Terima Kasih untuk Perasaan yang Tak Terbalaskan

Apakah mencintai butuh balasan?

Berawal dari perkenalan yang tak di sengaja. Aku tak benar-benar yakin menyukaimu. Kita berkenalan lewat sebuah media sosial yang pada saat itu sedang tren. Aku berusaha hanya menganggapmu teman biasa karena aku tak menyukai caramu memperlakukan wanita.

Advertisement

Perlahan kau berusaha mengenaliku lebih jauh walau aku tahu aku tak ingin begitu memahamimu. Kesukaanku dan kamu cukup berbeda jauh. Aku suka berdiam diri dalam sepi, menulis, dan menuangkan perasaanku di sana. Sedangkan kamu, cukup terbuka untuk urusan perasaan. Apakah ini namanya jodoh? Aku percaya saja.

Aku mencoba menyukai kehadiranmu di setiap harinya walau aku ragu hubungan ini masih bisa disebut teman karena kau selalu bilang ingin berusaha lebih dari sebatas teman. Aku mencoba untuk memahami sisimu dan hobimu.

Perlahan, aku mulai terperangkap dalam simfonimu yang indah dan lupa untuk meyakinkan diri jika itu adalah permintaan orangtuamu karena hanya mereka yang suka denganku. Kau hanya menurut padahal dalam hatimu kau masih mencintai mantan yang sudah lama singgah di setiap hati dan lubuk matamu. Aku cemburu. Apakah ini cinta? Tapi mengapa sakit?

Advertisement

Andai aku tak secepat itu percaya padamu, aku takkan memberikan hatiku sepenuhnya untukmu. Namun ku selalu yakin kebahagiaanku ada di kamu walau kamu tak pernah sekali melihat atau merasakan kepercayaanku yang mendalam itu. Rasanya kau hanya hempaskan aku di saat tak membutuhkanku. Tapi kau raih aku di saat kau membutuhkanku. Inikah sebuah perasaan tulus?

Bodohnya, aku hanya mengikuti kartu permainanmu. Ku berharap kau memang tulus mencintaiku apa adanya. Ah, apalah kamu ini. Penilaianku sungguh salah. Kau campakkan aku seperti tak ada artinya lagi. Kau tak pernah melihat sisi baikku yang telah berhasil membuatmu berguna di depan ortumu.

Advertisement

Kau tak pernah memahami seluk-beluk keinginanku hingga aku sendiri yang tersiksa karena tak ada tempat berbagi. Kau yang bahagia untuk dirimu sendiri… Lalu apalah guna hadirnya aku di sini? Hanya sebagai hiasan atau mainan saja?

Kini aku harus membalikkan kartu lamaku agar hidupku berarti lagi walau tanpamu. Kepergianmu memang membawa luka untukku tapi ku percaya karma akan terus berjalan. Aku hanya berharap, semoga kamu bahagia tanpa diriku lagi. Pantaslah, perpisahan ini harus dijalani karena aku pun ingin bebas dari jeratan cinta palsumu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Berkarya dalam diam, menyatu dalam alam, hanyalah seorang wanita biasa yang menyukai hal luar biasa, hobi menulis dan melamun mencari inspirasi