Mencintai seseorang merupakan keajaiban bagi kita. Bagaimana bisa hati yang seakan berbunga-bunga setiap kali melihat dirinya. Bagaimana mata yang selalu menangkap sosoknya di tengah keramaian dan pikiran yang tidak pernah kosong tentangnya.

Tapi ketika hati yang mulai kecewa, dan kini patah, seakan dunia terasa hampa. Memikirkannya kini bukan kebahagian lagi namun kesedihan yang menghampiri. Punggung tangan yang tak pernah lelah untuk menghapus air mata sendiri, dan hati yang seakan rapuh melihat ia pergi.

Dia yang telah pergi dan tak kan mungkin bersama lagi, sungguh tega membuat luka hati ini

Ku pahami jika perbedaan memang terbentang luas di antara hubungan ini, namun bukankah perbedaan adalah hal yang harus kita lengkapi? Dan bukannya menjadi alasan untuk kau pergi. Tak sadarkah kau bahwa kaulah yang selama ini aku impikan, aku idamkan, dan dambakan. Bahkan Tuhan mungkin bosan mendengar namamu selalu ada dalam setiap doa-doaku.

Kini kau pergi, meninggalkan pedih yang aku sendiri tak tahu bagaimana lagi harus menghapus air mata yang terus jatuh ke pipi. Semestapun tak bisa menjadi peraduan luka yang terus menganga manakala ku lihat ternyata kau pergi dengan dia.

Menyakitkan rasanya melalui hari-hari dengan hati sembilu, bahkan air mata juga tak jera untuk terus mengalir ketika sepi menerpa. Tuhan, apakah memang begini kenyataan yang harus ku hadapi?

Tahukah kau, aku bahkan sangat mengerti bagaimana kekurangan diri sendiri, namun aku selalu memberikan yang terbaik.

Advertisement

Aku paham betul apa yang ku miliki, bagaimana aku ini, dan siapa sebenarnya orang yang mencintaimu ini. Namun aku selalu berusaha, memberikan yang terbaik untukmu adalah sebuah upaya, pembuktian bahwa dirimu memang berharga. Tak sedetikpun aku berpikir untuk menghilangkan senyum di wajahmu.

Tapi kau mungkin mengeluh karena tingkahku yang kadang sangat mengganggu, tapi yakinlah aku panik tanpa kabar darimu. Tak bisakah kau melihat segala usahaku? Dirimu berhasil membuat lubang yang lebari di dadaku.

Tapi yasudahlah, aku berharap kau memang bahagia bersamanya.

Saat ku lihat senyummu bukan untukku, ku akui hatiku memang hancur. Tapi akupun harus sadar, bahwa kau tampak bahagia bersamanya. Ku benarkan sikapmu untuk memilih meninggalkanku dan tak ingin berlama-lama terus membuat luka.

Walaupun aku iri, senyum indahmu tak bisa lagi ku miliki, mata berbinarmu yang selama ini sukses ku monopoli harus dengan lapang dada ku lepaskan. Berat memang, namun bagaimana lagi? Aku tak mau menipu diri.

Aku tau, sebenarnya aku tak mampu kehilangan dirimu, tapi hei! Bukankah aku pernah menjalani waktu lebih lama tanpamu?

Ya, benar! Hei hatiku, bukankah kita pernah melewati masa-masa tanpa dirinya? Dan kita baik-baik saja. kini ketika ia pergi, apa yang berbeda dengan masa itu? Yah, hanya saja kini aku dan hatiku akan melalui masa-masa tanpa dirimu dengan hati yang terlukan dan lubang di dada. Bahkan, untuk saat ini melihat dirinya adalah hal yang paling menyakitkan.

Kuatlah wahai hati, mungkin ini cara Tuhan untuk memberitahu pada kita bahwa dirinya tak pantas untuk kita miliki. Tuhan pasti memiliki rencana pasti dengan menyiapkan jodoh yang baik yang sesuai dan cocok untuk teman hidup nanti.

Segeralah sembuh hai hati, aku menunggumu sampai air mata ini berhenti. Aku dan kamu memang lebih baik sendiri hinggi nanti bisa diisi kembali. Mari kita tinggalkan perlahan hati yang dahulu rapuh, berusahalah untuk jiwa yang baru dan hati yang tangguh.