Tepat pada saat aku menulis surat terbuka ini, aku masih sangat dan sangat merindu. Entah mengapa pertemuan kita yang terakhir benar-benar buat rasaku tak menentu. Kita yang sama-sama pernah mengucap kata cinta dan beradu kasih lewat pelukan hangat dalam dinginnya selatan Jakarta.

Advertisement

“Habis ini gak boleh nangis ya”, begitu katamu di hari terakhir sebelum aku beranjak pergi. Namun tetap saja, aku yang selalu bimbang dan berperasaan ini masih lemah ketika harus mengingatnya. Pandanganku nanar dibuatnya. Sejujurnya aku bingung, setelah ini harus apa kubuat dan kubawa langkah ini. Entah harus senang atau sendu.

Rumitnya pemikiran dan perbedaan nyatanya tak jua surutkan hasrat untuk saling menatap dan berkata soal rasa yang sama-sama buat kita resah, sementara ini. Aku dan kamu sangat paham keadaan ini, tapi kita tak mampu lebih jauh memaknainya. Dan aku masih saja enggan berkata sebab lidahku kelu.

Teruntuk kamu yang saat ini mungkin masih tak menentu karena tenggelam dalam rutinitasmu, aku sangat paham bahwa banyak soal yang jauh lebih penting mesti kau urusi. Bahkan jarak yang kita rengkuh ini tak seberapa berarti bagimu.

Advertisement

Aku yakin semesta punya pertanda yang tak pernah diduga oleh manusia. Seperti pada pertemuan-pertemuan kita di tempat rahasia disusul pertemuan-pertemuan ajaib lainnya. Aku yakin Sutradara punya rencana, namun sayangnya kita tak tahu skenarionya. Semua terjadi begitu saja. Kadang buat kita gelap mata sekedar bedakan malam, dini hari atau bahkan pagi. Setidaknya kita pernah saling mencinta dengan tulus walaupun tak tentu berakhir mulus.

Setelah ini, kita bisa saja melangkah ke arah angin berbeda atau malah bergerak pada satu titik yang sama menuju pasangan jiwa. Kita yang saling memahami, kita yang saling meyakini kalau kita selalu punya ruang bertemu dalam doa yang pernah kita amini bersama.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya