Aku tak tahu apa itu cinta hingga akhirnya aku bertemu denganmu, lelaki yang pertama membuatku jatuh hati. Aku tak pernah bisa menjelaskan, kenapa aku mencintaimu. Aku rasa sampai kapan pun aku tak akan pernah menemukan alasan yang tepat.

Aku selalu menulis semua hal tentang kamu, apapun itu. Saat kita tak sengaja bicara di kantin, saat kamu meminjamiku bolpoin, bahkan saat bola mata tak sengaja saling membentur, aku tidak pernah sedikitpun melewatkan momen itu untuk kutulis di diary ku. Kedengarannya sangat konyol, aku bahkan hampir tidak percaya pernah melakukan hal itu atas nama cinta. Biarlah semua itu jadi kenangan di masa biru putihku.

Advertisement

Kemudian, kami melanjutkan SMA di kota yang berbeda. Aku tidak keberatan, jika akhirnya perasaan ini memuai tanpa arti. Bagiku,itu hanya cinta masa kecil yang akan hilang seiring berjalannya waktu.

Musim demi musim berganti. Tanpa sadar, diary-ku masih bercerita tentang kamu. Kenangan kecil itu masih senantiasa mengikuti hari-hariku. Aku tersenyum melihat foto wisudaku menggantung di dinding kamar. Tahukah kau? Aku berhasil menyelesaikan S1ku dengan nilai sempurna.

Bagaimana denganmu? Aku bahkan tidak tahu dimana keberadaanmu. Aku pernah mencoba mencari namamu di sosial media, tetapi nihil. Aku mencoba menanyakan tentang kamu pada seorang teman, tetapi ia pun tak tahu. Ah! Kenapa mencari kabarmu sedemikian sulit? Kau sengaja ingin membuatku menderita karena merindukanmu?

Advertisement

Satu-satunya penawar rinduku hanya satu. Bolpoin. Kamu ingat tidak? Aku masih menyimpannya sejak kelas 1 SMP. Kepalaku juga masih menyimpan ingatan-ingatan tentang kamu.

Tuhan, Kau mendengarku kan? Doa-doa yang kurapal setiap hari. Aku harap ada seutas rinduku tersampaikan padanya. Aku kira, ini hanya cinta yang akan kutinggal di masa SMP, tetapi rupanya masih terbawa hingga aku selesai kuliah. Jika dulu aku tidak keberatan perasaan ini memuai tanpa arti, kali ini aku sangat keberatan. Bagaimanapun, ini bukan cinta anak kecil lagi. Ini cinta manusia 25 tahun.

Hari ini sudah tahun kesembilan sejak aku jatuh cinta padamu. Aku pernah mencoba membunuh rasaku, tetapi sia-sia. Malah aku terkesan mengkhianati hatiku sendiri. Kemudian aku mencoba menyusuri perasaan ini sepanjang waktu, berharap akan berujung di suatu tempat. Tetapi hingga kini perasaan itu masih ada seolah tak bertepi.

Suatu hari,aku menerima undangan reuni SMP. Jantungku berdegup cepat. Secepat saat aku pertama kali jatuh cinta padamu. Mungkin ini jawaban dari semua doa-doaku kepada Tuhan. Doa-doa tentangmu, yang selalu sama setiap hari.

Kali ini, aku tak akan melewatkanmu. Aku ingin mengatakan semuanya padamu. Tentang cinta di masa biru putih, dan tentang rindu selama sembilan tahun.

Gemerlap lampu di aula hotel itu menyambutku. Mataku menyisir seisi ruangan sembari membulatkan tekad. Rindu-rindu yang kupendam, rasanya sudah tak sabar ingin berebut keluar dari mulutku.

Kemudian seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh menatap wajah yang kian berubah menjadi lebih dewasa. Aku tersenyum. Nyaris menangis bahagia.

“Hai, Apa kabar?“ sapamu.

Aku ingin menjawabnya, tetapi bibirku terkunci. Seolah bingung kalimat mana dulu yang harus aku katakan. Menjawab pertanyaannya atau mengatakan ribuan rindu yang sedari tadi sudah tidak sabar ingin terucap.

“Baik,” sahutku sedikit terbata.

Tiba-tiba seseorang bergabung di tengah-tengah kami.

“Perkenalkan, ini istriku.”

Kalimat sederhana itu seperti guntur. Dalam sekejap hatiku porak-poranda. Tekad yang sempat bulat, kini telah hancur. Aku hampir kehilangan keseimbangan tetapi kursi disampingku menahan badanku yang nyaris limbung.

Aku memaksakan bibir untuk tersenyum dan membalas uluran tangan wanita itu. Aku yakin senyum dibibirku tidak sempurna. Aku segera menyudahi perbincangan kecil itu. Bukan! Aku segera menyudahi perbincangan menyakitkan itu.

Tuhan, untuk semua jawaban dari doa-doaku, terima kasih.

Mungkin Kau hanya tidak ingin aku menunggu lebih lama. Mungkin Kau hanya tidak mau melihatku kelelahan menahan rindu sendiri. Mungkin Kau ingin menunjukkan padaku, bahwa cintaku tidak berbalas.

Bibirku semakin terkunci. Kali ini bukan rindu yang berebut untuk diucapkan. Tetapi luka dan kecewa yang membuatku ingin berteriak sekencang-kencangnya.

Aku baru tahu ada cinta se-tak adil ini. Bagaimana mungkin kamu menjalani hari dengannya, sementara aku dengan jutaan rindu untukmu? Bagaimana mungkin kamu tertawa dengannya sedangkan aku menahan sakit karena mencintaimu begitu lama?

Tak ada yang bisa kusalahkan meskipun rasanya aku ingin menyalahkanmu. Apakah kamu benar-benar tidak menyimpan perasaan apapun untukku? Apakah kamu tidak pernah tahu, aku selalu memperhatikanmu saat SMP? Kamu yang tidak mengerti atau memang aku yang terlalu rapi menyembunyikan perasaan ini?

Cinta, ketahuilah. Aku pernah benar-benar mencintaimu selama sembilan tahun di hidupku. Aku bahkan tidak yakin perasaan ini akan hilang begitu saja. Biarlah ia terus bersemayam tanpa kupaksa untuk mati. Jika penantian sedemikian menyakitkan, biarlah rindu yang jadi penawar sakitnya.

Aku (masih) mencintaimu hingga kini, dan entah sampai kapan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya