Alya..

Alya ku tersayang..


Maaf kalau aku pernah lupa hari ulangtahunmu. Tapi kau tahu? Sejak saat itu, Desember Kosong Tujuh menjadi hari yang istimewa bagiku melebihi hari apapun di kalenderku. Aku tidak selalu mengucapkannya Alya tapi percayalah saat itu aku mendoakanmu dengan panjang lebar berbeda dengan hari-hari biasanya.

Advertisement

Alya kekasihku, sedikitpun aku tidak melupakan senyummu yang malu-malu itu, apalagi tentang janji yang pernah kuikatkan padamu. Saat itu aku sungguh-sungguh, Alya. Aku sungguh-sungguh ingin hidup menua bersamamu.

Sampai aku pergi jauh meninggalkanmu Alya, ternyata aku tidak sekuat yang kuyakini. Kau tau, kota di mana aku seharusnya berjuang itu adalah tempat yang teramat kejam Alya. Kota itu benar-benar sudah membuatku lupa diri. Aku terlalu berambisi utk meninggalkan identitas “kampung”ku ini sampai aku lupa untuk apa aku berada disana. Hidupku ibarat kapal tak bernakhoda yang tidak tahu arahnya mau kemana. Hingga akhirnya aku terdampar dan mati. Kamal yang kau cintai itu sudah mati Alya, juga semua mimpi dan janjinya.

Saat ini aku kembali padamu dengan keadaan sekarat Alya. Penyakit Sipilis menjijikkan ini sudah menggerogoti tubuhku sekarang. Maaf Alya, kau pasti sangat terkejut dan hancur sekarang, tapi aku memang sudah sejatuh itu. Bodohnya aku Alya yang sudah mengecewakanmu dengan cara yang sangat menyakitkan. Alya, kalau kau ingin menangis, menangislah. Aku tahu kau tidak akan bisa marah kepadaku karena cintamu yang begitu besar itu sudah mengalahkan amarahmu. Kau ini benar-benar gadis manis yang lugu.

Advertisement

Sudah kuceritakan semua padamu, Alya. Dan sekarang akan kuselesaikan semuanya. Tidak usah lagi kau ceritakan apa-apa kecuali tentang kematian. Sungguh, pada kehidupan yang tidak bertuju ini lebih tertarik rasanya aku berbincang tentang kematian. Kalau kau tanya aku tentang apa yang aku impikan akan hari esok.. benar-benar tidak ada lagi yang tersisa. Kalau yang ingin kau dengar adalah impian tentang hidup menua bersama, duduk berdua di kursi malas sembari memandang senja bersamamu..

Sudahlah Alya, lupakan saja semua itu. Karena hidup yang kujalani sekarang adalah hidup yang jauh lebih menyedihkan daripada kematian. Terperangkap dalam sebuah tubuh penyakitan dengan hembusan napas tanpa tau untuk apa dia hidup. Adakah yang lebih menyedihkan daripada itu, Alya?

Alya kekasihku, tidak usah kau kasihani aku yang sekarat ini. Dan tidak perlu kau menungguku menepati janji itu. Kepulanganku saat ini adalah yang pertama dan terakhir setelah penantian panjangmu itu. Sekarang kubebaskan kau dari ikatan janji sialan yang tidak bisa ku tepati. Tidak perlu kau pikirkan bagaimana aku, ini adalah hukuman yang pantas untuk orang yang tidak tahu diri ini. Sudah dicintai begitu rupa, tapi hanya untuk menepati janji saja tidak bisa. Pergilah, Alya. Kau berhak untuk bahagia.

Kamal

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya