Saat hati telah lemas karena diombang-ambing kepahitan hidup, mungkin sudah saatnya menepikan ego sejenak. Mari menepi sejarak, biarkan sahabat yang tersisa memeluk hati sejenak, agar hidup bisa tersenyum kembali. Jika kemarin raga telah dipompa paksa demi ego sesaat, kini saatnya kita menepi bersama. Merenungi semua luka yang telah menggores hati.


Kita adalah ibarat kepingan mata uang kehidupan. Satu sisi pernah tersakiti, namun di satu sisinya lagi pernah menyakiti. Kita pernah menangis karena hidup yang tragis, pernah pula ditangisi di saat harus mengakhiri. Hidup ini memang tak seindah puisi, tersakiti kadang tak pernah jauh dari sisi, namun hidup itu tetaplah amat berarti.  


Advertisement

Mengarungi hidup itu ibarat berada di atas kapal. Adakalanya ombak menjadi sahabat dekat, dan seketika pula bisa menjadi malaikat maut yang paling mematikan. Begitulah hidup, adakalanya tenang dan senang, dan adakalanya juga harus lelah berjuang. Perang melawan ombak ego yang tak pernah runtuh diterjang ombak kehidupan adalah satu dari per seribu musuh manusia. Ia kuat, kadang kita terkapar kalah dibuatnya.  

Mungkin kita lupa, jika pada saat itu kita terlalu memberi makan ego dengan harapan. Hingga akhirnya berujung kekecewaan yang memoles hati dengan bara api yang begitu panas. Kita terlalu lelah mencari yang tak pasti, dan membuang yang telah pasti di depan mata. Lelah terkadang membuat kita lupa, tentang apa yang telah kita jaga dan punya.

Mari menepi sejenak untuk merenungi dan menata rencana hidup kembali. Luangkan waktu sebentar. Tak masalah menikmati duka, jika itu mampu melepas dahaga, menjadi manusia yang lebih bahagia. Semua orang pernah bahagia dan mengalami duka. Jangan cemburu kepada Tuhan. Karena manusia memiliki bagiannya masing-masing.  

Advertisement


Sudah saatnya memperlonggar hati, agar ada sedikit ruang untuk mencintai diri sendiri yang sudah terlalu lama mencintai yang lain, namun melupakan diri sendiri. Peluk hati sendiri, di saat kemarin hati sendiri pernah di sakiti oleh yang tak harus memiliki. Jangan egois, mari sisihkan ego sendiri, berikan sedikit ruang untuk hati merefleksi diri.


Ada banyak ragam ciptaan manusia di dunia ini, dengan membawa berbagai macam hati yang dimilikinya. Ada yang datang lama dengan sedikit luka, namun ada juga yang datang sekilas dengan meninggalkan luka yang tak terbatas. Walau tercipta dari tanah dan debu yang sama, setiap manusia memiliki pedang egonya masing-masing. Yang bisa menusuk orang lain, atau bahkan menusuk diri sendiri.

Mari bayangkan dan rasakan. Saat kita telah bertahun-tahun menjaga kesetiaan, berjanji untuk tak pernah menodai hati agar tetap putih, namun yang kita percaya malah menusukkan pedang belati yang benar-benar tajam menghantam kerak hati terdalam. Sakitnya pasti sudah tak terkira. Namun apa daya, hati memang terkadang tak pernah disiapkan sematang itu untuk menyambut luka. Karena cinta selalu membuat kita menjadi terlena.


Bohong rasanya jika kita pernah mengatakan bahagia melihat dia yang kita cinta bahagia dengan yang lain. Jujur saja pada hati, kita pasti marah dan terluka di saat dirinya telah bahagia. Iri, dengki, dan benci pasti memberontak serentak ingin membalas dendam dengan cara yang sama. Bahkan doa terburuk pun terkadang meluncur dari bibir. Sabar dan ikhlas di saat dia telah bahagia dengan yang lain dan kita sendiri masih sayang dengan dirinya itu, sulit. Ibarat minum pil pahit tanpa air. Pahitnya menempel lama di saluran tenggorokan.


Untuk hati yang pernah terluka, tenang kau tak sendiri. Ada diriku di sini yang akan menemani. Hidup ini terkadang tak senyata yang kau bayangkan. Ada banyak hidup yang harus dinikmati namun sebenarnya hanya ilusi. Kita tak pernah tahu akan diri kita ini, apakah sebuah rumah atau pelabuhan singgah sang nakhoda.


Jangan menangis. Meski apa yang ingin kau capai belum mampu kau gapai, bukan berarti hidup mu telah usai. Meski apa yang kau doakan belum terkabulkan, bukan berarti cerita mu tak layak untuk bahagia. Kita punya porsi bahagia masing-masing yang harus dijemput oleh tangan dan langkah masing-masing. Mungkin kaki hampir lumpuh karena rapuh terkhianati, namun tetaplah bertahan. Masih ada banyak yang lebih parah dari cerita mu, namun tetap kuat melawan badai kehidupan.


Kita pernah saling mencinta seluas samudera hindia, serta sedalam palung pasifik. Saling mendekap sedekat kening dan sajadah saat sujud, saling menggoda semesta ombak dan pantai. Namun, kini kenapa kita saling membenci sebesar neraka?


Hari-harimu begitu berarti. Lepaskan luka waktu kemarin. Biarkan ia terbakar oleh sinar ambisi. Biarkan titik gelap yang telah menyapamu menemukan titik terangnya yang baru. Hidupmu terlalu manis untuk menangis. Sudahlah, jangan memperlemah hati dengan cara membuat cerita sendiri semakin tragis. Hati boleh teriris, mata boleh menangis, namun hidupmu tak selamanya boleh tragis.


Mari merapat untuk merenung bersama. Apa bencana yang telah kita lakukan pada saat ini mungkin saja akibat dari hukum apa yang ditanam itu yang dituai. Kita masa ini adalah rentetan doa dari orang-orang masa lalu yang pernah kita singgahi.

Yang pernah kita buat terluka, mungkin kini terbalas menjadi duka sendiri. Yang pernah kita buat menangis, mungkin tragis hari ini adalah balasan yang sepadan. Jangan menangis, semoga ujian yang telah ada menjadi guru terbaik untuk tak berani kembali mengulanginya lagi.

Setidaknya, jika kamu perah tersakiti, kau akan berpikir beribu kali untuk menyakiti hati yang lain di masa yang akan datang. Luka tusukan yang amat perih itu semoga menjadikanmu paham betul arti dari menjaga hati. Daripada menyakiti di kemudian hari, kau lebih baik pergi untuk menghindari. Jauhi dan jangan dekati kembali.


Kata orang, alam adalah langit tempat ribuan doa yang menggantung, berbuku-buku cerita yang tidak akan pernah usai kita baca. Tempat dimana kita semua belajar, perihal makna yang sering kali kita lupakan. Bahwa semua yang terjadi pada diri sendiri adalah ulah kita sendiri. Tangis hari ini, mungkin perwujudan doa dari orang yang telah kita lukai di masa lampau.


Selama masih ada waktu, mari berikan waktu luang untuk hati sendiri, merenungi apa yang harus ditinggali. Saat memutuskan untuk pergi, pastikan kau hanya membawa yang bahagia saja darinya. Hati memang tak bisa berbohong, kalau dulu kita memang pernah bahagia bersamanya. Namun cukup sampai di sana.

Jangan biarkan satu jengkal cerita masa lalu menerobos dinding masa depan. Biarkan cerita masa lalu menjadi kitab pemandu kebahagiaan yang paling berarti untuk masa depan yang penuh dengan arti. Setelah matahari tenggelam, bukankah ada matahari terbit yang lebih indah di esok harinya? Tuhan selalu memberikan kejutan lebih indah setelah air mata tumpah. Lelah dan pasrah itu boleh saja, asal kau jangan sampai menyerah. Tuhan akan marah.


Mari kencangkan ikatan tali sepatu kembali. Melangkah lebih semangat lagi. Masih ada banyak pihak yang harus dibahagiakan. Biarkan yang lalu menjadi pijakan untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi. Walau hati pernah mengalir darah segar, setidaknya suatu saat nanti darahnya akan mengering. Semoga luka dan memar yang telah tergores dapat segera sembuh.


Saat orang terdekat sudah hanya bisa berdoa untuk membantu, itu tandanya kamu memang harus berusaha sendiri untuk melepas lebam luka. Setiap goresan pasti memiliki makna dari Tuhan. Rindunya tuhan kepada makhluknya memang tersampaikan melalui cara yang berbeda-beda. Mungkin goresan itu adalah jawaban dari doa yang dulu pernah kita panjatkan saat meminta.

Tetaplah maju ke depan. Kemaslah seluruh cerita-cerita masa lalu yang kelak bisa memandumu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Hidupmu belum berakhir. Cita-cita dan ambisimu belum usai. Tinta hidupmu belum habis. Akan ada masih banyak kisah yang kelak bisa kau tulis dengan kanvas dan tinta harapanmu sendiri.


Yang indah memang tak selamnya harus dilihat. Ada banyak kenikmatan yang bisa kita nikmati dengan mata terpejam. Kita terkadang memejamkan mata saat berdoa, ketika menangis, ketika bercumbu, ketika bermimpi, karena sebagian besar kenikmatan dunia ini tidak harus dinikmati melalui penglihatan yang nyata. Namun hati terkadang harus diberikan waktu sejenak, untuk menikmati keindahan yang tak pernah kita rasakan itu.


Tanpa memar dan luka lebam di hati, mungkin kita hanyalah halaman usang yang membosankan. Tanpa janji yang pernah teringkari, mungkin kita hanya puisi yang tak pernah punya metafora. Terkadang, demi bijak yang hebat, kita memang perlu untuk ditempa dengan luka yang sepat, agar kelak mampu lebih kuat untuk menghadapi duka yang jauh lebih pekat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya