Apa ada kesempatan untuk bertemu kembali? Seakan tak pernah lelah hati ini untuk meminta. Aku selalu mencoba memperbaiki hubungan kita, tapi nyatanya aku tak mengerti apa yang hatimu inginkan.

Terkadang aku memiliki kenekatan untuk menghubungi lebih dulu, tapi apa daya usahaku kau lepaskan begitu saja. Mungkin aku membuatmu tak nyaman, mungkin aku mengganggumu, atau mungkin aku harus mengakhiri ini? Tanpa santun kupaksakan untuk membenamkan perasaanku, tanpa ragu kututup hatiku. Mungkin orang yang mengetahuiku akan menertawakan betapa bodohnya aku yang telah tergila pada duniamu.

Advertisement

Sejatinya, perasaan ini akan terus ada dalam bayangan hatiku. Hanya saja aku menguburnya dengan dalam dan berpegang pada pengharapan bahwa akan ada orang lain yang mampu menutup aroma perasaan itu. Tapi aku salah, aku justru mematok setiap mereka untuk bisa sepertimu. Itu tandanya, aromamu yang terus menguap dalam hati tak dapat kuhindari.

Cinta masa kecil itu indah, di mana aku tak perlu malu mengungkapkan perasaan yang pernah ada. Kepolosan, tanpa adanya egois dan emosi membebaskanku untuk mengekspresikan segala yang aku rasakan saat itu. Siapa yang tak tahu bahwa aku mencintaimu saat itu? Tak ada! Tapi sekarang, bahkan kau pun tak tahu bahwa aku masih saja mengebulkan asap dari perasaan yang telah kucoba padamkan.

Meski cinta tak berbalas itu pernah disinggahi orang lain, kau tetap kupikirkan hingga saat ini. Aku pernah melupakanmu, tapi tak selamanya. Terima kasih untuk orang yang membuatku sesaat lupa padamu. Tapi tahukah kamu, ketika aku kembali menyendiri hanya kau yang kujadikan patokan. Bisakah kita kembali berteman? Pertanyaan itu terus saja kulambungkan berharap kau mengiyakannya.

Advertisement

Kadang aku termenung dalam rintiknya hujan ditemani dentingan parau piano yang mengajakku kembali saat kita bertemu dulu. Setiap berhasil mengajakmu bicara, aku langsung mendengarkan sebuah instrument kesukaanku. Tapi kini, instrument itu terasa menyakitkan dan terkecap pahit. Ya, seperti yang kau tahu dari kecil aku memang sudah mencintai instrumental musik. Tapi kini aku membencinya, karena akan mengingatkanku padamu.

Dalam doaku, aku meminta untuk mengembalikan kita seperti dulu. Tapi aku tersadar, siapakah aku yang hanya bisa meminta dan merengek tanpa tahu apakah memang kau dilahirkan untuk bersamaku atau tidak. Tuhan mungkin belum bosan mendengarkan doaku, atau jangan-jangan Ia sedang sengaja memintaku menunggu? Menunggu segala hal yang belum tentu sesuai dengan permintaanku sekarang.

Rasanya lucu, kadang aku membuat sebuah taruhan dengan-Nya hanya karena aku terlalu menginginkanmu kembali. Geli rasanya jika mengingat waktu itu, aku ingin membuktikan bahwa memang kaulah yang bisa bersama denganku meski hingga sekarang pun bayangan itu hanya menjadi semu dalam ingatanku.

Banyak sekali hal yang kuinginkan, kadang aku dihadapkan pada pilihan yang sulit. Aku tersadar dengan jelas kemungkinan bahwa kita bersama jauh lebih kecil dari asa, anehnya aku masih saja tetap mengharap dan merengekkanmu dihadapan Allahku.

Mungkin ini rasanya terjebak dengan cinta pertama, apa kau juga sepertiku sekarang? Pertanyaan konyol, bahkan kau tak menghubungiku lebih dulu dan selalu saja aku yang membunuh rasa gengsiku untukmu. Entahlah, memang kau tak pernah membalasku barang secuil atau kau tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Kusadari, hanya aku saja yang khawatir setengah mati ketika alam bawah sadarku menarikmu keluar dari dalamnya dasar hatiku yang sudah lama kukuburkan.

Mencintaimu adalah suatu kebanggaan yang kuimpikan, sedangkan dicintaimu adalah sebuah angan yang selalu kudambakan. Akankah segala anganku tentangmu bisa sejalan? Kadang dalam hening aku terpikir bahwa Tuhan mungkin tak akan merestui kita bersama. Tapi menjalani perasaan ini begitu menyiksa dan menyenangkan dalam satu waktu yang sama, melambung dan kemudian jatuh.

Adrenalinku seakan mencuat ke ubun saat kau bersedia meluangkan waktu membalas pesanku. Pesan seadanya, sesederhana mungkin tapi menyimpan begitu banyak rindu yang tak nampak padamu. Kau membalas dengan singkat saja sudah membuatku begitu melambung, menanyakan kabarku, mengembalikan semua pertanyaanku, dan membicarakan teman kita adalah topik yang kugunakan untuk bisa lebih dekat denganmu sekali lagi.

Sungguh kuharap bahwa Tuhan mau mengirimkan Dewi Keberuntungan dan Cupid ke dalam hubungan pertemanan kita. Tapi sedetik kemudian kembali kusadari, bahwa semua ini telah digariskan Tuhan. Bagaimana dan seberapa keras aku berusaha jika memang Allah tak menggariskan kita bersama, maka aku harus memupuskan segala harapanku untukmu.

Cinta pertamaku, apa kau bahagia? Apa kau sukses? Apa kau masih sama seperti dulu? Bagaimana postur tubuh dan garis wajahmu sekarang? Aku ingin mengetikkan pesan bahwa saat ini aku rindu padamu. Rasanya, meradang rindu akan dirimu sambil meregangkan perasaan untuk bersiap menerima kemungkinan terburuk, yakni bahwa kau bukan digariskan untukku.

Panen perasaan ini begitu dalam, begitu mengakar, begitu susah untuk menunggunya rontok. Ia bertahan pada satu akar yang sudah pernah kuhunus, ia bertahan pada satu benih yang sudah pernah coba kupendam dengan dalam, tapi kini kusadari semakin lama kupendam justru ternyata semakin parah berbuah, semakin tinggi berteluh, semakin kuat mengakar.

Cintaku, aku jatuh cinta padamu segitu dalam, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tak pernah melupakanmu, bahwa aku pernah ingin kembali padamu. Tapi aku memegang prinsip bahwa hanya Allah yang tahu seberapa besar hubungan kita, bagaimana benang merahnya, dan bagaimana simpulnya. Satu yang ingin kuungkapkan, kau takkan pernah kulupakan.

Dariku – Yang Merindumu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya