“Di saat mencintai dan disakiti berjalan secara bergandengan, di sanalah letak dari kesedihan yang teramat hakiki. Cobaan Tuhan yang mana yang ingin engkau hindari?”


Mari kita mulai menekan tombol replay kehidupan, agar masa lalu yang pernah memberikan begitu banyak pelajaran itu bisa kembali lagi ke masa sekarang. Aku tahu bahwa membawa masa lalu ke masa kini hanya akan membuka perban memar masa lalu, namun aku pasti kuat melihatnya. Sekuat batu karang yang diterjang gelombang pantai setiap detik.

Advertisement

Sayang, sini kupandu dirimu pelan-pelan, untuk menyaksikan masa lalu kita yang penuh dengan cinta dan kasih. Sebelum kau melanggar garis perbatasan janji semati kita berdua. Saat-saat aku masih begitu bahagia dan senang melihat jari kiriku terdapat cicin emas putih melingkar secara sempurna. Saat senyummu masih menjadi satu-satunya penyemangat hidupku.

Dulu, engkau dan aku sama-sama berjanji bahwa kita berdua akan menjaga hati dan iman masing-masing. Aku berjuang melawan nafsu birahi dunia, demi memperjuangkan mu seorang. Ada garis perbatasan yang berusaha tak ingin kulanggar. Aku berjalan di atas rel yang telah kita berdua sepakati. Engkau juga sama, menjaga hati dengan baik. Hingga akhirnya tergoda untuk bermain api dengan yang lain. Di saat perhatianku sedang lengah.

Kau berlari dengan pria lain di saat aku sedang ingin menjumputmu untuk merancang masa depan berdua. Namun, takdir terkadang teramat pahit dalam memberikan realita, tombok imanmu roboh seketika, melihat paras pria lain yang kau anggap lebih baik dari diriku.

Advertisement

Kuberikan maaf untuk pertama kali, karena melepasmu dengan yang lain hanya akan semakin memperdalam lapisan luka yang kualami. Kuputihkan catatan kegagalan cinta kita berdua dengan paksa, kuhapus pengkhianatan pertama itu dengan cara instan hingga akhirnya aku mampu menerimamu kembali, walau masih ada kosa kata ragu di dada.


Cinta memang lucu. Yang dikejar malah berlari. Yang dicari malah bersembunyi. Yang diperjuangkan malah mengkhianati. Yang dicintai malah menyakiti. Dan yang ditunggu malah pergi. Maha Besar Tuhan atas segala rahasia yang telah Ia rencanakan untuk semua umat manusia di dunia ini. Tugas kita hanya mengikuti rute yang disediakan Tuhan. Karena rute tuhan tak boleh dilawan. Ada kuasa yang lebih besar dari rencana manusia. Semua tepat sesuai dengan porsinya, semua lewat sesuai mampunya.


Walau tak punya harta seperti kebanyakan pemuda lainnya, aku tak pernah ingin kalah dalam hal menjaga kebahagiaanmu. Aku tak pernah sama sekali ingin membuatmu marah. Menjaga hatimu agar tetap berada pada posisi bahagia adalah visi utama dalam hidupku. Wanita kedua terbaik dalam hidup setelah ibu yang tak boleh kusakiti. Ada kata haram dalam benak ini, jika engkau sampai menangis dengan tingkahku. Semua karena aku terlalu cinta.


Kata orang, perasaan yang sakit itu adalah di saat kita memiliki perbedaan dengan pasangan masing-masing. Namun menurutku, yang lebih menohok sakitnya adalah di saat kita harus berpisah dengan orang yang sebelumnya kita anggap satu arah.


Engkau yang kuanggap akan searah dengan arah hidupku, malah berjalan menuju arah tikungan yang terjal dan pergi tanpa pamit dengan membawa serta sepotong hati yang telah kutitipkan kepadamu. Kau tabrak garis perbatasan itu, tak peduli dengan rasa sakit yang akan timbul dikemudian hari atas perbuatan yang dilakukan pada masa sekarang.

Jahatnya dirimu atas semua perlakuan yang telah kau goreskan ke dalam ulu hatiku. Namun sejahat apapun dosa yang telah kau ciptakan, rasa benci tak pernah hinggap di ujung hatiku. Cinta membuat itu kembali menjadi bersih. Luka pengkhianatan memang tak pernah sembuh dengan perban luka, memar nya bersifat permanen. Namun, setidaknya aku tetap bisa kuat walau hati sedang berdarah.

Mengucapkan selamat jalan kasih adalah perkataan yang paling berat yang akan kulakukan kepadamu. Kata selamat jalan bahkan hanya mampu bertengger di ujung lidah, tak mampu keluar untuk bersuara karena aku benar-benar takut kita berpisah. Namun apa daya, jika ini adalah takdir, maka kita biarkan saja tangan tuhan yang berjalan. Tuhan jangan dilawan.


Tuhan memiliki skenario masing-masing untuk setiap hambanya. Memaksa Tuhan untuk mempercepat skenario justru hanya akan merusak jalan ceritanya masing-masing. Lantas aku memilih untuk berjalan pelan-pelan menelusuri kerikil kehidupan sambil berusaha melupakan semua kenangan yang telah kita ciptakan berdua.


Tuhan yang maha baik, akan mengirimkan waktu untuk mengobati luka ini secara perlahan. Tuhan pasti akan berbaik hati menyembuhkan lubang luka yang telah menganga karena pengkhianatan cinta. Ikhlas dan rela adalah obat dari pengkhianatan. Ikuti jalan Tuhan, maka kita tak akan pernah kecewa.

Tuhan mungkin menciptakan pengkhitanan untuk mewarnai jalannya kehidupan, namun Ia tak akan pernah mengkhianati hambanya sendiri.  Tuhan adalah satu-satunya tempat menangis yang sempurna. Menyerahkan jiwa dan raga kepadanya adalah obat terbaik dari segala obat. Tuhan pasti akan turut andil untuk mengobati. Aku akan segera sembuh.


Untuk wanita yang telah menyakiti namun belum mampu kulupakan, aku sudah rela engkau tinggalkan. Lubang luka yang telah kau gali di ulu hatiku memang belum mampu kumaafkan, namun aku sudah rela untuk melepaskan. Pergimu seperti menyaksikan tenggelamnya matahari, indah di mata namun sakit di hati. Namun aku percaya, esok harinya akan ada mentari baru yang terbit di upuk timur sana. 


Aku memang terluka. Mengganti nama sayang menjadi nama panggilan amatlah berat untuk kulakukan. Aku memang belum bisa berdamai dengan masa lalu dengan cara memaafkan semua yang telah engkau perbuat kepadaku. Namun sayangnya, cintaku telah benar-benar menancap erat di ulu hatimu seorang. Aku terlalu mencintaimu, walau hatiku telah kau cabik-cabik hingga mengucurkan darah segar kesedihan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya