Kamu.

Laki-laki yang telah mengisi hari-hariku setahun belakangan ini. Menghabiskan waktu diperantuan bersama dengan berbagi suka dan duka. Setiap waktu kita sisihkan untuk saling memberi kabar atau bertemu meski hanya sekedar bertukar cerita kegiatan apa hari ini? atau makan apa hari ini?

Advertisement

Kamu. Laki-laki yang berhasil membuatku nyaman dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Menjadikanku sebagai wanita melankolis yang bisa merasa tersiksa rindu jika kau tak memberi kabar.

Aku masih ingat, bagaimana kita bertemu. Dimulai dari sekotak kartu permainan yang ku pinjam darimu perkenalan kita menjadi semakin dalam. Dilanjut pesan singkat yang tadinya terasa dingin dan semakin lama menghangat bahkan membuatku seakan kecanduan akan kegiatan kecil ini.

Namun, dipertemuan kita yang terakhir tiba-tiba saja kau bercerita mengenai wanita lain dengan penuh wajah sumringah. Kau ceritakan siapa wanita itu dan bagaimana perangainya. Sedang aku, hanya sanggup mendengar dan membalas tatapan senyum kecut kepadamu.

Advertisement


Andai kau tahu, saat itu aku terluka.


Ketika kita berdua duduk di bangku taman kota dengan penuh senyuman kau lontarkan kata-kata


"Terima kasih, kau sudah mau menjadi teman terbaikku"


Meski hati ini terasa sakit. Tapi, aku merasa lega setidaknya kau telah mengatakan kebenaran. Kebenaran yang selalu ku tunggu selama ini. Lebih tepatnya sebuah kebenaran sekaligus jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini ku pendam darimu atau bahkan doa-doa yang selalu aku panjatkan kepada Tuhan agar Tuhan membantuku menemukan jawabannya.


Setidaknya aku lega, kau membuatku lebih merasa tenang.


Tenang akan segala hal disekitarku, sekitamu dan sekitar kita. Tak mengapa, jika memang akhirnya kita bukan berakhir sebagai pasangan tetapi sebagai sahabat. Aku selalu berharap semoga kebahagian kita sebagai sahabat akan selalu terjaga meski waktu, jarak dan keadaan akan berubah.

Terima kasih atas segalanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya