Teruntukmu Masa Laluku, Terima Kasih Karena Telah Mengajarkan Cara Bangkit dan Tersenyum Kembali

Mencintai itu bukanlah suatu pilihan, mencintai itu suatu keputusan.


Aku kira aku akan berakhir dengan nama belakangmu. Duduk di teras rumah sambil memperhatikanmu menikmati teh buatanku, karena kopi tidak baik untukmu. Tapi semuanya berubah. Jangankan nama belakangmu, namamu saja kini tidak pernah lagi menghiasi notifikasi ponselku.


Advertisement

Dari sekian novel yang kubaca, aku ingin menempatkanmu menjadi tokoh utamanya. Menjadi bintang dalam setiap skenario, yang bahkan aku sampai lupa tidak semua skenario itu berakhir indah. 


Siap mencintai berarti siap untuk terluka. Karena luka adalah bagian dari mencintai


Terdengar klise bahkan, jika diingat kala pertama ketika kau meyakinkanku sebagai seorang lelaki sempurna di mataku. Sorot mata tajam itu tak akan pernah bisa kulupakan, sejujurnya. Hingga hari itupun terjadi, layaknya sebuah skenario yang indah, kau menyutradarainya dengan sangat teramat baik. Hingga bahkan aku lupa, dan bodohnya memilih untuk terluka kembali.

Advertisement


Jatuh cinta, kemudian patah hati adalah sesuatu hal yang biasa.


Seseorang menyemangatiku kala itu. "Nikmatilah masa-masa patah hatimu. Menangislah, jika harus menangis. Bersedihlah, dengarkan lagu-lagu sedih, tulislah puisi patah hati. Lupakan segala sesuatunya sejenak. Mandi air hangat berjam-jam, minum coklat panas, pergi ke toko buku, mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah dikunjungi, luangkanlah waktu untuk patah hatimu". Kau hanya butuh waktu sendiri, memaknai setiap luka yang akhirnya kini harus kau syukuri. Tak apa untuk menyendiri, bersedih, mengutuk hari-hari, menyumpah cinta, atau bahkan membenci dia. Nikmati saja patah hati ini.


She will die if you love her not, And she will die ere she might make her love known, -William Shakespeare-


Dari semua roman yang telah kubaca, aku selalu terkagum dengan ungkapan William Shakespeare ini. Dan mungkin akulah yang dijelaskannya disana. Aku bahkan tak tahu, bagaimana dirimu mendefenisikan cinta itu sesungguhnya. Sampai sekarang, aku menyadari bahwa tenyata benar kata Shakespeare ini. Rasanya seperti aku akan mati ketika mengetahui kau tak sungguh-sungguh mencintaiku, bahkan sebelum aku mengerti arti cinta itu. Dan kini, lagi-lagi aku kembali jera untuk menjalin kisah yang baru.


Aku dan kamu, kita dipertemukan oleh takdir. Meski akhirnya tidak bersama.


Kala itu, aku berusaha sangat keras untuk meyakinkan hati ini bahwa kau adalah orangnya. Pernah merasakan kepedihan teramat mendalam, ternyata membuatku cukup kuat untuk bertahan dan kembali di posisi ini. Hari-hari ku kini hampa. Tak ada lagi notifikasi panggilan video yang terlewat darimu, atau bahkan sebuah omelan pesan singkat di ponselku menanyakan keberadaanku yang tak mengabarimu. Sejenak kupeluk diri ini, berterima kasih karena telah bertahan begitu hebat sampai sejauh ini.


Sedari awal aku sudah menyiapkan ruang untuk kecewa.


Aku masih ingat saat itu, ketika aku memeluk hangat tubuhmu, sambil mengucap doa dalam hati, memohon pada Sang Khalik bahwa aku menginginkanmu menjadi yang pertama dan terakhir dalam segalanya. Namun lagi lagi aku harus menerima konsekuensi karena terlalu mencintai. 


Aku siap untuk terluka, karena aku dilahirkan menjadi seorang petarung hebat.


Beberapa waktu telah berlalu, ada sedikit rindu yang kadang masih saja sering menghampiri. Tapi ternyata, aku sudah cukup kuat dan menyadari bahwa aku adalah petarung sejati yang bertahan hebat sampai sejauh ini. Terima kasih untukmu.


Jatuh, patah dan terluka lagi. Kini aku telah terbiasa menghadapimu.


Ternyata benar, kita akan menjadi lebih kuat ketika merasakan kegagalan itu. Dan diriku kini telah menyadari, pertemuan kita kala itu mungkin hanyalah sebuah batu loncatan untukku kembali melangkah lebih tinggi lagi. 

Teruntukmu masa laluku, mungkin bohong ketika kukatakan aku tak melibatkan perasaan dalam kisah ini. Terima kasih kuucapkan, karenamu kini aku menjadi lebih kuat untuk menghadapi dunia yang keras ini. Menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan musik kesukaanku, bepergian mengunjungi tempat yang belum pernah kukunjungi tanpa membawa ponsel, belajar di toko buku, mencoba fashion style yang berbeda dari biasanya, membaca buku saat di kereta, terima kasih. Aku sangat menikmati hidupku saat ini.

Untuk semua tentangmu, aku masih sangat ingat. Tentang menghabiskan waktu bersama denganmu, semua kegiatan yang kita lakukan bersama, obrolan-obrolan yang tak penting namun menjadi begitu menarik ketika kita membahasnya bersama, bahkan pertengkaran kecil yang kini mantap untuk kurindukan. Kisah singkat itu terasa sangat berarti bagiku.

Namun sayang, ternyata kita hanya ditakdirkan untuk dipertemukan, dan bukan untuk dipersatukan. Sampai saat ini aku masih bermimpi untuk bersanding denganmu di pelaminan. Namun kurevisi kembali, aku sangat ingin melihatmu bersanding dengan wanita yang sangat kau cintai di pelaminan, dan aku berharap bukan aku orangnya. 

Kini aku siap untuk hidup di hari ini, menutup lembaran demi lembaran masa lalu yang indah namun aku berharap tak terulang kembali. Kupertegas, aku sangat mencintai diriku yang sekarang lebih dari apapun itu. Bahkan aku tak lagi mengimpikan kisah Romeo Juliet terjadi dalam hidupku, karena pada akhirnya aku yang akan menyutradarai skenario kehidupanku dimulai saat ini.

Teruntukmu masa laluku, biarkanku menutup lembar demi lembarmu dengan damai, dan menulis lembar kisah yang baru. 


Pada akhirnya, namaku tak akan berakhir dengan nama belakangmu. Karena kini, aku menyadari bahwa kau adalah sebuah pembelajaran berharga untukku di masa lalu, terima kasih.


Tertanda, wanita yang dulu sungguh-sungguh mencintaimu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Dutch studies student at Universitas Indonesia.

CLOSE