Aroma petrichor akibat dari hujan sore ini menguarkan ingatanku akan kita yang pernah dipertemukan oleh semesta. Jalanan yang basah ini masih menyimpan jejak langkah kita yang ternyata tak bisa lagi melangkah bersama. Dulu, jalanan ini menjadi saksi di mana kau bercerita panjang lebar tentang masalah yang membuat kepala mu semakin berat, lalu kau bilang kau butuh segelas kopi. 

Ya, kau pecandu kopi, tapi sayangnya aku tidak. Perlahan-lahan ternyata aku jatuh cinta dengan caramu bercerita tentang bagaimana kopi bekerja untuk melemaskan syaraf-syaraf di otakmu yang tegang itu. 

Advertisement

Barangkali kebersamaan kita diciptakan oleh semesta yang saat itu sedang bercanda. Aku selalu menikmati kebersamaan diantara kita yang sebenarnya hanya sebuah rutinitas biasa. Tapi entah mengapa seketika semesta menjadikanmu sebagai seseorang yang meluluh lantahkan benteng yang sudah ku bangun sedemikian kokohnya.

Aku tak pernah membayangkan bisa se-menyerah ini pada matamu yang di sana aku menemukan ketentraman. Namun di matamu jugalah aku menemui ketakutan. Iya, aku takut jika tatapan yang kau berikan ini hanyalah sementara, sedangkan aku berharap untuk menetap di sana. 

Dan yang aku takutkan terjadi juga. Tatapanmu semakin hari semakin mengisyaratkan bahwa aku belum cukup pantas untuk menjadi bagian dari cerita panjang yang kelak akan kita bagikan kepada anak-anak kita. Bahkan seolah ragamu berkata dengan tegas bahwa kau hanyalah seseorang yang sekedar singgah bukan menetap dengan sungguh. Namun, selama kau masih butuh seseorang untuk mendengar segala ceritamu, telingaku selalu di garda terdepan untuk memastikan bahwa kau tidak sendirian.

Advertisement

Haha, padahal sebenarnya akulah yang sejatinya sendiri. Akhirnya akupun menjadi korban atas kerinduan yang membabi buta ini. Lagu lama terulang kembali, kau pergi meninggalkan aku yang sedang sibuk menimbun mimpi. Selanjutnya semesta ku porak-poranda lagi. Bertepuk sebelah tangan kenapa seolah menjadi sahabat ku sejati?

Memang tak semestinya aku berharap pada raga yang hanya sekedar berkunjung. Kali ini aku harus meyakinkan diri bahwa kadangkala memang jatuh cinta tak melulu akan berujung pada 'kita'. Berharap pada yang sekedar singgah ternyata hanya membuat hati patah. Tak apalah, biar aku tanggung semuanya, setelah ini aku akan belajar lagi tentang seni mengelola harapan.


Terima kasih telah membuatku sejatuh ini pada matamu. Semesta memang benar sedang bercanda kala itu, aku saja yang terlalu serius menyambutmu. Ternyata lenganmu hanya bersedia untuk kupandang dari jauh, bukan untuk ku rengkuh.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya