Dunia, 23 Agustus 2017

Teruntuk ayah di surga,

Advertisement

Belum genap setahun ayah meninggalkanku, kami. Meski telah mengering tanah di makam ayah, tidak dengan air mata kami, mungkin terutama mama. Bukan kami meratapi kepergian ayah, bukan. Melainkan setiap air mata ini adalah bukti kerinduan kami, kami yakin ayah bahagia disana. Amin.

Ayah, aku adalah apa yang sering ayah katakan bahwa aku adalah pengganti ayah kelak. Ayah selalu mengajarkan bagaimana aku harus berjuang dan bertahan. Aku adalah apa yang ayah besarkan, didik, kasihi dan ayah sayangi.

Ayah, aku sadari begitu besar tanggung jawab selepas kepergian ayah. Maafkanlah aku jika nyaris berputus asa tentang melanjutkan kehidupan tanpa ayah. Semua fase-fase terberat itu sudah aku lewati, sudah perlahan menata kembali mengenai apa yang kami harus tetap lanjutkan.

Advertisement

Ayah, aku terus berjalan hingga aku hampir sampai di titik di mana selanjutnya aku akan berada. Yang seharusnya ayah bisa menghantarkan aku hingga ke titik itu. Dan lagi kusadari, peranku akan menjadi ganda, tanggungjawabku akan semakin besar.

Ayah, semoga yang aku pilih ini bisa dan dapat menerima segala kelebihan juga kekuranganku, menerima bagaimana keadaanku. Hingga tidak akan membuatmu bersedih dan khawatir di sana.

Akan selalu aku ingat setiap pesan ayah, agar aku selalu berada di dalam koridor agama kita, karena itulah kunci bagaimana kita bisa bertahan hidup di dunia ini. Semoga aku termasuk ke dalam salah satu golongan anak soleha yang setiap doa-doanya dapat membantu ayah di sana. Menjadi anak sekaligus istri yang dapat membawa kebaikan dan kebajikan terhadap sesama, yang dapat membuat ayah bangga di sana.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya