Bolehkah kukatakan padamu bahwa kini aku rindu? Atau bolehkah kutanyakan kepada Sang Pencipta siapa dan dimanakah dirimu?

Taukah kamu sudah berapa banyak syair yang telah kuabadikan dalam setumpuk tulisan tangan yang kadang kuuraikan dalam kesendirian? Atau taukah kau tentang sebentuk harap yang tak pelak hanya mampu kusandingkan dengan desiran angin dan riuhnya suara ombak di lautan?

Advertisement

Lamunan yang panjang. Dinginnya udara malam. Serta lantunan melodi gemericik hujan, kini telah menjadi teman yang paling menenangkan. Aku tak tau seberapa lama lagi aku mampu bertahan dalam kesendirian. Bukan. Bukan karena aku tak merasakan keberadaan Tuhan. Melainkan aku takut akan dosa dari sebuah pengharapan atas dirimu yang tak jua datang.

Tuan, puan ini teramat lelah menanti kehadiranmu. Puan ini tak tau lagi sampai kapan dia akan ikhlas menunggu kedatanganmu tuk meluruhkan semua rindu di dalam kalbu.


Kamu….

Sebentuk rindu yang hingga kini hanya bisa ku sapa dalam lirihnya doa.

Kamu….

Sebentuk harap yang masih ku semogakan dalam heningnya malam.

Advertisement

Aku masih tak bisa mengelabui segenap perasaanku dalam rindu yang telah terendap agar segera dipertemukan dalam halalku denganmu.


Harapku masih tetap sama. Berharap dirimu selalu dalam penjagaan terbaik-Nya. Meski mungkin kini semesta belum menepati janji atas temu yang akan dijalani. Meski mungkin arah mata angin tak pernah menunjukkan padaku dimana keberadaanmu. Tapi tenanglah, keyakinanku akan semua ketetapan terindah dari-Nya takkan pernah menyurutkan doa terbaikku yang tertuju untuk dirimu.

Padamu belahan jiwa yang hingga kini masih Allah jaga di dalam sebaik-baik penjagaan-Nya.

Kuharap Allah segera memberi restu dalam tengadah tangan diantara sepertiga malam. Dan kamu segera membawaku membangun surga terindah bersamamu.

Suatu hari nanti. Ya, suatu hari dimana tak ada lagi kata menunggu. Suatu hari dimana tak ada lagi jarak dan waktu yang menjadi penghalang antara rinduku dan rindumu. Dan suatu hari di mana semua doa-doamu akan kuaminkan sebagai makmummu.


Inginkah kau bersamaku saat-saat seperti itu? 


Jika kau tanyakan pula hal itu kepadaku. Maka tentunya kan ku jawab "Ya, aku teramat ingin menghabiskan semua sisa waktuku bersamamu". Membersamaimu dalam setiap sedih dan bahagiamu. 

Menemani kala gundah, menenangkanmu dan mendoakanmu di sepanjang hari yang mungkin menjadi hari yang melelahkan untukmu.

Meski kini raga belum mampu untuk bersama. Meski rindu masih saja belum berujung pada temu. Aku kan tetap mendoakanmu. Karena yakinku akan selalu kutujukan pada suatu ketetapan. Ya, ketetapan terindah dari Sang Maha Cinta. Dan karena aku percaya kau pun tengah mendoakanku, meski semesta masih belum memberi waktu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya