Senja dititik 0 KM Jogja terasa sedikit berbeda. Saat itu “KITA” percaya bahwa saling menyandarkan diri pada cita-cita bersama adalah yang terbaik. Kau mengejar mimpi mu dan aku mencari sedikit bekal agar bisa meminta mu dengan layak pada orang tua mu.

Seketika itu pula setelah kita bersepakat, senja yang kita nikmati beberapa waktu bersama terlihat begitu suram bagiku. Ada sedikit pilu yang melekat jika ku kembali kesana. Aku teringat bagaimana kita saling sepakat untuk bisa memberi kabar dan saling bertemu setahun sekali.

Waktu pun berlalu, panas diseptember pun sudah mulai terasa sangat kering. Entah karna memang gersang nya keadaan sekitar atau karna memang aku yang sedang gusar. Sebulan terlewati dan komunikasi kita masih lancar. Aku tetap percaya kan separuh hati ini untuk kau bawa pergi, untuk kau ajak kemanapun nanti kau berada disana. Bukan setanah lagi kita di negeri pelangi ini, tapi kita sudah berbeda benua sayang.

Sore itu ku kira senja akan terus jingga seperti biasa. Namun hujan menemani sela senja ku, dan tanpa sadar rindu ku mulai basah.

“Sayang, apakah kau baik-baik saja ?”

Advertisement

Terasa lama sudah aku tanpamu. Sejak saat terakhir kau pergi bersama separuh hati yang ku berikan, aku hanya menikmati jingga ini sendirian.

Aku mulai rindu,

“apakah rindu ku benar telah memutuskan untuk menunggu mu?”

Advertisement

Aku selalu berharap bahwa kau akan pergi dan mencapai semua dengan mudah. Aku pun berharap bahwa hatiku yang kau bawa masih rapi kau bingkis bersama dalam kalbu. Berharap janji bisa kau ikat rapat dihatimu. Karna aku percaya sejak 2 tahun lalu saat pertama kita saling mengiyakan diri untuk saling memiliki.

Hari ku pun terlewati dengan warna yang sedikit memudar. tapi tak apa.

“Sayang, rindu ku sedang ku tabung. Ada waktunya ku buka tabungan rindu ini dengan senyum dan semangat untuk bisa melihatmu lagi”

Keadaan ini mendewasakan diri. Karna Saling percaya adalah segala kunci agar menjaga setia didalam hati. Bukan waktunya lagi untuk mengkhawatirkan tentang hal yang tidak pasti. Kecemburuan dan curiga terlalu egois rasanya jika muncul dipermukaan hati.

Oktober ku telah lewat. Mengesankan bahwa kita masih saling menjaga. Setidaknya aku masih melihat senyum yang sama di wajahmu. Cerita mu malam itu, memberi ku makna bahwa tak akan ada yang berubah dari “KITA”. Itu akan tetap begitu hingga waktu tuhan mempertemukan.

Tetap ada yang ku tabung hari ini walau sedikit terpakai karna obrolan singkat kita dari media sosial membuat ku mulai percaya bahwa kita saling menggenapi.

“Alangkah lega rasanya bisa ku lihat kau baik baik saja dan aku mulai percaya bahwa akan tetap ada pelangi setelah derasnya hujan”

November datang dengan gemilang. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa bahwa aku akan pantas dan tak gugup lagi menemui ayah dan ibu mu. Kerja keras ku tak sia-sia. Kau pula lah yang hadir bagai lembar semangat yang harus ku gambar dengan indah agar tak hanya berlalu datar seperti kertas buram yang ksosong.

“Sayang, ingin sekali aku berbagi cerita bahwa aku siap menjawab pertanyaan mu beberapa waktu lalu untuk menjadikan mu bagian dari pagi, siang dan malamku”

Ahh….sudahlah. aku masih harus menabung rindu. Karna ku yakin kau pun pasti tak sabar kembali, menemui ayah dan ibu mu, dan aku tak sabar menemuimu bersama tabungan rindu ku. Oleh sebab itu, ku letakkan semua begitu tinggi agar tak dijangkau oleh tangan nakal yang mengganggu.

Desember tiba. Ada banyak hal yang akan terus berganti. Seperti waktu yang tak sabar mengganti tahun dan angka dua diujung sana berubah menjadi tiga. Lalu aku yang membiasakan diri dengan posisi baru disini. masih dengan semangat yang sama disini. terus menerus ku simpan rindu.

“aku kembali ke sudut jogja di 0 Km-nya dengan sedikit berbeda”

Ada sepotong kisah lalu tentang kita yang ku ingat disini. hah…lucu rasanya. Bahwa dulu aku tak sadar bahwa di antara persimpangan ini begitu ramai dengan manusia. Rencana ku untuk menjadi bagian dari pergantian tahun bersama mu tak terwujud, namun setidaknya masih ada cerita kita yang pernah tinggal disini.

Secangkir kopi hangat yang ku bawa dari warung pinggir jalan tadi masih hangat. Ku nikmati senja ini.

“Rindu ku begitu kental terasa. Seperti kopi dan air hangat yang beradu dalam cangkir ini hingga pahit manis pun terlihat susah dibedakan”

Masih seperti beberapa waktu lalu. Ketika kita disini bersama melewati senja. Indah bukan ? dua badut itu masih sering diajak berpose dan masih ada saja anak kecil yang menangis ketika melihatnya. Tak ingin rasanya ku berlalu, masih ingin disini menunggu mu pulang. Setelah itu kita bisa mulai dengan kembali ke sudut ini lagi. Berbagi sedikit canda tawa dengan sederhana. Ya…walau sekedar saling bertatap mata, lalu biarkan rindu bicara bagaimana kelanjutannya.

Tak terasa, jingga telah pulang ke peraduannya. Jalan-jalan ini semakin ramai. Padat terasa. Aku yakin pasti malam ini akan indah disini bersamamu. Tapi sudahlah kita hanya belum bertemu diwaktu yang kita inginkan. Mungkin tuhan sedang mempersiapkan pertemuan yang indah.

Aku akan kembali lagi nanti, akan ku rekam dalam memori tentang waktu yang akan jadi kesenangan banyak orang dimuka bumi ini. Pergantian tahun ini sepertinya akan tetap indah bagi beberapa dari mereka. Namun tidak aku. Tak menyalahkan mu atau keadaan hanya saja ada bagian yang kurang lengkap disini.

“Tenanglah, rindu masih rapat ku tabung disini”