Hi There! Ini aku dulu, aku pribadi yang ambisius, jika aku inginkan sesuatu maka itu harus terturuti jika tidak maka akan merajuk tak karuan. Aku suka menyakiti hati orang lain, tanpa pikir panjang untuk melakukan hal itu, hal termudah yang bisa aku lakukan, pribadi yang tidak sabaran, tak mudah percaya begitu saja terhadap apapun benci dengan kebohongan, dan susah untuk menerima seseorang ikut berpetualang dalam hidupku. Akupun juga tak peduli dengan sekitarku, bahkan keluargaku sendiri. Namun, kepribadian yang jelek, lambat laun berhasil kuhilangkan, seperti menyakiti hati orang lain bukan lagi hal yang sangat mudah aku lakukan, mungkin memang aku ceplas ceplos tapi hal itu kini lebih realistis saja. Sialnya hanya sikap itu saja yang berhasil aku hilangkan, tidak dengan yang lain.

Kamu temui aku, dengan sisa pribadi ku yang masih terbilang buruk. Butuh beberapa pemikiran untukku menerima kamu dalam hidupkku, mengingat buruknya kisah ku sebelumnya, kali ini aku tak ingin hanya sekedar bermain-main. Aku menerimamu untuk berpetualang bersama sama. Lama bersamamu pun, aku tak sadar akan hal yang lambat laun berubah pada diriku. Aku ini, mungkin bisa dibilang tomboy, seperti kata teman kebanyakan, itu tak menjadi suatu masalah bagiku begitupun dengannya, aku nyaman.

Advertisement

Pada suatu waktu, aku berpenampilan tak setomboy biasanya dan kurasa dia suka. Lambat laun, aku yang awalnya tak terbayang akan berpenampilan lebih beda dari sebelumnya, bahkan aku men-judge aku tidak akan mengulanginya. Tanpa sengaja, aku mulai menyukainnya, tak bisa aku bohong, karena dengan sendirinya aku lebih suka melihat diriku berpenampilan yang lebih beda, mengoleksinya untuk dipakai kembali dan kembali, meski terkadang aku rindu untuk tetap berpenampilan tomboy, tapi itu tak seberapa inginnya dibandingkan dengan berpenampilan yang lebih beda. Dari sinilah, semua dimulai.

Semakin beranjak dewasa aku semakin mengerti, sepertinya dia ini berbeda. Seperti kata


“SEMUA ORANG PUNYA CARANYA SENDIRI BAGAIMANA MENCINTAI SESEORANG”.


Advertisement

Masuk akal, kupikir ini dia. Aku yang awalnya berpikir, kenapa dia lebih suka aku berpenampilan beda dari yang sebelumnya padahal yang menggunakannya ya aku, orangnya sama tapi hanya beda penamilan saja, sempat muncul pemikiran apakah dia menyayangi oranglain dalam diriku. Saat ku tanya mengenai penampilanku yang lebih beda, jawabnya hanya “lebih pas”. Aku tak begitu paham dengan jawabnya, tak lagi aku pikir panjang. Tapi ternyata, setelah beberapa waktu aku mulai mengerti, perlulah bagi kita sebagai seorang muslim untuk menutup rapat aurat kita, tak hanya sekedar berjilbab saja, tapi menutup seluruh lekuk tubuh, disini pun aku merasa aku lebih dekat dengan tuhanku. Disini, aku mulai click. Tak pernah sekalipun dia memaksa, mengguruiku, bahkan tak pernah complain ini itu tentang penampilanku, tapi dengan jawabannya “lebih pas” aku mengerti tujuannya sekarang. Caranya untuk menuntun dan memperbaiki lebih baik itu unik tanpa harus memaksa dan menggurui. Satu hal lagi yang membuatku seakan wake up, kasih sayangnya pada keluarga, adik, orangtua, itu membuatku ter-enyuh, sudah cukup aku tidak menghargai keberadaan mereka disekitarku yang bahkan merekalah yang selalu terus memperjuangkan segalanya bagiku, jahatnya aku selama ini. Kemana rasa syukur ku pada tuhanku? Aku tersadar dari egoisnya diri ini.

Darinya aku belajar, sering kuamati, kudengarkan apa yang dia katakan, pendapatnya. Awalnya aku berpikir bahwa dia hanya pemuda biasa yang tak tau isu isu atau tak peduli agama,politik dan segala gimiknya, yang hanya sekedar tau dan setelahnya sudah. Ternyata, aku salah, bahkan dia tahu lebih dari yang aku tahu, ternyata dia peduli lebih dari apa yang aku pedulikan, wawasannya luas. Selalu menarik, menarik membicarakan berbagai hal dengannya, begitupun jika saling beropini. Dari sinilah, aku mendorong diriku untuk lebih banyak membaca dan pedulil dengan sesuatu yang tak pernah kuingin tahu, bahkan juga tentang agamaku, begitu mirisnya aku yang bahkan tentang agamanya sendiripun aku enggan untuk peduli, wawasan luas itu penting untuk kamus pengetahuan kita dan tentunya untuk merasakan serunya berbicara apapun dengannya, sungguh menarik hahahaaa…

Begitu lama aku bersamanya hingga saat ini, berbagai fase telah dihadapi, hingga terkadang kepercayaanku sempat goyah karena bumbu dari pemikiranku sendiri. Namun, semua itu tak lantas menjadi alasan kita untuk berhenti menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Beberapa orang mungkin akan lari dari masalah, tidak dengannya, lagi-lagi prasangka ku salah. Dia selalu menuruti apa mauku selama dia bisa, tapi saat dia tak bisa apakah aku merajuk? Jawabnya iya. Itulah aku dulu. Sekarang aku mulai mengerti bahwa hidupnya tak selalu tentang aku, diapun punya hidup yang harus dia selesaikan, toh bukan untuk melakukan hal yang aneh-aneh karena dia juga bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, disini aku mulai berpikir kalo dia selama ini selalu ada dan memberikan kasih sayangnya, lalu kenapa aku se-egois ini padanya. Bukannya mendukung malah menuntut hal yang merepotakan. Pribadiku menjadi lebih sabar dan mengerti, meski terkadang aku pernah merasa marah, aku lebih memilih untuk menyendiri dan diam sejenak untuk mengontrol emosiku, jika aku sudah selesai dengan amarahku, aku akan membicarakannya denganmu. Aku anggap itu sebagai ujian terhadap rasa sabarku, sebisa mungkin tak ingin aku merepotkannya dengan aku yang masih manja ini. Aku pun lambat laun paham, bukankah kita masih sedang berpetualang sama-sama, maka dari itu dibutuhkan kesabaran, kegigihan, pengertian satu sama lain serta kemandirian, mungkin manja sesekali di-ijinkan olehnya sebagai bumbu pemanis,


Aku menjadi lebih tenang dengan hubungan ini hingga dengan segala doa yang mengiringi untuk sampai pada puncak.


So far, aku banyak belajar. Kalo aku tak banyak belajar dan kurang peduli terhadap banyak hal yang harusnya bisa aku syukuri nikmat dari tuhan, hingga kamu temukan aku lalu menuntun, menyayangi, menasihati tanpa sekiditpun menggurui dengan caramu yang unik. Pribadiku, kurasa berubah bukan hanya karena mu tapi juga karena tuhanku, aku merasa lebih dekat dengan-Nya, perubahan ini menjadi lebih baik, jadi apakah masih berpikir dia tidak menyayangiku apa adanya? Jawabnya tidak.


Kamu begitu baik, sehingga akupun mendorong diriku untuk menjadi baik dan pantas untuknya atas ijin-Nya. Amiin..


Caranya menghargai, bersyukur, menjaga setiap apapun yang tuhan berikan padanya membuatku wake up, begitupun cara dia menghargai seseorang. Cara tuhan sungguh tak terduga..

Terimakasih telah menjadi perantara-Nya, ini untukmu kasih..

With Love, kunalmoon~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya