengurangi keluhan. Mari mencoba mengurangi dendam, karena itu tidak baik. Jika tidak suka, cukup hindari saja dan berinteraksi sekadarnya. Akan selalu ada ketidaksukaan akan manusia karena begitulah manusia, selalu memiliki sisi negatif yang tidak kita sukai. Karena kita juga punya kekurangan, jika kita ingin diterima dengan segala kekurangan kita, mari belajar juga untuk menerima orang lain dengan segala kekurangannya.

Jika memang tidak bisa mentolerir, cukup biarkan saja dan berinteraksi saja sekadarnya. Memilih manusia-manusia sekadarnya, cukup sedikit saja yg dekat dengan kita. Semakin sedikit semakin baik, karena seringkali semakin mengenal seseorang justru semakin banyak drama yang tidak penting terjadi. Merusak ketenangan jiwa dan kehidupan. Buat apa?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE