Teruntuk tuan yang selalu sulit di jangkau tangan ini, karena kau sudah terlalu jauh di depan sana. Sedangkan hati tak kuasa yang selalu menjerit kesakitan dan enggan juga menyembuhkan diri.

Teruntuk tuan. Datanglah malam ini ke mimpiku. Barangkali sekedar untuk berbincang seperti saat itu, saat kita duduk di bawah pohon mahoni yang daunya berguguran, saat kau tunjukan cakrawala dengan jari telunjukmu dari tangganmu yang kekar. Aku rindu saat itu.

Advertisement

Teruntuk tuan, ingatkah janjimu saat itu, saat pertama kali kita menjalin hubungan, saat tanganku kau genggam dengan eratnya, dengan keyakinanmu yang membara dan matamu menatap tajam kearahku, yang membuatku gemetaran. Apakah kau masih ingat janji apa yang kau katakan saat itu.

Dan pada akhirnya semua yang menyala akan padam juga. Senja jingga, lampu-lampu jalan yang menyala, sinar rembulan, kilauan bintang dan juga CINTA.

Entah semua itu karena sengaja digantikan, atau sebuah penghianatan.

Teruntuk tuan, kabar hari ini masih sama, tidak lebih dan tidak kurang: tetap kamu, dan karena foto-foto di linimasamu, hari ini aku kembali jatuh cinta habis-habisan. Masih sama, masih sama seperti saat kau menggegam tanganku saat itu.

Advertisement

Teruntuk tuan, barangkali nanti waktu akan menjadikanmu tahu bahwa senja tak akan lagi indah jika dinikmati seorang diri.

Teruntuk tuan, jangan heran jika hari-hari kedepan nanti hujan akan turun tanpa alasan yang tak kau mengerti, seperti hari-hari kemarin hujan turun dengan lebatnya, seperti sedang berempati saat mendengarkan cerita tentangmu yang juga diam-diam aku tulis di sini.

Teruntuk tuan, kabarnya kau sudah dapatkan impianmu yang acap kali kau bisikan padaku saat duduk sejajar di atas bukit di senja-senja kita dulu.

Teruntuk tuan, aku tak bisa janji akan terus mengingatmu sampai mati. Tetapi jika nanti aku ditakdirkan untuk lupa, kau akan tetap ada di setiap barisnya tulisan ini sampai kapanpun.

Teruntuk tuan: AKU RINDU

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya