Seperti biasanya setiap pagi aku sudah melakukan persiapan untuk berangkat kerja, namun pagi ini bukan untuk ke kantor, sesuai janji aku dengan Rini akan pergi ke suatu tempat wisata di seputaran Gunung Batur karena memiliki spot foto yang indah. Sarapan pagi sudah kuhabiskan, aku masih memikirkan sebuah rencana yang bisa aku jadikan surprise untuk ulang tahunnya. Hingga akhirnya terbersit sebuah ide untuk menyiapkan kue ulang tahun sederhana, dengan harapan bisa untuk membuatnya sedikit senang, karena saat itu kami sedang berbeda pandangan akan hal yang terjadi antara kami.

Perjalanan ini bagiku adalah menepati janji, aku pernah berjanji mengajaknya ke sana jika ada kesempatan. Melihat pertikaian kami yang kian tajam, aku khawatir tidak bisa menepati janji jika dia sampai memutuskan hubungan. Aku memang tak berharap banyak dengan perjalanan ini, karena masih saja ada perdebatan opini antara kami.

Advertisement

Aku bersyukur karena Rini masih mau memberiku kesempatan untuk membayar janjiku. Pagi itu aku berangkat lebih awal, untuk beli kue dan lilin sesuai rencanaku tadi. Kuawali di mini market dekat rumah, untuk membeli beberapa keperluan yang kumaksud, ternyata hanya dapat lilin angka satu digit saja. Aku keluar membayar di kasir sambil berpikir kemana lagi harus mencari?

Di minimarket berikutnya, hanya mendapatkan lilin lagi satunya tapi warnanya berbeda, kuputuskan pakai yang penting maksud bisa terwakili. Mengingat waktu yang pendek dan belum juga mendapatkan kuenya, aku memikirkan alternatif roti malkist keju yang sempat jadi kenangan kami berdua.

Pada minimarket ketiga, aku berusaha untuk mendapatkan kuenya. Aku bertanya kepada pegawai yang melintas di depanku, katanya ada dikasir, lalu menuju kasir, tapi ternyata kuenya experied date, maka musnah sudah harapanku untuk membawa brownis, kesempatanku mencari sudah habis, karena waktu yang kami sepakati sudah dekat. Kuputuskan mengganti brownies dengan malkist keju sesuai rencana alternatif tadi.

Advertisement

Aku langsung menuju tempat janjian, dia sudah menunggu di sana. Rini ikut boncengan denganku, menuju lokasi yang jadi tujuan sambil ngobrol berbagai hal. Singkat cerita kami sampai di Payangan. Di perjalanan Rini bercerita tentang Pak Rama salah satu sopir kantornya yang sering bercanda dan kadang curhat padanya. Ada perasaan tidak suka dalam hatiku, tapi aku merasa tak enak hati untuk marah, meski aku sangat tidak suka dengan keadaan itu.

Dinginnya hawa Kintamani mulai terasa, meski cuaca sedang cerah. Pemandangan yang begitu indah terpampang di depan mata. Gunung Batur dengan balutan awan di salah satu sisinya nampak tetap indah, didampingi bentangan danau yang luas. Bukit-bukit yang mengelilinginya nanpak hijau segar. Sambil terus melaju menuju bukit penulisan, kami tetap ngobrol tentang pemandangan yang indah dan sesekali menyinggung tentang hubungan kami. Dia merapatkan duduknya sambil tertawa lirih, aku menggoda dengan candaan, dia pun mencubitku sambil terawa manja. Suasana mulai sedikit cair.

Kami telah memasuki jalan kecil di tengah hutan cemara, jalanan berlubang sana sini, berkelok dan menurun tajam, hingga aku pun memperlambat laju kendaraan. Tekanan rem membuat Rini melorot dan menempel ke punggungku. Ada rasa bergolak dalam diriku, aku menggodanya lagi. Dia mencubitku sambil berkata: dasar…. Aku bilang sering-sering aja kataku sambil tertawa

Perjalanan jadi semakin hangat melewati turunan dan belokan, ternyata tujuan sudah di depan mata. Kami berdua berhenti lalu bergegas ke atas tebing melihat pemandangan yang terbentang begitu indah, hanya saja sayangnya saat itu gunung agak berawan, jadi pemandangan yang terlihat kurang klop, namun tetap indah banget. Sejenak kami berdua terlena dalam keasrian alam di sana, sambil membuat beberapa dokumentasi di hp masing-masing. Memang tempat itu layak dikagumi, hingga berharap suatu ketika bisa berkunjung kembali.

Kuambil tas kresek perbekalan dan perlengkapan yang siapkan tadi. Aku bilang pada Rini, ingin memberimu sesuatu, tapi mungkin tak berarti untukmu. Kunyalakan lilin angka 34 di atas sebungkus Gery maklist keju, memang tampak konyol dan kekanakan, lalu kubilang padanya Selamat Ulang Tahun ya… Maaf tidak bisa beli kue tart, tapi aku tulus lakukan untukmu, dan juga perjalanan ini adalah hal yang kurencanakan sebagai hadiah ulang tahunmu kali ini, hanya ini yang aku bisa.

Dia menatapku berkaca-kaca, lalu berdoa sebentar sebelum meniup lilinnya. Aku memeluk dan menciumnya, Rini menitikan air mata haru, sambil berkali menatapku, entah apa yang dipikirkannya. lalu kami memutuskan melanjutkan perjalanan, untuk mencari tempat beristirahat karena hari telah siang, dan kami juga sudah lapar, apalagi Rini sedang kambuh sakit maagnya.

Kami beristirahat sampai sore, sambil bercerita dan melepaskan kerinduan kami, diiringi derai hujan dan dingin, kami tenggelam dalam hangatnya suasana. Ketika hujan mulai reda kami memutuskan untuk segera pulang, namun sebelum pulang, aku menyuruhnya untuk mencari hadiah ulang tahunnya sendiri, Rini berusaha menolak, tapi aku berkeras hingga akhirnya dia menerima dengan tangis haru kembali. Rini sesenggukan menangis, bertanya padaku, salahkan sikapnya selama ini? Aku dapat memahami, dan tidak menyalahkanmu, jawabku sambil memeluk dan menepuk bahunya sebagai wujud dukunganku. Saat itu ada tumbuh harapanku akan membaiknya hubungan kami kembali.

Diiring hujan gerimis, dibawah mantel kami bergegas meninggalkan batur, di sepanjang jalan suasana akrab dan hangat berkembang antara kami berdua. Hingga aku berharap bahwa hubungan kami benar-benar mebaik, saat kembali tiba di rumah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya