#RemajaBicaraKespro-Tidak Menstruasi, Apa Aku Hamil?

Kalau menstruasi, berarti aku tidak hamil. Jadi kalau tidak menstruasi, berarti aku hamil dong?

Buat para remaja, terutama perempuan, menstruasi pasti merupakan satu hal yang sudah biasa. Tapi kalau untuk para laki-laki, mungkin ada yang sedikit geli atau mungkin sedikit jijik jika mendengarkan kata menstruasi. Yup! Laki-laki mana sih yang nggak bakal jijik kalau lihat darah? Terlebih kalau darah itu bukan berasal dari tubuh kita sendiri.

Advertisement

Menstruasi sebagai bagian dari penjabaran alat reproduksi manusia memang sudah menjadi topik wajib yang dipaparkan dalam pelajaran biologi. Jadi kita semua pasti tau betul kalau menstruasi itu adalah keadaan dimana perempuan mengeluarkan darah melalui organ kewanitaannya. Darah ini keluar karena sel telur yang berada pada perempuan tidak dibuahi oleh sel sperma dan menstruasi ini terjadi biasanya kurang lebih satu kali dalam sebulan.

Tapi, buat para perempuan, pernah nggak sih kalian tidak menstruasi selama satu bulan penuh? Pernah nggak? Kalau pernah, ayo sini pelukan bareng!

Ini pengalamanku sendiri. Terkadang kalau diingat-ingat, aku merasa sedikit lucu. Tapi demi kita semua, aku bakal bagikan pengalamanku untuk kita semua!

Advertisement

Sejak aku belajar mengenai menstruasi, ada satu mindset yang memang benar-benar melekat di otakku. Mindset yang memaksa aku untuk percaya hanya pada mindset itu sendiri. Bisa tebak nggak? Kalau nggak bisa, aku bakal kasih tau gimana mindset-ku itu.

Di dalam otakku tertanam mindset, “Kalau menstruasi, berarti aku tidak hamil. Kalau tidak menstruasi, berarti aku hamil”. Mindset ini yang berhasil membuat aku terjerumus ke pengalaman lucu tapi tak terlupakan yang pernahku alami.

Sebagai seorang perempuan, menstruasi memang salah satu yang paling tak disukai, namun tetap diinginkan keberadaannya. Kalau dalam hubungan semacam love-hate relationship lah istilahnya. Kejadian lucuku ini terjadi saat aku duduk di bangku kelas 1 SMA, saat-saat dimana aku masih sibuk untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Jujur, aku sedikit merasa kesusahan untuk beradaptasi di lingkungan baru. Bertemu teman-teman baru, guru-guru baru, serta kakak tingkat yang selalu masang wajah jutek berhasil membuat aku sedikit merasa tertekan. Tertekan dalam artian takut tak bisa beradaptasi dan berakhir menjadi seorang introvert.

Di saat aku sibuk untuk beradaptasi, di situlah aku sadar ada sesuatu yang sepertinya kurang dari kesibukanku. Seharian penuh aku merenung di kamar dan memikirkan hal apa yang kurang dari kesibukan sehari-hariku. Hingga kedua mataku tanpa sengaja menatap bungkus pembalut yang berada di rak celana dalamku.

Dan di saat itu aku sadar, aku belum menstruasi selama satu bulan penuh! Tanpa bisa dicegah, aku ketakutan. Seingatku aku tak melakukan hal yang aneh-aneh dengan lelaki. Kenapa aku tidak menstruasi? Apa aku hamil?

Sumpah! Di saat itu rasanya aku ingin menangis, tapi aku terlalu takut jika Mama bertanya alasan aku menangis. Bagaimanapun juga, anak perempuan mana yang ingin memberitahukan mamanya jika dirinya hamil dan tak tau kenapa bisa hamil?

Seharian penuh aku mengurung diri di kamar. Aku keluar kamar hanya untuk melakukan beberapa hal penting seperti makan dan mandi. Setelah itu aku kembali ke kamar, mencoba memikirkan kronologis kenapa aku bisa hamil.

Karena rasa takut dan panik sudah menguasai otakku, aku merasa jika saat itu aku tak bisa berpikir jernih. Aku juga sudah berpikir yang aneh-aneh. Aku berpikir jika bisa saja aku dihipnotis lalu diperkosa oleh lelaki yang tak kukenal. Aku juga berpikir bagaimana nasibku ke depannya jika aku melahirkan anakku nantinya. Padahal saat ini aku baru duduk di bangku SMA.

Dengan kegundahan dan rasa panik itu, tanpa sadar akhirnya aku menangis. Aku terus menangis hingga aku merasakan seperti ada sesuatu cairan yang keluar dari organ kewanitaanku. Awalnya aku mengabaikannya, mungkin saja itu cairan keputihan atau apalah, yang pasti bukan menstruasiku karena saat itu aku berpikir jika aku sedang hamil.

Namun lama-kelamaan aku merasa cairan itu semakin banyak. Dengan kedua mataku yang terus saja menangis, aku mengecek celanaku dan boom! Di situ aku melihat darah menstruasiku. Berarti aku tidak hamil, dong?!

Sungguh, demi apapun untuk pertama kalinya aku merasa senang dengan menstruasiku. Dengan langkah bahagia aku membersihkan celanaku dan memakai pembalut. Malam itu aku ingat aku tersenyum bahagia karena aku tidak hamil. Namun meskipun begitu aku masih merasa sedikit takut.

Keesokan harinya, aku yang terlalu penasaran memberanikan diri untuk bertanya pada Mama tentang menstruasiku yang tidak datang selama sebulan penuh. Betapa terkejutnya aku saat Mama mengatakan itu hal yang normal. Maksudku, dari sejak aku belajar sistem reproduksi, aku diajarkan jika tidak menstruasi itu tandanya diri kita sedang hamil, tapi kenapa Mama mengatakan itu hal yang normal?

Aku hendak memprotes, tapi Mama yang lebih tua dariku pasti sudah tau lebih banyak. Tanpa kuminta, Mama pun menjelaskan kalau siklus menstruasi yang tidak teratur itu termasuk hal yang wajar untuk seorang remaja. Banyak faktor yang bisa melatarbelakanginya, salah satunya banyak pikiran.

Di saat Mama menjelaskan semuanya dengan kalimat yang mudah kupahami, di situlah aku sadar kalau aku tidak mendapatkan menstruasiku selama sebulan penuh bukan karena hamil. Namun karena saat itu aku merasa tertekan dengan lingkungan baru di sekolahku.

Setelah mendengarkan penjelasan Mama, kemudian aku memberanikan diri untuk mengatakan pada Mama kalau aku berpikiran jika aku hamil karena tidak mendapatkan menstruasiku. Mama hanya bisa tertawa ketika aku menceritakan kegelisahanku selama satu malam itu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE