Terimalah Diri Kita Apa Adanya

Tahukah anda siapa yang paling dekat dengan kita? Diri kita adalah yang paling dekat dengan kita. Walaupun sadar akan hal itu, kebanyakan di antara kita masih sulit menerima diri apa adanya. Berikut ini adalah beberapa faktor yang yang bisa menjadi penyebabnya. Namun sebelumnya, bacalah dengan teliti dan tentukan orang yang bagaimanakah anda sekarang. Jika anda tidak menemukan di kelompok mana anda berada, kemungkinan anda telah berada di tingkat penerimaan diri yang sesungguhnya.

Advertisement

Kita langsung saja kepada inti persoalan, yakni faktor yang dapat menyebabkan kita menjadi sulit untuk menerima diri apa adanya. Pertama, kita sulit menerima diri karena menganggap bahwa diri kita saat ini tidak sesuai atau seideal yang kita harapkan. Kita mengharapkan diri yang lain yang mungkin berparas menawan, berbakat dan berprestasi, memiliki suara yang bagus, hebat dalam bidang musik dan sebagainya. Apabila hal ini terjadi dengan kita saat ini, maka pikiran kita akan dijejalai dengan berbagai macam pengandaian: “Seandainya saya berbakat dan berprestasi; seandainya saya cantik; seandainya saya memiliki suara yang bagus; seandainya saya pandai bermain musik….” Percayalah! Kalau kita seperti ini terus, kita tidak akan mampu menerima diri apa adanya. Kerena dengan berandaiandai, kita telah menciptakan jurang yang tak terseberangi antara kita dengan diri kita yang sebenarnya, antara diri kita dengan kebahagiaan.

Kedua, kita sulit menerima diri karena terlahir dalam keadaan cacat, baik cacat fisik maupun mental. Keurangan ini membuat kita merasa minder dan tidak percaya diri. Ingat bahwa perasaan buruk yang kita ciptakan untuk diri sendiri saat ini akan menghambat kita untuk melihat sisi baik atau kelebihan yang ada dalam diri kita. Ke mana saja kita pergi, di mana saja kita berada bersama dengan orang lain, pikiran kita hanya tertuju kepada cacat atau kekurangan yang kita miliki. Kita merasa takut kalau orang lain mengetahui kekurangan kita dan kemudian menolak kita. Kita menganggap diri kita sendiri sebagai beban. Jika demikian, kita tidak akan bisa menerima diri apa adannya dan karena itu kebahagiaan menjauh dari kita.

Tahukah anda akan Nick Vujicic? Ia adalah seorang motivator muda yang dilahirkan dalam keadaan cacat total. Ia lahir tanpa tangan dan kaki sama sekali. Anda bisa bayangkan bagaimana seseorang bisa hidup tanpa tangan dan kaki. Tentunnya hidup ini terasah berat dan penuh penderitaan. Memang pada awalnya Nick merasa sangat frustrasi dan ingin bunuh diri.

Advertisement

Namun di tengah penderitaannya yang sangat dalam, Nick menemukan Tuhan. Ia mendapat pencerahan dan semangat untuk bangkit dari keterpurukannya. Inilah titik balik dalam hidup seorang Nick.

Ia pun berusaha sekuat tenaga dan akhirnya ia berhasil meraih gelar sarjana dalam bidang akuntansi dan keuangan. Dari kekurangan-kekurangan yang dimiliki, Nick mampu menerima diri dan membangun rasa percaya diri yang kuat. Nick mampu menerima diri apa adanya. Kalau Nick Vujicic bisa, kita juga pasti bisa. Percayalah!

Advertisement

Ketiga, kita diciptakan sempurna, tanpa cacat dan kekurangan. Kepada kita Tuhan menganugerahkan bakat dan kemampuan yang istimewa. Tetapi sayang, kita enggan untuk menerimanya. Mengapa bisa terjadi? Kita berpikir bahwa bakat yang kita miliki bukan untuk diri kita sendiri saja, melainkan juga untuk orang lain. Kita melihat tanggung jawab yang besar dan berat dari karunia-karunia itu. Sehingga tidak jarang orang lari dan menutup diri daripadanya. Dengan begitu, kita tidak akan sampai pada penerimaan diri yang sesungguhnya.

Apapun keadaan kita saat ini, beranilah untuk maju dan jangan pernah merasa takut. Saat ini mungkin kita hanya memiliki satu talenta, tetapi apabila kita memberdayakan satu talenta itu dengan tekun dan disertai keyakinan yang kuat, saya yakin kita akan menjadi orang yang paling sukses dan berbahagia di dunia ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

TENTANG PENULIS=> Nama lengkap: Frederikus Mikhael Sila Nama panggilan: Erick Sila TTL: Sallu, 05 Februari 1987 Email: [email protected] atau [email protected] Saya, Erick M. Sila merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara. Saya lahir di Seoam/Sallu, Kec. Miomaffo Barat, Kab. Timor Tengah Utara, Timor-NTT pada 05 Februari 1987. Menempuh pendidikannya di SD Negeri Impres Lemon, SMPN 2 Kefamenanu, SMAN 1 Miomafo Barat. Tahun 2009 melanjutkan pendidikannya di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas Medan-Sumatera Utara dan pada tahun 2013 berhasil meraih gelar sarjana. Saya juga adalah alumni dari Indonesia Menulis angkatan ke-52, asuhan bapa Budi Sutedjo Dharma Oetomo dan Ibu Maria Heryani. Minat menulis mulai muncul ketika masih di bangku kuliah, namun hal ini berangsur-angsur hilang karena tidak adanya dorongan dan motivasi dari orang lain. Motivasi menulis menjadi bangkit kembali berkat INDONESIA MENULIS asuhan bapa Budi Sutedjo Dharma Oetomo dan Ibu Maria Heryani. Akhirnya saya mulai bersemangat untuk menjadi seorang penulis yang handal dan berkualitas.

CLOSE