Setiap mahluk hidup termasuk manusia pasti memiliki dorongan untuk melindungi diri dan anak anaknya. Karena dorongan ini, sangatlah wajar apabila orang tua melindungi anak merupakan fokus utama dalam hidup mereka.

Orang tua merupakan sosok yang sangat berperan dan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan anak. Maka dari itu perilaku orang tua  terhadap anak juga membutuhkan kewaspadaan yang cukup tinggi apalagi pada saat anak dalam masa balita hingga remaja.

Advertisement

Meskipun merupakan dorongan dasar dan dibutuhkan untuk melestarikan generasinya, ada beberapa pola melindungi yang justru bisa membuahkan hasil sebaliknya. Perilaku yang dimaksud adalah perilaku yang melindungi yang berlebihan karena rasa cemas yang tinggi, yang biasa juga disebut dengan overprotektif atau helicopter parents.

Melarang anak bermain di luar rumah karena takut kotor dan terluka, tidak memperbolehkan anak pergi dengan teman temannya karena takut terpengaruh dengan dunia luar merupakan beberapa tanda pengasuhan yang berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, termasuk perlindungan orang tua.

Maka perlindungan yang berlebihan memiliki lebih banyak dampak negatifnya dibandingkan dampak positifnya. Terkadang orang tua yang tidak sadar bahwa perlakuannya terhadap anak terlalu berlebihan sehingga dapat mempengaruhi karakter anak bahkan mempengaruhi masa depannya.

Advertisement

Ciri ciri orang tua overprotektif adalah:

  1. Rasa cemas yang berlebihan terhadap anak, rasa cemas orang tua  terhadap anak memang wajar tetapi hendaknya sewajarnya saja dan jangan sampai rasa cemas mengalahkan rasa percaya anda pada anak sehingga anak anda akan terhalang dalam perkembangannya baik fisik maupun mentalnya.
  2. Selalu mengawasi anak, orang tua yang overprotektif akan selalu mengawasi setiap gerak-gerik dalam hal apapun yang dilakukan oleh anaknya. Hal ini merupakan hal yang sangat tidak baik untuk perkembangan anak. Terlalu mengawasi anak akan menghambat proses sosialisasi anak dengan teman sebaya serta berpengaruh terhadap lingkungan disekitar mereka sehingga sulit untuk bersosialisasi.
  3. Rasa takut yang tidak wajar, orang tua yang overprotektif akan sering merasakan ketakutsn yang tidak wajar terhadap kondisi ataupun apapun yang dilakukan oleh anak. Hal ini tidak baik jika dilakukan karena akan menjadikan orang tua berikiran negatif dan membayangkan hal-hal yang buruk terjadi pada anak.
  4. Tidak pernah memberikan kepercayaan pada anak, seorang anak yang tidak pernah diberikan kepercayaan akan berdampak buruk kepada dirinya yaitu anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang kurang serta sering tidak percaya dengan orang lain atau berburuk sangka kepada orang lain.

Menjadi overprotektif merupakan pilihan dari masing masing orang tua. Mereka tentu memiliki alasannya masing-masing. Sebagai orang tua tentu tidaklah mudah, mengambil keputusan dan menjadi contoh untuk anak adalah hal yang sulit.

Maka dari itu, terkadang kita temukan orang tua yang mengambil jalan yang salah seperti halnya overprotektif kepada anak. Kurangnya rasa percaya kepada anak juga termasuk salah satu penyebab mengapa orang tua menjadi overprotektif. Segi dan faktor keamanan, pergaulan dan lingkungan anak juga bisa membuat orang tua merasa tidak percaya kepada anaknya, bisa juga dari faktor kebiasaan dalam arti orang tua juga merasakan hal yang sama pada saat mereka kecil, dididik dan dijaga dengan cara yang salah sehingga secara tidak sadar membawa dan menerapkannya kepada anaknya.

Selanjutnya, pola pikir orang tua yang cenderung selalu negatif dan rasa ketakutan yang berlebihan sehingga menyebabkan anak tersebut tidak diperbolehkan mencoba sesuatu yang baru sedangkan anak anak membutuhkan pembelajaran dari  pengalaman pengalaman yang mereka dapatkan.

Adapun hasil research dalam bentuk wawancara yang bernarasumber inisial P, ia menceritakan bahwa pada saat ia masih di kelas delapan yang berarti kelas 2 SMP, ia memiliki orang tua yang overprotektif kepadanya. Ibunya selalu yang membawanya ke sekolah setiap hari.  Pada awalnya P merasa tidak ada yang salah dengan hal itu, P juga merupakan murid teladan dan cukup pintar di kelasnya. Teman teman sekelasnya dan teman sekolahnya merasa aneh dan sangat tidak masuk akal bahwa seorang ibu masih mengantar anak yang berusia 13 tahun ke sekolah.

P selalu dan terus menerus diejek oleh teman lainnya, menyebut dan mengejeknya “anak mama” atau “nak manja”. Jika ibunya berhalangan dan tidak bisa mengantarnya ke sekolah, sang ayah lah yang menggantikan ibunya. P tidak pernah dibiarkan pergi sendiri. Bahkan para gurupun tidak menghormatinya, memanggilnya seorang bayi. Ketika cuaca buruk, P tidak diperbolehkan oleh orang tua nya untuk pergi ke sekolah, hanya boleh tinggal dirumah dan tidak pergi kemana mana.

P pun tidak pernah diijinkan untuk berpartisipasi dalam acara dan kegiatan sekolah apapun karena orang tua nya takut acara dan kegiatan sekolah bisa membahayakan dan memberi pengaruh buruk terhadap si P. Orang tua P juga selalu bersikeras ikut campur dengan apapun yang dilakukan oleh P.

Tentu saja, P tidak pernah mempunyai teman saat kelas 2 SMP. Anak-anak dan teman lain mengira P terlalu aneh dan kekanak kanakan. Beberapa anak laki-laki lain terus menerus mengganggu dan membullynya tanpa akhir. Kemana pun ia pergi hendak dan harus bersama orang tua nya. Ini jelas tindakan abnormal untuk seorang remaja awal yang seharusnya membentuk  beberapa jenis persahabatan, bersosialisasi dan melatih kemandirian.

Akibat pengaruh globalisasi serta tindak kriminalistas meningkat, membuat orang tua khawatir anaknya terjerumus dalam pergaulan yang negatif. Salah satu contohnya adalah seorang gadis 22 tahun yang sudah lulus kuliah tapi tidak berniat mencari pekerjaan dan malas untuk berpacaran karena perilaku sang ayah yang sangat protektif terhadap dirinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya