“Setiap kali memandang langit hitam di sudut barat, aku merasakan ada sebuah kekosongan. Apakah aku akan kalah?”

Dari belakang, Adhy memeluk Lea yang sedang berdiri di dekat jendela. Pipi Adhy basah mendengar perkataan istrinya tersebut. Namun, tak ada satu kata pun terucap. Hanya terdengar suara hujan yang sedari tadi enggan berhenti.

Advertisement

“Ceritakanlah, bagaimana kamu mencintaiku?” Pinta Lea dengan suara lirih. Tubuh Adhy mulai mendingin, dieratkan pelukan kepada istrinya. Perlahan mulutnya terbuka setelah jeda yang lama.

“Mudah untuk mencintaimu,” ucap Adhy.

“Entah mengapa dengan semua kekuranganmu sebagai manusia, kamu tetap saja sempurna di mataku. Aku selalu tergila-gila padamu. Aku jatuh cinta padamu di setiap hariku, bahkan setiap saat. Semua tingkahmu, parasmu, tutur katamu, tak pernah gagal membuatku terkagum. Aku sangat mencintaimu Lea,” lanjut Adhy.

Advertisement

Lea berbalik badan dan menatap kedua mata suaminya itu. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang jujur dan begitu mendalam. Lea tersenyum kepada suaminya. Senyum yang mengisyaratkan rasa syukur. Lalu Adhy menggenggam kedua tangan istrinya. Ia meneruskan kata-katanya.

“Engkau wanita yang akan kucintai seumur hidupku. Dan aku tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa dirimu. Aku akan selalu membutuhkanmu seumur hidupku. Seperti itulah aku mencintaimu.”

Lea dan Adhyastha berpelukan dalam hujan yang telah reda. Namun, tak berapa lama suara telepon rumah berdering.

“KRIIIIIIIIIIIIIIING!”

Ruangan itu tiba-tiba menjadi tempat yang sangat kaku.

“KRIIIIING KRIIIIING!”

Entah mengapa mereka berdua malah mematung. Enggan mengangkat telepon tersebut. Mereka masih berpelukan. Bahkan saling mendekap lebih erat.

“KRIIIIIING!”

Suara telepon tidak berhenti berdering.

Lea mulai melepaskan pelukannya. Ia melangkahkan kaki menuju telepon.

Diangkatnya telepon yang masuk. Ia mulai berbicara dengan orang lain di seberang sana. Suaranya sangat pelan. Adhy pun hanya bisa memperhatikan Lea dari sudut ruangan.

Tak lama kemudian, Lea menutup gagang telepon. Ia berjalan pelan ke arah suaminya.

“Berita yang kita tunggu datang,” ucap Lea yang setelah itu terdiam sejenak dengan muka yang pucat. Kata-katanya menggantung di antara keheningan.

“Hasil dari laboratorium telah keluar. Aku positif kista ovarium.”

Seketika suara tangis pecah memenuhi ruangan. Pipi-pipi mereka basah dengan air mata. Kesedihan seperti mengendap-ngendap masuk dan menutup rapat rumah keluarga yang belum dikaruniai anak itu.

Belum kering jejak hujan hari ini, langit sudah mendung kembali.

“Jadi, apakah kamu akan tetap mencintaiku?” Ucap Lea.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya