[CERPEN] Tali-Tali yang Menjerat Kehidupanku

Aku selalu di sini, menunggu kalian datang dan memelukku.

Hari ini kelas pagi seperti biasanya. Tidak ada raut semangat dalam wajahku, yang ada hanya raut wajah kekecewaan. Kecewa karena aku merasa tidak sanggup bercerita pada siapa pun.

Advertisement

Jurusan yang kutempuh sekarang pun menjadi bencana tersendiri bagiku. Tidak ada yang aku pahami sama sekali di dalamnya. Aku benci mengakui kalau aku ini payah, tapi kenyataannya memang aku ini payah. Ya, payah karena aku tidak sanggup mengikuti perkuliahan di tempatku sekarang.

Namun, bukan Nala namanya jika tidak berusaha untuk mencari tahu dan terus berusaha belajar. Akan tetapi, hasilnya NOL BESAR. Aku tetap tidak bisa memahami apa pun. Memang benar kata orang, jika mengerjakan sesuatu dengan setengah hati, maka hasilnya pasti tidak maksimal.

Sepanjang malam kerap kuhabiskan untuk belajar memahami materi yang sudah diberikan di kelas tadi. Mulai dari berlatih soal-soal, dan tentu saja membaca buku referensi. Bahkan tidak jarang aku menangis di tengah-tengah latihan soal, hingga seringkali aku bangun di pagi hari dengan mata sembab.

Advertisement

"Kamu itu kenapa sih?! Setiap malam kerjaannya nangis terus, berisik!! Ganggu anak-anak kost lainnya tahu. Kamu pikir anak-anak kost enggak capek apa? Mau tidur masih harus dengar kamu nangis. Mengganggu." 

"Tahu nggak sih, gue baru pulang jam sebelas dan lagi enak-enak tidur harus kebangun gara-gara lo berisik nangis. Mikir dong, gue capek magang, pagi juga gue ada kelas. Bisa 'kan enggak berisik?"

Advertisement

"Kenapa kamu nangis? Kurang makan? Atau nggak mampu beli makan jangan-jangan?"

Itu teguran yang dilontarkan beberapa anak kost kepadaku, dan yang bisa aku lakukan hanya menunduk lalu meminta maaf. Ya, apalagi yang bisa kulakukan selain itu? Kalaupun aku jelaskan dengan detail, mereka belum tentu mengerti posisiku sekarang, jadi lebih baik aku simpan sendiri.

Pola hidupku semakin berantakan, kacau, aku bahkan tidak bisa membedakan apa yang nyata aku dengar dan mana yang halusinasi. Aku mulai insomnia, setiap setengah lima pagi aku baru memejamkan mata, sementara kelas dimulai pukul tujuh. Tidak jarang aku datang terlambat ke kampus, hingga dosen mata kuliah tertentu tidak mengizinkanku masuk.

Tidak hanya itu, bahkan aku jarang makan di kost hingga membuat berat badanku turun drastis. Bukan karena aku tidak mampu membeli makanan, tapi rasanya tubuhku selalu menolak asupan makanan yang masuk.

Kejadian ini terus berlanjut hingga satu semester terlewati. Mata kuliahku banyak yang tidak lulus, semua dominasinya adalah D dan E. Hanya satu yang lulus memuaskan dengan predikat C, yaitu mata kuliah Pengantar Akuntansi. Hingga hal ini membuatku semakin stres, tidak jarang tindakan pelampiasan yang kulakukan justru mengarah pada self harm

Tidak ada yang tahu apa masalahku sebenarnya, bahkan teman-teman di kost pun seakan tak acuh denganku. Jika aku keluar dari kamar dengan kondisi berantakan, justru gunjingan yang aku dapatkan.

"Lebay banget sih. Baru segitu aja udah stres. Gue dulu waktu awal kuliah malah lebih parah dari dia."

Dengan adanya gunjingan seperti ini membuatku semakin tertutup dengan lingkungan. Bagiku, tidak ada yang mengerti kesulitan dan beban apa yang sedang aku tanggung sekarang.

***

Suatu sore selepas kegiatan kampus, bapak meneleponku, "Piye, Nduk, kabarmu? Lancar to kuliahe?" (Bagaimana kabarmu nak? Lancar kan kuliahnya?).

"Lancar pak, alhamdulilah. Doakan saja…" mataku mulai memerah menahan air mata yang bisa turun sewaktu-waktu.

"Bapak sama ibuk cuma bisa kirim doa untuk kamu, Nduk."

"Iya pak, enggak apa-apa kok. Bapak, ibuk bagaimana di Yogya? Sehat?"

"Bapak sehat. Nduk. Ibukmu tadi pagi sempat ke dokter karena dari semalam ngeluh pusing ke bapak, tapi sekarang sudah sehat. Kamu jaga kesahatan ya?"

"Nala selalu sehat kok pak. Malah rajin olahraga sekarang. Hehehe…" air mata akhirnya membasahi pipiku. Jelas  beban yang tidak bisa dianggap ringan, harapan pertama dan terakhir keluarga hanya aku seorang, ya, aku anak tunggal di keluarga ini.

"Rasane baru kemarin bapak ngajarin kamu naik sepeda, sekarang kamu sudah kuliah. Cepat sekali anak bapak ini besarnya. Kalau kamu libur, pulanglah ke Yogya sesekali. Bapak dan ibukmu ini kangen."

"Iya pak." Tangisanku pecah akhirnya. Namun, kali ini aku berusaha keras agar bapak tidak mendengar.

"Ya sudah, kamu baik-baik ya di sana? Bapak dan ibuk sayang kamu nduk."

Tut!

Sambungan telepon mati setelah itu.

Yang menginginkan aku kuliah di sini memang kedua orangtuaku. Mereka yang mengarahkanku dengan keras (cenderung memaksa) sampai akhirnya aku bisa di sini. Harapan besar mereka inilah yang akhirnya mengurungkan niatku untuk menceritakan keinginan yang sebenarnya. Mengejar cita-cita menjadi seorang penulis, ya, aku memang memiliki kelebihan dalam hal menulis. Namun bakatku ini akhirnya terkubur begitu saja setelah keluargaku meremehkannya.

"Kamu bisa makan darimana kalau kerjaanmu begitu? Duitnya enggak ada, yang realistis aja deh," kata mereka waktu itu.

Sejak itu aku menjadi seperti boneka dan pasrah dengan mereka yang mengatur hidupku. Prinsipku sekarang, asal tidak dicap sebagai anak durhaka akan aku lakukan.

***

Malam ini, udara dingin kota Malang membuatku melamun. Tidak ada yang bisa kupikirkan lagi selain beban yang ada. Kuliahku yang berantakan, harapan besar bapak dan ibuk, belum lagi gangguan anxiety yang sudah aku derita belakangan.

Selama ini memang aku rutin berkonsultasi dengan psikolog terutama saat membahas tentang bebanku di sini. Entah kenapa hal itu seperti tidak berguna bagiku.

Saat ini dengan berat hati, kakiku melangkah naik ke atas kursi. Mengikat simpul dengan pasti lalu mengikatnya. Air mata yang terus mengalir sebenarnya menggambarkan kekecewaanku selama ini. Ditambah bayang-bayang tentang bapak dan ibuk yang terlintas di kepalaku malam itu. Tapi, tidak. 

Sudah cukup lama aku menunggu mereka untuk mengerti aku yang sebenarnya, tapi tidak satu pun dari mereka yang mengerti. Setiap hari aku menunggu seseorang merangkulku dan memelukku ketika pikiran-pikiran kalut mulai bermunculan. Sekali lagi, sudah habis masaku menunggu. 

Sudah selesai, aku tidak perlu menunggu apa pun lagi sekarang. Selamat tinggal, bapak, ibuk. Aku menyayangi kalian. Kepalaku di posisi yang tepat, lalu dengan cepat tali menjerat leherku.

***

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE