Saat ini kita tengah berduka dengan kembalinya lagi pelaku-pelaku teror hasil dari doktrinasi yang salah memaknai kata "perjuangan" atau dalam bahasa lain adalah jihad. Mereka melancarkan kembali aksinya dengan meledakkan bom di tempat-tempat ibadah, kerumunan orang, serta markas-markas aparat pemerintah, dengan dalil jihad. Persepsi salah yang sungguh sangat disayangkan.


Surabaya, ibu kota Jawa Timur tersebut telah menjadi saksi bisu akan kebiadaban teorisme yang baru saja terjadi. Betapa dengan bangganya membawa atribut keagamaan demi melancarkan aksi brutalnya. Betapa dengan bangganya membawa serta anak-anak yang masih tidak tahu menahu soal kesalahan berfikir dari orang tuanya, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan anak-anak tersebut.

Advertisement

Tanpa ada belas kasih dan rasa manusiawi, mereka meluluh lantahkan manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa hanya karena keegoisan mereka dalam berfikir: menganggap secara ekstrim bahwa diri dan pemikiran mereka benar, dan selain mereka sudah pasti salah. Ego yang korosif, bersifat menghancurkan, dan sepertinya memang tidak akan hancur selain "dihancurkan".

Jika menilik akar persoalan bom beserta kawan-kawannya ini, sebenarnya hanya ada satu simpul yang masih terikat kuat dan sulit dilepas, yaitu gembong. Gembong, yang dapat diarti bebaskan sebagai si pemuka, si pencetus, adalah yang paling memiliki andil atas tindakan kekerasan berasaskan agama seperti ini.


Mereka yang melakukan indoktrinasi habis-habisan kepada para pengikutnya, untuk menjadi eksekutor niat buruk mereka, tanpa ada pemikiran dari sisi-sisi humanis dan sebagainya. Bahkan tanpa memikirkan nasib si eksekutor tersebut, dan hal ini sudah lazim bagi mereka para pelaku terorisme. Di kerangka fikiran mereka, perbuatan mereka tersebut adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, entah Tuhan yang seperti apa yang mereka maksud.


Advertisement

Sedangkan, para pelaku, pengikut, maupun eksekutornya, sebenar-benarnya bisa dikategorikan ke dalam korban; mereka hanya korban pemikiran yang sesat. Pemikiran mereka dicuci habis-habisan, doktrin meradang, sehingga ketika mereka selesai "dicuci pikirannya", tidak ada kata lain selain bom dan jihad. Dua kata yang selalu mereka sandingkan, padahal dua kata tersebut sangat jauh berbeda definisinya.

Sisi lain lagi, mengenai keikutsertaan anak-anak dalam tindakan kriminal seperti pengeboman ini. Betapa hal tersebut menunjukkan bahwa sudah tidak adanya lagi pemikiran waras dari para pelaku-pelaku teror tersebut, juga menunjukkan betapa berhasilnya dikte-dikte para gembong teroris terhadap pemikiran mereka, karena faktanya mereka sudah jauh berada di bawah level hewani, yang mana para "hewan" memperlakukan anak mereka sebaik-baiknya; Jangankan membunuh, musuh mendekati anaknya saja sudah pasti induknya meradang.


Kata akhir dari tulisan tak seberapa ini hanyalah satu, "tak ada teroris yang beragama. Tuhan para gembong tersebut hanyalah Ego. Sedangkan "ego yang diabadikan" hanya akan berakhir pada kehancuran…"


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya