Awalnya, kami baik-baik saja setelah kami berhasil mengatasi masalah yang terjadi diantara kami. Seketika malam tiba, hatiku merasa tidak menentu. Hatiku serasa berkata, "chat dia, chat dia". Dan dari situlah segalanya dimulai. Hampir 30 menit aku menunggu, tapi sayang tidak ada balasan apapun. Beberapa menit kemudian, lampu notifikasiku menyala, tanda chat masuk.


"Maksudnya apa mbak kok panggil calon saya sayang? Saya Indah, calonnya Arif."

Aku pun tersontak membaca balasan darinya, aku pun bertanya, "Loh kamu calonnya dia? Kok dia nggak pernah cerita?"

Dia pun menjawab, "kamu nggak tau? Jadi orang tua kita udah saling kenal.."


Tanpa berpikir panjang, aku pun menekan tombol call. Benar, yang menerima panggilanku memang seorang wanita.

Advertisement


"Halo, ini mbak Indah calonnya Arif?"

"Iya ini aku, kamu siapa? Kok di chat panggil gitu ke dia?"

Aku pun menjawab, "Aku temannya.. mas Arifnya dimana ya?"

"Udah mbak jujur aja nggak apa-apa kok, kamu siapanya dia? Dia itu pandai berbohong, Ini dia nggak ada, jadi aku cek chat-chat dia di Whatsapp."

"Oh gitu ya.. saya temannya kok mbak."


Beberapa detik kemudian, dia pun seperti berbicara pada orang lain, "Kenapa kamu? Takut ketahuan, iya?". Dan telepon kami terputus, tanpa kudengar suara Arif.

Meski dia tak mengatakan apapun, tapi menandakan suatu hal yang jelas bahwa itu adalah kenyataan untuk kami. Aku terjebak, terjebak pada kondisi yang sangat tidak memungkinkan. Semenjak kejadian itu, tak ada kabar apapun darinya, yang ku tahu semua yang ku dengar adalah benar.

Esok pun tiba, aku telah menenangkan diriku di malam kemarin. Aku merasa cukup untuk bisa mengikhlaskan dia yang bersamaku. Namun di pagi hari ini jantungku berdetak sangat cepat dari biasanya. Entah karena alasan apa, aku tidak bisa menenangkan hatiku lagi.

30 menit pun berlalu, disaat aku mengecek ponselku, aku melihat tanda notifikasiku menyala. Kali ini dia yang mengirim chat. Dia berkata bahwa dia tetap dijodohkan karena itu adalah pilihan orang tuanya, tapi dia masih menyayangiku. Dia ingin mempertahankan kami, tapi takut akan orang tuanya. Dalam gelisah, aku mencoba tetap tenang. Mecoba mengambil kesimpulan, bahkan keputusan yang tidak bisa diterima hatiku saat ini.

Dia masih menginginkan kebersamaan kami tetap ada, meski secara diam-diam. Mengharap bahwa hubungan kami tetap berlanjut, meskipun perjodohannya tidak akan batal. Tentu aku menginginkan kebersamaan kami tetap ada, bahkan aku juga menginginkan hubungan kami tetap berjalan. Namun, bagaimana akhir dari hubungan kami? Bagaimana suatu saat nanti? Akan seperti apa kami?


"Semua orang tahu, kamu akan menikah, tahu dengan siapa kamu akan menikah. Aku tidak ingin mengganggumu, jika dari awal kamu jujur pada dirimu sendiri , semua ini tidak akan terjadi.

Orang tuamu memilih yang terbaik untukmu, dia adalah pilihan terbaik untuk kamu dan juga kehidupanmu. Belajarlah menyayangi dia, karena nanti kamulah yang menjalani kehidupan rumah tangga, kamu akan menjadi kepala keluarga.

Ingat, jangan cepat naik darah, atau mengandalkan semua dengan emosi. Pakai kepala dingin. Jika kamu mengambil keputusan, pikir baik-baik dulu."


Kukatakan semuanya, isi hatiku, perasaanku, dan keinginanku agar dia bisa jadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Meski kutahu bahwa perasaan kami adalah salah, tapi aku harus sanggup merelakan bahkan mengikhlaskan dia. Karena aku tahu, dia akan lebih bahagia dengannya dan ini jalan terbaik bagi kami.

Aku percaya, ini adalah pilihan yang terbaik dari Sang Pencipta, terpisahnya kami adalah jalan terbaik bagi kami..