Tidak Masalah Jika Gagal. Karena Dunia Bukan Hanya untuk Mereka yang Berhasil

Gagal itu manusiawi

Keresahan timbul saat kita tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi. Kecemasan dan rasa khawatir tentang nasib di masa depan menjalar mendominasi pikiran dan membuatnya semakin tidak karuan. Mengkhawatirkan masa depan bukan hanya karena punya lebih banyak alasan untuk merasa khawatir, namun juga karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Kita lebih nyaman membayangkan tentang kemenangan, keberhasilan dan pencapaian yang membanggakan, ketimbang mempercayai kemungkinan kita akan gagal dalam segala bidang. Hal tersebut sangatlah normal karena salah satu tujuan manusia adalah mendapatkan kebahagiaan -dari apapun yang diinginkan-.

Advertisement

Namun,terlalu senang bermain di area menyenangkan,tidak memberi peluang untuk mental kita menghadapi sebuah kegagalan. Mental manusia perlu dilatih untuk mampu menghadapi realitas yang kontradiktif. Karena kita tahu, kehidupan berjalan dinamis, tidak ada jaminan mutlak tentang masa depan seseorang, kita hanya berpaku tangan pada bekerja dengan keras berharap dapat menciptakan kehidupan yang diinginkan.

Dalam suatu perspektif, berpikir tentang kegagalan mendorong diri kita untuk mempersiapkan berbagai alternatif jalan keluar,lebih mematangkan rencana dan menjalankannya dengan hati-hati serta kesiapan mental untuk menerima kekecewaan. Seseorang yang lebih dulu memperhitungkan tentang kegagalan, dia akan lebih siap dengan rasa sakit yang akan ia tanggung.


Jalan manapun yang diambil, langkah pertama adalah mengakui kompleksitas tersebut dan menerima bahwa ada 1% kemungkinan gagal dalam 99% kemungkinan berhasil.


Advertisement

Mengambil sudut pandang kegagalan bukanlah narasi pesimistik,justru karena kita paham betul medan yang sedang kita lalui, maka kita perlu memperhitungkan jurang mana yang paling mungkin menjerembabkan.

Kebanyakan orang tenggelam dalam rasa kecewa yang tak berkesudahan, itu karena mereka tidak menyadari bahwa menghindari kegagalan adalah juga memperkencang jerat tali yang membelit leher. Mereka berpikir tidak ada jalan keluar saat mereka terpeleset dalam jurang, dan akan mengahbiskan sisa nafas terjebak dalam kegelapan. Padahal kenyataannya tidak, selama masih bernapas, kita selalu memiliki kesempatan untuk mencari jalan keluar meski berada di rimba paling lebat dan alam liar paling terpencil sekalipun.


Hidup memang tidak sesederhana itu namun tak juga serumit seperti yang kita pikirkan.


Memikirkan kegagalan adalah tentang semangat juang.

Kita tidak hanya berorientasi pada keberhasilan semata dan mengabaikan sisi lemah sebagai manusia -kecewa saat gagal- tapi juga mempersiapkan mental untuk menerima dan menghadapi situasi yang diluar kendali. Kita perlu beresonasi pada kenyataan pahit,karena bagaimanapun kita bertanggungjawab atas akibat dari apa yang kita sebabkan.

Memikirkan kegagalan adalah juga tentang memberi ruang untuk bersedih, kita perlu menangis saat sedih, kita perlu beristirahat saat lelah dan kita perlu kembali menata langkah saat kehilangan arah.

Bukan sekedar kepercayaan buta, dampak dari memikirkan kegagalan adalah melipatgandakan upaya dan mengembangkan diri secara terus-menerus, kita bertumbuh menjadi insan yang terus belajar dan meperbaiki, kita tak lagi frustasi menyadari kelemahan,sebaliknya kita mampu berdamai dengan keadaan dan menghargai nilai dasar sebagai manusia bahwa kelemahan bukan untuk ditutupi tapi untuk disadari.

Kegagalan memberikan dua arti penting untuk titik balik perjuangan kita, memulainya lagi atau meninggalkan semua ketika rencana hanya menjadi senjata makan tuan.Kita dapat memutar atau mengambil jalan lain jika tujuan nampak terlalu di luar jangkauan,tersesat tidak selalu berarti gagal,dan kita mendapati bahwa jalan untuk mencapai posisi Alfa tidak harus selalu seragam.

Tidak masalah jika kita gagal, karena dunia bukan hanya untuk mereka yang berhasil. Saat gagal, kita menuturkan kisah sedih yang sama. Tentang malam yang penuh dengan sesal atau pagi yang riak dengan tangisan. Kekhawatiran akan masa depan menjadi teater utama pada akal budi manusia, tapi riwayat kita tidaklah selesai hanya karena kita gagal dalam sebuah perjalanan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." ― Pramoedya Ananta Toer

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE