Energi berperan sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa energi, manusia tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha dalam setiap kegiatannya. Pada jaman pra-industri, kegiatan-kegiatan masih didominasi oleh tenaga manusia. Kemudian, seiring dengan perubahan jaman yang menuntut kecepatan dan produktivitas tinggi, ditemukan teknologi mesin yang menghasilkan tenaga yang jauh lebih besar dari tenaga manusia sekaligus dapat melakukan kegiatan dengan cepat. Semenjak saat itu, manusia beralih menggunakan mesin.


Mesin-mesin tersebut membutuhkan bahan bakar untuk dapat digerakkan dan menghasilkan energi. Seperti pembangkit listrik di Indonesia yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar.


Di satu sisi, teknologi sangat berdampak positif bagi kehidupan manusia. Tapi, di sisi lain, teknologi berdampak buruk bagi lingkungan karena menyebabkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan konsentrasi rumah kaca dan menyebabkan peningkatan temperatur bumi.

Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli lingkungan dunia. Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan temperatur bumi semenjak jaman industri. Dan temperatur bumi saat ini adalah temperatur paling panas dalam sejarah manusia. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi GRK. Dari hasil penelitian itu pun diketahui bahwa industri adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar.

Jika konsentrasi GRK dibiarkan terus-menerus, panas bumi akan terjebak di atmosfer dan akan menaikkan temperatur bumi. Hal ini mengkhawatirkan masyarakat dunia, sehingga tercetuslah inisiatif untuk beralih dari teknologi konvensional yang menggunakan fossil fuel dan batubara ke teknologi rendah emisi. Inisitaif ini dituangkan dalam Konvensi Perubahan Iklim internasional.

Advertisement


Indonesia, sebagai salah satu negara pihak konvensi pun turut beralih dari teknologi fossil fuel ke bahan bakar rendah emisi. Pada kata sambutannya di World Blue Carbon pada 28 Agustus 2017, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, menyampaikan bahwa saat ini, Indonesia sedang mengembangkan teknologi energi baru terbarukan yang rendah emisi. Dan sudah ada teknologi yang ramah lingkungan,di antaranya adalah :


Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

PLTS adalah pembangkit listrik yang mengandalkan cahaya matahari. Cara kerjanya adalah dengan menangkap cahaya matahari lalu mengkonversikanya menjadi energi listrik. Cahaya matahari ditangkap oleh panel-panel surya berbahan photopholtaic. Panel photopholtaic itu jugalah yang mengkonversi cahaya matahari menjadi listrik.

Letak geografi yang membentang di garis khatulistiwa membuat Indonesia berlimpah cahaya matahari. Hal ini merupakan potensi besar Indonesia untuk mengembangkan dan mengandalkan PLTS sebagai penghasil listrik untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Potensi ini disadari oleh Pemerintah sehingga pada tahun 2015, Pemerintah Indonesia membangun PLTS terbesar di wilayah Timur yang berlokasi di Dusun Bajaneke, Desa Oelpuah, Kupang, NTT. Di tahun yang sama, Presiden Joko Widodo meresmikan PLTS yang memiliki kapasitas menghasilkan 5 Mega Watt (MW) listrik dari total 7.5 MW listrik yang dihasilkan oleh PLTS-PLTS di wilayah Timur ini.

Pembangkit Listrik Tenaga Air

Secara umum cara kerja PLTA adalah dengan memanfaatkan energi gerak trubin yang dihasilkan oleh debit aliran air yang berasal dari sumber air seperti sungai, danau dan waduk. Berdasarkan konstruksinya, pemanfaatan tenaga air untuk PLTA ada 2, yaitu memanfaatkan aliran sungai tanpa membangun bendungan dan reservoir dan membangun bendungan serta membangun reservoir untuk mengalirkan air ke turbin.

PLTA terbesar se-ASEAN ada di Indonesia, tepatnya berada di Desa Cadas Sari, Kecamatan Tegal Waru, Purwakarta, Jawa Barat. PLTA yang dibangun pada tahun 1988 ini memanfaatkan tenaga air dari aliran sungai Citarum untuk menghasilkan tenaga listrik hingga 1.008 MW.

Selain PLTA di Desa Cadas Sari ini, ada beberapa PLTA lagi yang dibangun oleh Pemerintah. Proyek pembangunan ini merupakan tujuan Pemerintah untuk mencari energi alternatif terbarukan. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yang mencapai 35.000 MW.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)

PLTB adalah pemanfaatan energi angin dengan menggunakan kincir. LIstrik yang dihasilkan berasal dari gerakan kincir. Bentang alam Indonesia yang didominasi oleh pegunungan dan dataran tinggi membuat Indonesia berpotensi untuk memanfaatkan gerak angin sebagai penghasil tenaga listrik.

Dengan potensi ini, Pemerintah bertekat untuk memanfaatkan energi angin untuk menghasilkan listrik. Maka semenjak awal tahun 2016, Pemerintah membangun PLTB di beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki potens angin berlimpah. Beberapa di anataranya adalah di wilayah Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan dan Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Pembangunan PLTB Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan sudah dimulai sejak April 2016. PLTB ini ditargetkan rampung akhir tahun ini sehingga dapat beroperasi pada awal tahun 2018. PLTB ini mampu menghasilkan 75 MW listrik dari 30 kincir angin. Dan merupakan salah satu proyek dari mega proyek Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yan mencapai 35.000 MW

Biogas

Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Masyarakat Indonesia hingga kini masih mengandalkan sektor pertanian dan peternakan untuk menggerakkan perekonomian. Ternyata, sektor pertanian dan peternakan selain menghasilkan pangan juga merupakan potensi untuk menghasilkan energi ramah lingkungan yang berasal dari fermentasi bahan-bahan organik yang dikenal sebagai biogas. Bahan-bahan organik yang sudah dimanfaatkan untuk biogas adalah limbah peternakan berupa kotoran sapi dan limbah tahu.

Energi dari biogas ini belum dimanfaatkan secara nasional, di Indonesia, tetapi dikembangkan pada skala mikro. Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) melakukan penelitian terhadap biogas dan membangun pos-pos penghasil biogas di beberapa desa. Misal di Dusun I Desa Kalisari, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah telah melakukannya. Masyarakat menyebutnya dengan Biolita (Biogas Limbah Tahu). Limbah cair yang dihasilkan dari industri tahu skala rumah tangga diolah dengan proses biogas melalui biodigester dan gasholder.

Selain untuk menghasilkan gas, pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian juga bermanfaat sebagai pengelolaan sampah. Dengan pembuatan biogas, sampah organik tidak lagi dibuang ke lingkungan dan mengotori lingkungan tetapi termanfaatkan dengan baik.

Pemanfaatan-pemanfaatan energi yang disebutkan di atas sama sekali tidak menggunakan menggunakan fossil fuel dan batubara dan sedikit sekali menghasilkan limbah. Jadi, sangat ramah lingkungan.

Saat ini, pemanfaatan energi ramah lingkungan memang masih diproyeksikan sebagai pembangkit listrik alternatif. Tapi, secara pasti dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tanpa bantuan asing, Indonesia berencana untuk berpindah dari sumber energi yang berasal dari fossil fuel dan barbara ke energi ramat lingkungan.