“Suatu kegagalan yang tak akan pernah kulupakan. Kehilangan dirimu dengan cara yang begitu mengenaskan. Kau direnggut seperti kolonial Belanda merenggut seluruh tanah para petani miskin yang sedang kelaparan. Kau diam-diam telah dibidik oleh orang lain, sedangkan saat itu aku sama sekali tak peka dan sadar akan ancaman yang sedang menghadang. Kini semua itu telah terjadi, penyesalan tak akan mengubah isi hatimu untuk berpaling lagi kepadaku. I can’t force the god to replay the time like a video player, or even ask the world to repeat the rotation.”


Hubungan kita sudah berjalan lama. Kita telah begitu mengenal satu sama lain. Kau bahkan telah mengenal ukuran sepatu dan ukuran jam tangan kesukaanku. Bagiku kau adalah pasangan yang akan benar-benar menjadi pasangan hidupku, always think that you will be mine forever.

Advertisement

Menjalin kasih bertahun-tahun ternyata tak menjamin itu semua, aku terlalu lengah dan egois sehingga tak mampu untuk menjaga mu dengan baik. Hingga kini akhirnya kau telah menjadi miliki orang lain, yang tak lain adalah sahabatku juga. Nothing to say, but you finally have gone. Moving out from my heart and will never back.

Pahit memang rasanya apabila mengingat masa-masa kita berdua bersama. Dulu kau berjanji akan setia kepadaku. Akan selalu menunggu di depan pintu rumah menanti kehadiranku dengan penuh senyuman yang begitu indah. Kau juga dulu pernah mengucapkan sumpah setia kepadaku, hingga pelosok ujung telingaku mengingatnya mentah-mentah tanpa ada satu kata pun yang terlewatkan.

Sayangnya, kini kau telan sumpah itu seperti menelan air liurmu sendiri. Pandanganmu sudah berbelok arah, tak jauh dari hadapanku. Aku ter-tikung oleh sahabatku sendiri. Dan kau terseret oleh cintanya. Aku lengah, hingga akhirnya kau jatuh ke pelukannya. And the stupid is when I saw it directly using my own eyes.

Advertisement

Siang dan malam rasa menyesal itu selalu menghantuiku. Berhari-hari tidur ku tak pernah lelap karena memikirkan semua kenangan kita berdua. Namun semua itu kini hanya akan jadi kenangan belaka. Ibarat mentari termakan rembulan. Dunia memang kejam, namun tak sekejam diriku yang telah mencampakkan dirimu hingga akhirnya membuka pintu masuk bagi orang lain untuk memasuki hatimu.

I never realize it. never think that he will do it at me. Damn it, I don’t really want to remember it. Remember it will never solve this problem. Once again, everything has already gone. I have nothing right now since you have gone.


“Sayang, aku tak akan pernah menyalahkan dirimu karena telah berpaling ke hati yang lain. Just say, it was my mistake. I can’t stand in your side when you need me. I can’t say I love you when you need romantic word. Bahkan aku tak pernah hadir di saat tubuhmu sedang kedinginan membutuhkan kehangatan. Salahku karena tak mampu menjadi pria yang siap siaga untukmu. Hingga akhirnya ada prajurit lain yang mampu memberikan apa yang kamu butuhkan when I can’t stand in that position. Sahabatku malah lebih baik dan perhatian kepadamu. And the stupid is, I never realize and know about it. I only realized it when you’re not mine, and you are standing in his side”


Untuk Mantan Kekasihku…

Engkau pernah bilang kepadaku agar aku bisa tetap setia menjalin hubungan ini. Sekarang engkau sendiri yang memutuskan tali kasih itu sendiri. Kau bilang kepadaku secara langsung dengan bibirmu sendiri bahwa kau sudah tak mencintaiku lagi. Slow but sure, kata-kata itu ibarat pedang yang menusuk ulu hatiku kemudian kau putar-putar dengan rasa benci.


Luar biasa sakitnya. Namun itu semua tak masalah. Aku lah yang salah karena tak mampu menjagamu dengan baik. I am so sorry for being ungentle man for you.


Sayang, aku memang sangat mencintamu. Namun aku juga tak akan bisa memaksamu untuk mencintaiku. Aku tahu bahwa menjalin hubungan ini tanpa cinta dari kedua belah pihak ibarat kursi tanpa kaki, ia tak akan pernah mampu untuk berdiri. Oleh karena itu aku sadar, maka aku memilih untuk mundur saja.

Kau tak akan ku rebut kembali dari darinya, semua kisah cinta kita mungkin sudah saatnya ku relakan untuk dilepaskan tanpa sisa. Or maybe this is the time for me to learn to forget you, all things about you. Your smile, your romantic eyes, your witty joke finally must be forgotten. The time forces me to do it.

Aku tak pernah menyesal mengenalmu. Aku juga tak pernah menyesal karena telah jatuh cinta kepadamu. Jatuh cinta kepadamu adalah anugerah langka yang tak akan pernah ternilai harganya. Setidaknya mencintaimu pernah membuat ku merasa bahagia dan nyaman. Mencintaimu adalah sebuah harta bagiku. Dan karena itu, kini aku harus rela melepaskan harta itu diangkat. Melalui sahabatku sendiri yang telah menikung dengan indah dan dengan cara yang sangat ksatria.


“Aku rela engkau pergi. Namun mohon satu hal, jangan kau paksa diriku ini untuk menghapus segala kenangan-kenangan indah yang pernah kita lalui bersama. Tak satu pun memori masa-masa pacaran kita ingin ku hapuskan dalam album asmara kita. Biarkan saja ia menjadi kenangan masa lalu yang perlu kujadikan sebagai tempat untuk bercermin. Bahwa aku adalah pria bodoh yang telah lengah menjaga kekasihnya sehingga harus terjatuh ke dalam pelukan orang lain. Biarkan saja segala kenangan cinta manis itu mengendap hingga berkarat di dalam lubuk hatiku yang terdalam. Melupakan ciuman dan pelukan yang telah menancap di tubuhku adalah perbuatan yang akan sangat menyiksa ku. Lantas biarkan saja aku menyimpannya rapat-rapat di sini sendiri, sementara kau bebas di luar sana bersamanya, kekasih barumu”


Untuk Sahabatku…

Apapun yang telah kau lakukan selama diriku sedang lengah tak perlu kau ingat lagi. Kau tak perlu menganggap itu sebagai suatu dosa, just say it was a beautiful mistake that you need to enjoy along your life. Bagiku tak akan pernah ada kata mantan sahabat, kau tetap adalah sahabat terbaikku.

Kau memang telah menikungnya dariku, aku memang merasa sakit akan semua perlakuanmu. Namun aku juga tak boleh egois, karena cinta memang tak mengenal siapa orangnya. Termasuk di saat engkau ternyata mencintai kekasihku.


Terima kasih telah memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih kepadanya selama aku sedang lengah dan tak peduli kepadanya. Terima kasih karena telah mengajari ku arti dari menjaga. Segala macam hal yang telah kau lakukan kepadaku telah memberikan cambuk yang luar biasa untuk kebaikanku di masa yang akan datang. Terima kasih telah menikung, karena dari mu aku akhirnya bisa belajar arti dari lebih peduli dan menjaga.


Kini aku sudah tak mampu menjaganya lagi, maka sudah menjadi hak mu untuk menjaga dan peduli terhadapnya. Jagalah ia dengan baik, cintai ia dengan tulus, dan belai lah ia dengan lembut tanpa luka. Jaga ia baik-baik, jangan sampai ia diambil oleh orang lain. I want you to keep her well, and don’t ever do something than can repeat a similar history.

Untuk Kalian Berdua…

For both of you, nothing too much to say. Kalian adalah dua orang yang berharga dalam hidupku. Kalian sama-sama memiliki ruang khusus dalam hatiku. Satu adalah sahabat yang begitu ku sayangi, dan satunya lagi adalah kekasih yang amat aku cintai.

Aku ternyata kalah. Kalian berhak untuk bersama karena kalian mencintai satu sama lain. Rajut lah cinta kalian dengan baik. Maafkan jika kehadiranku justru pernah menjadi batu penghalang bagi kebahagiaan kalian berdua.

Don’t care too much about my feeling. Just go ahead, you deserve to be happy together till the end of the day.

Untuk Diriku…

Kini diriku sudah tak pantas lagi memanggil sayang. Kau sudah lepas dari jeratan cintaku. Masa-masa pacaran kita dahulu pun mungkin sudah tak sewajarnya untuk ku kenang, akan terlalu berdosa diriku untuk melakukannya. Maafkan kesalahanku karena tak mampu menjagamu dengan baik.

Maafkan diriku yang tak mampu memberikan perhatian yang cukup agar kau tetap merasa aman dan dicintai. Tak dapat dipungkiri bahwa aku sangat menyesal telah tak menjaga mu dengan baik. Dan kini aku hanya mampu meneteskan air mata di saat melihat mu sendang bergandengan tangan di depan mataku tanpa sekat apapun. Semoga dia akan lebih menjaga mu, more than what I had given and done for you.

Sebelum semakin haram untuk mengatakannya, izinkan aku untuk terakhir kali ini saja untuk mengucapkannya. I love you, Sayang. Go ahead with him and don’t look at back. I am only your past that you must erase from your memory. My death without your love shouldn’t be your watching. Just let the time kills me slowly and finally gone like a dust in desert.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya