Air mata dan cinta, titik akhir sebuah perasaan yang bisa di bilang perasaan cinta, atau mungkin saja sebuah titik awal perasaan yang biasa di sebut cinta. Aku tidak mau berbohong, karena menulis air mata dan cinta. Jujur malu untuk menuliskan kalimat.


"Aku menangis karena cinta,"


Advertisement

Tapi inilah kenyataanya. Karena cinta itu timbul ketika seorang wanita menuliskan pesan singkat


"Entah perasaan itu apa suka, cinta atau sayang. Aku gelisah".


Dia wanita yang baik, semua bilang dia wanita yang baik. Iya dia memang baik.

Advertisement

Respon cepatku secepat kisah antara aku dan wanita baik itu. Cepat sekali wanita itu berubah, cepat sekali wanita itu mengakhiri, padahal aku baru saja ingin memulai dan aku terlanjur untuk memulainya hingga saat ini. Entah kenapa aku dibilang perusak hubungan?

Aku memulainya karena, ya sudahlah. Wanita baik itu benci sekali membaca kisah singkat yang mengisahkan kembali pesan singkat yang dikirim dari nomor telepon genggamnya.

Bahkan dia benci ketika aku menuliskan kembali kalimat yang terucap dari mulutnya dan jari kelingking kanan kami saksinya, wanita baik itu berucap janji, aku diam mendengarkannya, mungkin yang terucap beda dengan apa yang ada di hati wanita baik itu, mulut wanita baik itu berucap :


"Aku janji. Aku tidak akan menjalin hubungan (pacaran) dengan siapapun, sebelum aku lulus kuliah."


Aku semakin erat memegang jari kelingking wanita baik itu pertanda aku akan selalu ingat, akhirnya jari kelingking kanan kami saling terlepas kembali, aku juga ingat wanita baik itu mengenakan sweater, wanita baik itu bilang :


"Sweaternya belum pernah aku cuci, cuma aku gantung di gantungan di balik pintu kamar aku."


Karena pada saat membuat janji jari kelingking pada saat sedang musim hujan, intensitas hujan turun masih sangat tinggi. Mungkin wanita baik itu semakin benci ketika membaca kisah ini nantinya dan semakin bencinya, wanita baik itu berubah jadi tidak baik, wanita baik itu menuliskan pesan singkat :


"Kamu tukang ungkit-ungkit."

"Kamu itu aneh, cuma ngasih buku yang tidak seberapa harganya, malu-maluin kamu. Kamu gak tau malu."


Ketika menerima kembali buku yang aku beri ke wanita baik itu untuk di bacanya, aku menuliskan pesan singkat sebelumnya:


"Cuma mau ngingetin, klo mau minjemin buku ke temen kamu, bilang bukunya dijaga dengan baik yak. Baru aku kasih pertengahan bulan desember 2013, kenapa sekarang aja udah rusak covernya."


Mungkin wanita baik itu sudah benci sekali karena selalu saja aku ingatkan kalimat pesan singkat miliknya.


"Entah perasaan itu apa, suka, cinta atau sayang. Aku gelisah"


Aku menangis, tentunya aku malu untuk mengakuinya bahwa air mata keluar begitu saja ketika wanita baik itu menuliskan.


"Aku benci, aku gak peduli."


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya