Awal perkenalan itu masih terasa biasa saja, tanpa ada rasa apapun, tetapi hampir setiap hari kita bertemu.


Mulai dari pertukaran nomor HP hingga sepanjang hari kita berkomunikasi dan melakukan video call melalui Whatsapp. Tibalah saat di mana hari ulang tahunku, aku tidak percaya kamu memberiku satu hadiah. Padahal kita belum memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Tapi aku percaya padamu, bahwa kamu tidak akan mematahkan hatiku seperti orang sebelum-sebelumnya.

Advertisement

Ya, saat itu kita mulai memutuskan untuk memulai hubungan yang serius, kamu membawa aku ke rumah orangtuamu dan mengenalkan aku dengan mereka. Keluargamu welcome kepadaku dan hubungan kita berjalan dengan baik walaupun banyak peraturan yang kamu buat kepadaku. Tapi aku tidak merasa aneh dengan peraturan yang kamu buat, karena aku merasa nyaman denganmu.

Kamu begitu pencemburu pun bagiku tidak masalah, karena itu menandakan bahwa kamu benar-benar sayang padaku. Kamu melarang aku berteman dengan laki-laki, kamu melarang aku pergi ke sana kemari dengan teman-temanku, kamu menyuruhku menghapus semua nomor lelaki di ponse ku, kamu menyuruhku menghapus semua pertemanan laki-laki di semua akun medsosku. Semuanya ku lakukan agar hubungan kita tidak berantakan.


Tapi apa yang ku dapat? Ternyata semua yang ku lakukan hanya sia-sia.


Advertisement

Tiba satu ketika aku melihat percakapanmu dengan kakakmu, kamu mengatakan kamu mengenal seorang wanita dan kamu bingung memilih antara aku dengan wanita itu. Ketika aku bertanya kamu hanya mengatakan itu hanya gurauan kepada kakakmu saja.

Saat itu lah hatiku mulai merasa tidak enak dan terus bertanya padamu, tapi kamu selalu menenangkan aku sehingga aku tidak terlalu curiga padamu. Tiba lah saat di mana masalah kita semakin besar, ketika itu aku melihat fotomu dengan wanita lain terpampang di akun Facebook-mu. Hati ku bak disambar petir! Aku terus bertanya padamu perihal siapa wanita itu, kamu hanya mengatakan jika wanita itu adalah mantanmu dan akun Facebook itu bukan milikmu. Tapi aku tidak percaya begitu saja dengan kata-katamu.


Aku hanya menguatkan hatiku agar tidak terlalu terluka. Aku tidak sanggup, aku kembali bertanya padamu siapa wanita itu, tapi kamu malah marah-marah padaku dengan mengatakan dia hanya mantan.


Beberapa hari kemudian ada wanita yang tiba-tiba chat aku melalui akun Facebook. Wanita itu bertanya perihal hubungan kita sedetailnya dan aku kembali bertanya padamu, tapi apa yang ku dapat? Kamu malah memblokir semua akun medsosku, dengan alasan bahwa ponselmu disita oleh orangtuamu. Benar-benar alsan yang tidak logis. Tapi aku diam dan tidak mempermasalahkan apapun, karena aku hanya menunggu waktu yg tepat.

Hingga aku mengganti nomor whatsapp, ternyata semua foto profil akunmu bersama wanita itu, tapi kamu tetap mengatakan kamu tidak tahu apa2 perihal semua akun itu. Ya, aku tidak akan pernah bertanya apa pun lagi padamu, aku hanya menunggu waktu hingga kamu jujur padaku. Aku akan mengikuti semua permainan dan sandiwara yang kamu buat.

Aku pernah berjanji padamu aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapan pun, maka semua akan ku tepati sampai kamu yang mematahkan janjiku itu. Janji yang kamu buat dan janji yang kamu ingkari akan membawamu kepada karma sesungguhnya. Mungkin Tuhan lebih sayang kepadaku sehingga Ia menunjukkan siapa kamu sebenarnya.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas semua yang telah terjadi. Kamu membuat semua sandiwara seolah-olah aku tidak tahu apa yang terjadi. Ingat sayang Tuhan tidak tidur, karma pasti berlaku. Sandiwaramu lah yang akan membawa kamu kepada karma sesungguhnya!


Silahkan kembali padaku, jika karma itu sudah terjadi padamu. Kamu yang mendua hati bukan aku!


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya