Entah mengapa aku dapat bertahan selama itu, selama banyak luka yang tercipta. Entah bagaimana perasaan itu melekat dihatiku cukup erat, sekeras apapun kamu mencoba meluluhkannya itu sama sekali tidak berhasil. Perasaan yang tumbuh tanpa aku dan kamu sadari malah menjelma menjadi hal yang perlahan menjauhkan aku dengan kamu, aku sempat tidak percaya tentang perasaan yang berawal dari susunan perhatian kecil seorang sahabat.

Advertisement

Aku tahu semua itu salahku yang tidak mendengar ketika kamu mengatakan untuk berhenti mencintaimu, yang aku dengarkan hanyalah isi hati yang terus membujuk aku untuk mencintaimu tiap detiknya. Aku tidak memperhatikan lampu merah yang selalu kamu nyalakan ketika aku sudah ingin menekan gas, dan alhasil ban-ku menipis. Ya, hatiku menipis. Aku bahkan tidak perduli berapa jauh aku harus mendorong perasaanku, tidak perduli berapa tetes air mata yang jatuh karena aku yakin aku dapat meluluhkan hatimu. Aku bahkan tidak perduli berapa kali aku harus menambal atau bahkan memperbaiki hatiku yang menipis, walaupun aku tau itu akan terjadi lagi dan lagi.

Aku sempat kesal, mengapa kamu tak kunjung perduli walaupun berkali-kali kamu melihat aku lelah menanti. Aku lelah menanti hal yang hati ini yakini bahwa kamu akan membalas perasaanku entah cepat atau lambat, namun aku tidak tahu kapan waktu itu akan terjadi. Selama itu, selama dua musim bergantian selama enam kali aku tak kunjung dapatkan jawaban pasti. Diujung musim hujan yang mulai berganti aku rasa air mataku juga harus berhenti, dan perasaan yang tidak berujung ini akan aku temukan ujungnya.

Advertisement

Aku rasa aku tidak perlu kesal kepadamu, yang aku kesalkan adalah mengapa aku tidak dapat mengontrol perasaanku kepadamu. Aku tidak dapat berfikir apa yang seharusnya aku lakukan, aku tidak dapat membatasi perasaanku yang meluap-luap ini. Apa ini sulitnya mencintai seorang sahabat?

Aku tahu penantianku sia-sia untuk mendapatkan hatimu, penantian yang tanpa sadar membuat aku mengerti arti sebuah penantian. Penantian yang bukan hanya terdiam dan membuang waktu dengan tidak melakukan apapun, tapi aku belajar untuk memperbaiki diri yang masih belum bisa aku kontrol dan menjadi penyabar yang yakin bahwa akan ada hal baik yang akan datang setelahnya. Dan sekarang aku mengerti didunia ini tidak ada yang sia-sia, mungkin dulu aku berfikir menantimu adalah hal yang paling sia-sia tapi ternyata tidak. Dengan menantimu aku bertemu dengan banyak hal yang belum pernah aku temui, dengan menantimu aku lebih bisa merasakan tiap detik dalam hidupku dan aku memanfaatkan tiap detiknya untuk menjadi diriku sendiri.

Tidak masalah jika aku telah merasakan semua rasa sakit yang aku rasakan ketika aku menantimu, aku dapat melihat sejauh mana aku dapat melangkah. Bekas luka memang masih berbekas namun aku yakinkan aku akan menjadi lebih kuat lagi dalam menjaga perasaan yang akan tercipta kembali ketika aku menemukan seseorang yang baru, dan waktu yang telah aku luangkan untuk menantimu adalah saat dimana banyak sekali tulisan yang aku ciptakan. Terima kasih telah masuk kedalam hatiku sahabatku, sampai kapan pun itu aku akan terus menganggapmu sebagai sahabatku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya