Ada sebuah rumor tentang surat, katanya ketika kita tak bisa berbicara langsung kepadanya melalui tulisan di suratlah mampu mewakili apa yang belum dirasa tuntas. 


Halo, apa kabar? Ada banyak hal seharusnya yang harus kamu tau dan yang ku tulis namun, sepertinya ketika aku terlalu banyak bicara kamu tak lagi mendengarkan. Ada banyak hal dan alasan-alasan yang mendasari kenapa harus berhenti ketika dua orang yang masih sangat peduli. Bukan hanya kamu yang tersiksa, percayalah setiap hari setelah malam itu. Malam yang panjang untuk berbicara seberani itu dengan keputusan sebelah pihak. Tidur ku tak lagi sama, makan pun aku tak tau berasa apa dan menulis ini pun aku sendiri belum mampu memberikan alasan kenapa aku jadi begini.

Advertisement

Bertemu dengan mu untuk pertama kali, aku masih ingat betul bagaimana aku tau kamu lelaki terlemah yang pernah ku pandang. Dengan wajah takut, senyum kaku dan getaran kecil di tubuhmu membuat aku tau bahwa kamu memberanikan diri untuk meloncat lebih tinggi dari kebiasaanmu hanya untuk memandang wajahku. Kita berjalan sebagai teman, kamu menceritakan apapun yang harus aku ketahui. Kamu mempercayakan itu padaku, orang yang terhitung baru di hidupmu.

Sementara aku mencoba menerka-nerka, apakah masih ada setitik harapan untuk kamu bisa mmebuatku percaya akan hubungan. Kamu orang baik, bahkan sosokmu adalah orang yang jarang kutemui di bumi ini. Aku masih belum berkeliling dunia bahkan Indonesia pun hanya tanah jawa yang masih ku pijak itupun belum seluruhnya. Namun berbicara dan memandangmu sampai kita berdebat panjang tentang suatu hal, aku bisa merasakan hal lain yang belum kutemui.

Apa kamu ingat? Perdebatan panjang itu membuat kita lupa waktu, malam larut dengan berbagai omelan ku kamu ladeni dengan sabar. Aku masih ingat betul bagaimana wicaramu yang teramat halus membuatku berusaha tak pernah meninggikan nada bicara ku meskipun dalam keadaan yang sangat buruk dan dari situalah aku tau kamu yang kutunggu.

Advertisement


Dulu aku telah menceritakan kisahku, kisah sebelum aku bertemu kamu.


Di mana aku pernah menjadi bodoh karena dia. Kuceritakan dengan detail dengan perlahan-lahan supaya kamu mengerti bahwa aku dulu adalah korban dari perasaan ku sendiri yang berharap terlalu jauh bersama dia. Dan mencoba supaya kamu mengerti bahwa “Aku tak ingin kamu menjadi dia, biarkan dia dan masalaluku yang jahat. Namun bersama kamu, aku ingin kamu dari awal bertemu sampai jika kita berpisah kamu masih menjadi baik”. Nyatanya bersamamu adalah perjalanan panjang yang bisa membuatku tau ada banyak hal yang membuatku berubah agar dapat bersanding denganmu dengan penilainku sendiri.

Sampai pada titik, “Haruskah sebanding jika ingin bersanding”. Kalimat pendek yang membuatku paham perlahan dan melegakan bahwa kamu tak pernah menuntutku untuk apapun. Kamu membuatku sadar bahwa cukup menjadi diriku saja tanpa perlu terlihat berlebihan cukup natural senaturalnya sampai itu diriku sendiri. Ada yang pernah merasakan bahwa kamu tak sebanding dengan pasanganmu? Dan iya aku pernah melewati masa itu, masa yang membuatku akan menyerah dan menyadari ternyata untuk menjadi bagian di hidupnya tidaklah mudah.

Kuceritakan tentang kamu pada mereka, kamu lelaki sederhana yang tanpa banyak gaya dan tingkah. Lelaki dengan penuh ambisi dan rencana sampai melupakan dirinya sendiri yang sudah berkorban banyak. Kata kamu, “Aku adalah anak lelaki satu-satunya dan bapakku sudah meninggal. Aku yang harus mengurus ibuku dan kakaku bahkan keponakanku.” Ambisimu yang terlalu besar dan kamu ceritakan padaku, kubalas amin di dalam hatiku sendiri sembari khawatir untuk dirimu sendiri yang tak pernah kamu pedulikan.

Aku juga masih ingat kamu sering berkata, “Aku jarang sakit, jangan khawatir.” Namun nyatanya kamu sering menelfonku untuk menghibur diri agar kesakitanmu membaik bahkan menghilang. Aku tak tau, apa yang sedang kamu kerjakan saat ini tapi ku pastikan kamu berusaha agar impian dan ambisimu nyata. Percayalah, bersanding denganmu harus penuh kekuatan dan aku akan jujur pada surat ini.

Hal yang tak mudah berkata jujur, berkata bahwa semua tidak baik-baik saja yang kamu ketahui baik-baik saja. Aku tak pernah cemburu pada teman-temanku yang setiap saat orang terdekatnya menghubunginya atau bahkan mereka dapat berjalan-jalan menikmati waktu berdua sesuka hati mereka. Aku tau kita berbeda dari pasangan lainnya dan kita bahkan sudah berbicara akan hal itu pada saat kita menjadi teman. Tapi yang membuatku berhenti adalah saat aku tau, kamu mewujudkan mimpimu bisa tanpa aku.

Kamu terlalu menikmati duniamu tanpa kamu sadari duniaku juga terkadang membutuhkanmu untuk menggenggam tanganku dan berkata, “Semua akan baik-baik saja.” Dan lebih parahnya aku menemukan sosok itu pada orang lain, aku tak bisa memungkiri betapa jahatnya aku saat kamu sedang berjuang mewujudkan mimpimu sementara aku menemukan orang lain. Sejujurnya aku sudah menghindar namun ternyata kamu tak pernah berubah, kamu masih menjadi sosok dingin dan tak pernah peduli.

Sudah kukatakan bahwa menjadi bagian di hidupmu membutuhkan kekuatan tahan banting yang tak pernah bisa pecah meskipun di banting berkali-kali. Dan aku mengakuinya aku kalah menjadi memal untuk bertahan. Aku kalah oleh mantra yang nyatanya semu, aku kalah menjadi sosok baik yang akan mendampingimu. Sudah kulakukan banyak hal dan kesempatan nyatanya kamu memang kamu. Atau aku harus mengakui bahwa harusnya kita tak pernah bertemu dan menjadi kita.

Seharusnya biarkan saja menjadi teman yang selalu berdebat denganmu yang tak pernah mau kalah. Atau seharusnya aku menjadi memal terlebih dahulu agar jika bersanding denganmu aku tak pernah merasa kalah. Ataupun aku harusnya sebanding denganmu agar aku tak pernah minder dan takut.

Seharusnya aku katakan sejak awal agar kamu paham, bahwa keputusanku bukanlah keputusan yang kuambil hanya dengan satu kali pemikiran. Dan kamu harus tahu, ketika lisanku berkata sedemikan rupa ada sesak yang teramat dalam yang tak pernah aku bagi pada siapapun kecuali Tuhanku. Ada air mata yang kutahan agar semuanya serasa baik-baik saja seperti awal kita bertemu dengan berawal senyuman dan aku ingin mengakhirinya dengan tersenyum. Dan dengan egoisku pula aku berharap kamu menjadi temanku saja tanpa ada hubungan yang membuat kita jenuh. Namun nyatanya kamu menolak dan menghilang seolah kita tak pernah bertemu.

Dari surat ini semoga kamu paham, bahwa yang harus kamu lakukan adalah mewujudkan seribu impianmu dan menjadi lebih baik lagi. Dan aku, semoga aku dapat sepadan denganmu supaya aku tak memiliki kecemasan. Entah nanti kita bertemu kembali atau tidak, entah nanti kita bertemu sebagai teman ataupun hanya seorang masalalu. Semoga kamu sadar dan paham, “Pernah ada seseorang perempuan biasa yang ingin menjadi luar biasa yang mencintaimu dengan dalam.”

Percayalah karena aku mencintaimu, aku tak ingin menjadi egois yang membuatmu harus mengirimkan kabar untukku dan memikirkanku. Semoga kamu memahami perjalanan singkat ini, maaf aku gagal menjadi baik dan terima kasih telah menjadikanku sosok lebih baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya