Tak akan tercipta luka di sini jika saat itu aku tak membiarkan ini tumbuh terlalu dalam dan tak akan pernah ada cerita jika saat itu aku putuskan untuk tak menemuinya lagi.

15 Maret 2017 dimana jam terus berputar dengan begitu cepat hingga degup jantung tak terkira hentakannya menunggu seseorang yang sangat paling aku harapkan untuk menghadiri dimana ini adalah hari yang tak akan pernah bisa terulang.

Aku menunggumu hingga jarum jam berpindah-pindah angka bahkan dari mentari terbit, senyum riang gembira, tangis sedu sedang terlewati dan bahkan aku tetap menunggu hingga matahari akan pulang melambaikan jingganya pada dinding langit yang saat itu tak ku pedulikan keindahannya. Aku terus menunggunya hingga satu persatu menjauh dan pulang.

Entah kenapa harapan besar selalu ku tanamkan meski kenyataannya sangat pahit. Gedung itu menjadi saksi akan berapa ribu kali aku melihat jam di tangan kananku, risauan hati serta gundah jiwa yang tak kunjung reda hingga kepulanganku saja aku masih berharap ada setangkai mawar yang akan memberikan obat hati yang saat itu seperti tersayat. Padahal mawar di tanganku banyak sekali tapi ini semua tak ku hiraukan hanya darinya yang selalu ku harapkan, betapa bodohnya aku saat itu hingga air mata terjatuh kembali .

Banyak yang terlewatkan, banyak yang seharusnya ku nikmati tapi semua aku abaikan demi harapan yang sebenarnya tak mesti ku harapkan. Karena sebenarnya hatimu tau akhirnya akan seperti apa tapi aku selalu saja melawannya seolah-olah harapan itu akan menjadi nyata.

Advertisement

Hingga saat ponselku berdering dengan ucapan kata maaf dia tak bisa menemuiku di jam dimana hati ini sudah hancur .

Bagaimana bisa aku mengumpulkan kepingan hati yang sudah berserakan ? Hanya dengan kata maaf saat itu hati ku tak terobati, kecewa yang begitu sangat mendalam. Kenpa tak kau katakan dari awal? Kenapa tak kau bilang saja jangan membuat ku menunggu tanpa kepastian.

Kamu tak pernah tau banyak hal yang terlewatkan, banyak hal yang aku abaikan hanya demi menunggu mu. Diam yang hanya aku bisa lakukan saat pesanmu ku baca. Rasa nya ingin marah sekali. Tapi aku tak kuasa. Cintaku mengalahkan segalanya dan cintaku selalu memafkan. Entah aku ini bodoh atau terlalu mencinta. Yang jelas saat dia memberikan penjelasan aku menerimanya dan aku menemuinya di esok hari. Yang seharusnya tak ku lakukan .

Mungkin seperti yang ku ceritakan dari awal jika aku tak menemuinya pada hari itu kisah ini akan berakhir dengan luka yang mungkin bisa terlupakan hanya dengan menghapus jejak oleh hujan semalam. Tapi, sayang takdir menuntunku untuk menemuinya dan memaafkannya .


Hari itu menjadi obat luka yang kemarin hancur meski kecewa tapi senyum dari seorang malaikat luar biasa yang telah merawatnya menjadikanku lupa dan terhapus begitu saja akan goresan kemarin.


Bahagia berlipat-lipat saat aku bisa mengurusinya juga bisa tertidur lelap di samping malaikatnya. Sungguh moment indah yang lama tak ku rasakan dari dekapan seorang ibu.

Hingga cerita itu berjalan kembali dengan indah meski kadang lika-liku menerjang, kita masih bisa baik-baik saja pernah suatu ketika aku meminta putus karena ia yang selalu membuatku risau dan tak mempedulikanku saat itu pun kau langsung mengiyakannya.

Lalu satu pekan kemudian waktu menemukan kita kembali pada damai mata serta hati yang sangat saling merindukan dan kami memutuskan untuk kembali bersama karena aku masih sangat mencintainya aku berjanji untuk menerima akan sifat kecuekannya hingga kami pun memegang erat tangan kami di suasana malam hingar bingarnya stasiun yang sama sekali tak kami hiraukan.


Kau begitu sangat dalam menatapku hingga aku enggan untuk pulang padahal malam itu jarum pendek pada arlojiku sudah melewati angka ke sembilan dan jarum panjangnya sudah hampir menghabiskan sisa pergantian waktu yang akan berganti .


Akhirnya waktu pun memang sudah harus memisahkan. Berat sekali langkah ini saat harus meninggalkannya. Hingga sesampainya di rumahku ponselku berdering rasanya baru kali ini dia memastikan bahwa perempuan yang jalan malam bersamanya pulang dengan baik-baik saja.

Aku merasa mulai ada perubahan sedikit demi sedikit untukku. Melewati hari dengan masih menjalin kebersamaan saja karena setelah kita berpisah sepekan. Banyak sekali cerita baru mulai dari sedu sedan hingga bahagia kami lewati dimana saat itu kamu pernah melewati waktu seharian hingga jam berputar kembali pada tempat dan angka dimana kamu bertemu. Karena kami sangat saling merindukan dan untuk menepis rindu kami menghabiskan waktu hingga tak kami sadari dingin malam tak terasa karena hangat nya matamu serta damainya genggamanmu berminggu-minggu kami tak berjumpa kesibukan dan jarak yg kadang tak memungkinkan.

Aku merasa terjaga sekali malam itu meski hati tak bisa dibohongi bahwa pada kenyataannya ada rasa yang menjanggal yang selama beberapa bulan ini ku rasakan. Aku terus menepis semua rasaku demi kelancaran hubungan kita. Meski kadang aku sering sekali bertanya kepadanya yang mungkin dia pun bosan menjawabnya.

Aku pun tak pernah puas akan jawabannya karena tak pernah ku dapati dengan pasti hingga aku memutuskan untuk tak menanyakan kembali karena aku lebih memilih mempercayainya. Semakin lama rasaku kuat sekali dan entah kenapa apa yang dia sembunyikan terasa sekali aku tak pernah memiliki kesempatan untuk menanyakan kembali apa yang sedang ku rasakan karena waktu dia begitu sangat sedikit untukku.

Tak pernah merespon telepon serta pesanku dengan tepat waktu aku selama ini merasa asing dan tak di anggap tapi aku masih dengan kebodohanku mempercayainya selalu. Hingga di penghujung waktu bulan Mei aku menemukan pesan yang dia sembunyikan yang tak pernah ku tanyakan. Karena aku ingin tau seberapa lama ia mampu membohongiku sejauh mana ia mampu menyakitiku dan seberapa tega ia terus merobek hati ini.

Aku sering sekali di lupakannya bahkan pernah 2 hari tak di beri kabar tapi entah kenapa kepada wanita lain dia sangat begitu peduli hingga kadang rasa ini sakit sekali keterbukaan selalu ku berikan untuknya mulai dari keluarga hingga perasaanku yg sebelumnya bahkan pertemuanku dengan mantanku yang akan pergi jauh pun aku meminta izinnya padahal saat itu aku bisa saja pergi tanpa harus meminta izin.

Tapi sayang hati ku sudah tertanam tentang kejujuran dan keterbukaan dan aku lebih memilihnya mengetahui dan dia mengizinkanku jika kau tau dia memintaku kembali, mungkin kau akan melepaskan juga.

Karena kau memang sangat tak peduli padaku tapi aku bodoh aku malah memilih untuk tetap bertahan pada cinta yang tak pernah pasti. Benar saja. Aku salah memilih hingga semua apa yang sudah ku korbankan di balas dengan kebohongan yang seharusnya dia tak menutupinya lama membuatku tersiksa dulu dan membuatku harus berjalan sendiri. Mencari tau tentang teka-teki yang sedang kau mainkan.

Kau mampu menyimpan semua kebohonganmu dan mampu memberiku rasa yang tak pernah bisa ku lupakan bagaimana sakitnya.Tapi kau harus tau aku berterimakasih kepadamu atas luka yang kau cipatakan untukku karena dengan lukamu aku belajar mengetahui tentang cinta tentang kepalsuan dan tentang kebohongan berkat luka yang kau ciptakan


Kehilanganmu sekarang akan lebih baik aku tak pernah menyesal mengetahui kebenarannya saat ini. Tuhan menyelamatkan hatiku pada luka sudah saatnya aku tau.


Semua tanya ku terdahulu sudah terjawab kini saatnya aku menyembuhkan luka hatiku dari seorang pria pencipta luka berkatmu aku lebih kuat kehilangan pun adalah cara Tuhan menjagaku untuk tidak hidup bersama pengkhianat Tuhan teramat mencintaiku hingga mencegah semua kesakitan yang mungkin akan kamu lakukan kembali jika aku tak mengetahuinya dari awal


Suatu saat nanti kamu akan tau bagaimana rasanya mencintai namun di acuhkan bagaimana rasanya semua pengorbanan di balas dengan dusta sekali lagi aku berterimakasih kepada Sang pencipta lukaku semoga bahagia menyertaimu selalu.