Ketika yang melebur terasa kabur, ketika yang datang seolah menghilang, ketika yang mendekat justru tersesat, ketika yang berjuang malah dibuang, ketika yang berkorban menjadi sekedar teman.


Aku tau, mencintai sangat sensitif dengan kata egois, yang begitu mengikis, segala kebiasaan yang sejenak habis, hingga menimbulkan satu hal yang disebut tangis. Adakah cinta yang lebih murni, dari keinginan untuk melihat senyum dari yang dicintai, hingga balasan seolah tak lagi terpatri, hingga dari ini tersungkur tak berarti. Iya, kau bilang cinta itu seni, yang tak mempedulikan balasan walau setitik, bahkan dalam setiap lirik, kau tergambarkan pada ketukan detik.

Advertisement

Ah, narasi panjang mungkin takkan berarti dihadapanmu. Cinta yang katamu bisa dibentuk melalui kebiasaan, sudah kulakukan, namun nihil tiada hasil yang signifikan. Aku memang bukanlah wanita yang kau idamankan dalam "azzam" mu itu. Bahkan, aku bukanlah wanita yang dengan sigap kau siap untuk "berta'aruf" dengannya. Bahkan, aku bukanlah wanita sholihah yang diharapkan oleh keluargamu.

Jika wanita lain mencintaimu karena kharismatik dan cerdasnya kamu. Maaf, aku tidak. Aku mencintaimu dari kekuranganmu hingga lebihmu. Aku tetap menjadi pengagummu yang tidak kunjung bosan dengan segala sifatmu yang kata orang begitu membosankan. Aku tetap teguh memegang kata kagum kepadamu. Tak ada kata lelah dalam kamus hidupku ketika semua itu berhubungan dengan kebaikanmu bahkan kesuksesanmu.


Ketika orang lain mengatakan aku bodoh mengagumi orang 3 tahun lamanya, dengan akhir jawaban yang sungguh menakjubkan. Aku hanya bisa tersenyum. Itulah uniknya cinta.


Advertisement

Bagaimana mungkin masa kuliahmu dihabiskan untuk mengagumi satu orang yang aku sendiri tak tau bagaimana balasan rasanya? Jika aku boleh mengatakan. Aku akan mengatakan sebagai "masa kuliahku". boleh? terimakasih masa kuliahku. Meski rasa tak sepatutnya sesuai dengan kepedulian sejauh ini. Setidaknya bersamamu, aku mendapat banyak pelajaran. Kau cerdas, kau lelaki yang tak tau mengapa aku befikir kau akan sukses nantinya.

Dan tenang, aku akan tetap menghadiri pernikahanmu nanti. Aku akan sangat bangga melihat masa kuliahku ini bersanding dengan wanita yang aku yakin sungguh dicintainya. Kau tau, jika cinta tak lagi butuh ta'aruf, tapi tawashul. Sebelum kamu bilangpun, aku sudah mengupayakanmu dalam setiap tawashulku. Tapi, aku yakin tidak ada do'a yang tidak terkabul. Andai tidak sesuai dengan keinginanku pun. Akan diganti dengan yang lebih baik bukan? Tanggungjawab kita sudah selesai.

Saatnya kita melangkah sendiri – sendiri, mencari jatu diri kita. Semoga, kita dipertemukan di puncak kesuksesan nantinya. Entah sudah ada cincin di tanganmu, atau belum. Yang terpenting, melihatmu sukses adalah tujuan utamaku sejak aku memutuskan untuk mencintaimu. Oleh karena itu, janganlah heran. Jika aku tak pernah lelah untuk membantumu. Karena, hati ini cuma satu bukan? aku akan seutuhnya dalam mencinta. Tenang, aku tak memaksamu untuk membalas atau bahkan tidak enak hati karena perlakuanku sejauh ini padamu. Cinta memang begini adanya harus menyiapkan hati yang maha luas. Agar siap dengan goresan yang akan merobek kapanpun. Terimakasih masa kuliahku. Air mata ketika malam takbir mungkin cukup. Hingga tak perlu menumpahkan air mata lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya